Peweimalang.com, Kota Malang – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak mengurangi pentingnya mempelajari Bahasa dan Sastra Arab. Kemampuan menerjemahkan yang dimiliki manusia masih dinilai memiliki keunggulan yang belum dapat digantikan teknologi.
Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Abdul Basid, S.S., M.Pd., mengatakan AI hanya menjadi salah satu alat pendukung dalam proses penerjemahan.
Menurutnya, penerjemahan hanyalah satu dari enam profesi yang disiapkan Prodi BSA. Selain penerjemah, mahasiswa juga dapat berkarier sebagai diplomat, pengajar, praktisi pariwisata, sineas, dan profesi lainnya.AI Belum Mampu Memahami Makna Mendalam
Abdul Basid menjelaskan bahwa industri penerjemahan saat ini memang menghadapi tantangan besar dari kehadiran AI.
Berbagai platform seperti ChatGPT, Google Translate, dan DeepL telah banyak digunakan untuk menerjemahkan teks secara cepat.
Meski demikian, hasil penerjemahan AI masih memiliki keterbatasan. Teknologi tersebut dinilai belum mampu memahami nuansa makna, konteks sosial, dan emosi yang terkandung dalam sebuah teks.
“AI belum bisa membaca feeling dan makna kontekstual secara utuh. Di situlah peran manusia masih sangat diperlukan,” ujarnya.
Ia menambahkan, setiap penerjemah dapat menghasilkan interpretasi berbeda terhadap sebuah teks. Perbedaan konotasi dan makna mendalam sering kali tidak dapat ditangkap oleh mesin.
Kondisi tersebut semakin terlihat ketika menerjemahkan karya sastra. Teks sastra membutuhkan pemahaman budaya, konteks, dan rasa bahasa yang kompleks.
Peluang Karier Penerjemah Masih Terbuka
Minat mahasiswa terhadap peminatan penerjemahan masih tergolong tinggi. Dalam satu kelas, jumlah mahasiswa peminatan penerjemahan dapat mencapai 30 hingga 40 orang.
Lulusan BSA juga masih terserap di dunia kerja. Salah satu lulusan Prodi BSA pada 2025 diterima sebagai CPNS penerjemah di Kementerian Agama RI.
Selain itu, sejumlah alumni berkarier sebagai diplomat dan praktisi hubungan internasional yang membutuhkan kemampuan multilingual.
Menurut Abdul Basid, kebutuhan penerjemah tetap relevan karena banyak pekerjaan yang membutuhkan akurasi bahasa dan pemahaman budaya.
Manuskrip Kuno dan Al-Quran Masih Diterjemahkan Manual
Prodi BSA juga membekali mahasiswa dengan kemampuan filologi dan penerjemahan manuskrip kuno.
Mahasiswa mempelajari naskah Melayu dan Indonesia yang ditulis menggunakan aksara Arab lama. Proses tersebut masih banyak dilakukan secara manual.
Kegiatan penerjemahan Al-Quran juga menjadi contoh penting. Untuk menjaga keaslian makna, proses penerjemahan tetap mengandalkan tenaga ahli manusia.
“Untuk menjaga autentisitas Al-Quran, penerjemahan tetap dilakukan oleh manusia, bukan AI,” kata Abdul Basid.
Meski teknologi terus berkembang, ia meyakini profesi penerjemah masih akan dibutuhkan dalam beberapa tahun mendatang.
Kurikulum Disesuaikan dengan Perkembangan Industri
Mahasiswa BSA tidak hanya diajarkan teori penerjemahan. Mereka juga diperkenalkan dengan berbagai aplikasi AI yang digunakan dalam industri bahasa.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa dapat memahami kelebihan dan kekurangan teknologi penerjemahan modern.
Kurikulum terus diperbarui agar selaras dengan kebutuhan dunia kerja. Namun, penyesuaian dilakukan sesuai karakter bidang sosial, bahasa, dan humaniora.
Menurut Abdul Basid, konsep industri tidak selalu identik dengan sektor manufaktur atau teknologi. Dunia pendidikan dan penerjemahan juga merupakan bagian dari ekosistem industri.
Pengajaran dan Pariwisata Jadi Peminatan Favorit
Selain penerjemahan, peminatan pengajaran dan pariwisata menjadi pilihan yang banyak diminati mahasiswa.
Prodi BSA tidak membatasi kuota peminatan tertentu. Jumlah mahasiswa pada setiap bidang disesuaikan dengan minat yang berkembang setiap tahun.
Untuk mendukung pembelajaran profesi, kampus melibatkan praktisi dari luar sebagai dosen profesional.
Mahasiswa mulai mendapatkan pembelajaran praktik profesi pada semester lima dan enam. Mereka juga didorong terjun langsung ke lapangan.
Unggul dalam Publikasi Ilmiah
Prodi BSA UIN Malang memiliki sejumlah keunggulan akademik. Program studi tersebut telah mengantongi sertifikasi internasional AUN-QA sejak 2020.
Selain itu, akreditasi internasional FIBAA dari Jerman dan akreditasi Unggul dari BAN-PT juga telah diraih.
Dalam bidang publikasi ilmiah, Prodi BSA disebut menjadi salah satu yang paling produktif di Indonesia.
Setiap tahun, ratusan karya ilmiah dihasilkan melalui kolaborasi dosen dan mahasiswa. Budaya akademik tersebut dibangun sejak mahasiswa memasuki semester lima.
Mahasiswa tidak hanya menghasilkan artikel ilmiah, tetapi juga karya sastra, artikel populer, konten digital, dan berbagai bentuk publikasi lainnya.
Ekosistem Akademik Jadi Kunci
Produktivitas publikasi tetap terjaga meski insentif penelitian tidak lagi tersedia dalam dua tahun terakhir.
Menurut Abdul Basid, kondisi tersebut terjadi karena ekosistem akademik dan budaya menulis telah terbentuk dengan kuat.
Mahasiswa dibiasakan menghasilkan karya sejak awal perkuliahan. Pendekatan itu membuat kemampuan akademik lulusan lebih siap ketika melanjutkan studi atau memasuki dunia kerja.
“Ekosistem menulis yang kuat menjadi salah satu kekuatan utama kami,” ujarnya.
Dengan kombinasi kompetensi bahasa, pemanfaatan AI, dan budaya akademik yang kuat, Prodi BSA UIN Malang optimistis mampu menghasilkan lulusan yang tetap relevan di era transformasi digital.





