Puluhan Gempa Bumi Guncang Malang Selatan, BMKG Gencarkan Edukasi Mitigasi

Puluhan Gempa Bumi Guncang Malang Selatan, BMKG Gencarkan Edukasi Mitigasi
Ilustrasi: Suasana edukasi mitigasi gempa oleh BMKG di Malang Selatan, dengan latar retakan tanah dan bangunan terdampak yang menegaskan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat. (Istimewa)

Peweimalang.com, Kab Malang – Kawasan Malang Selatan merupakan bagian dari Kabupaten Malang yang menjadi salah satu wilayah yang paling rawan dilanda gempa bumi. Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mencatat, sebanyak 69 kali gempa bumi telah mengguncang wilayah kabupaten setempat hanya dalam kurun waktu enam bulan terakhir ini.

Sehingga dengan puluhan kali terjadi gempa di wilayah Malang Selatan, maka Stasiun Geofisika Kelas III Malang Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berkomitmen untuk semakin aktif menggelar sosialisasi dan edukasi mitigasi bencana kepada masyarakat, karena tingginya aktivitas seismik tersebut.

Bacaan Lainnya

“Salah satu langkah konkret yang diambil adalah menyasar sektor pendidikan melalui program BMKG Goes to School serta Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami,” kata Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Malang Ricko Kardoso, Senin (6/7), kepada wartawan.

Program Goes to School ini, masih dia katakan, akan dilaksanakan pada tahun ini, pada semester kedua, yakni bulan Juli hingga Desember 2026. Sedangkan saat ini, pihak BMKG masih melakukan pendataan terhadap sekolah-sekolah yang akan dikunjungi. Sehingga dirinya membuka kesempatan bagi sekolah maupun komunitas di wilayah Malang Raya yang ingin berpartisipasi dalam program edukasi ini.

“Sedangkan materi yang akan kami berikan meliputi pemetaan potensi gempa, pengetahuan dasar tentang gempa bumi, hingga langkah-langkah mitigasinya,” ujarnya.

Berdasarkan data BMKG, Ricko menjelaskan, mayoritas gempa bumi yang berpusat di Kabupaten Malang sejauh ini memiliki kekuatan di bawah magnitudo (M) 5. Peta distribusi episenter menunjukkan bahwa sebagian besar pusat gempa berada di laut selatan Pulau Jawa. Episenter tersebut muncul sebagai akibat dari aktivitas subduksi atau pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia.

Untuk memantau aktivitas tektonik itu, Stasiun Geofisika Kelas III Malang saat ini mengoperasikan sebanyak 20 sensor gempa.

“Tiga diantaranya ditempatkan langsung di titik strategis Kabupaten Malang dengan mengandalkan jaringan sensor akurat, seperti Sensor Malang Jawa Indonesia (MLJI), Sensor Gedangan Jawa Indonesia (GEJI), dan Sensor Poncokusumo Jawa Indonesia (POKJI),” terangnya.

Selain ketiga sensor lokal tersebut, lanjut dia, BMKG juga didukung oleh sensor terdekat seperti Klakah Lumajang Jawa Indonesia (KLJI). Sedangkan sistem BMKG memiliki validitas yang sangat ketat untuk menghindari kesalahan informasi. Getaran tanah baru dikategorikan sebagai gempa bumi apabila minimal enam sensor yang saling berdekatan mendeteksi getaran secara bersamaan.

“Jika hanya satu sensor yang menangkap sinyal, bisa jadi itu bukan gempa, melainkan hanya getaran dari truk yang melintas atau aktivitas lokal sejenisnya,” tandas Ricko.(*).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *