Prof Abdul Hamid : Membaca Fenomena Selebrasi Gen-Z Pasca Sidang Skripsi

Prof Abdul Hamid : Membaca Fenomena Selebrasi Gen-Z Pasca Sidang Skripsi
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. H. M. Abdul Hamid, S.Ag., M.A. (Foto: Dok Pribadi)

Oleh Prof. Dr. H. M. Abdul Hamid, S.Ag., M.A.,Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Malik Ibrahim Malang

Hampir pada setiap akhir semester, kampus-kampus kembali dipenuhi suasana yang khas. Ruang-ruang sidang menjadi saksi perjuangan mahasiswa menyelesaikan tahap akhir perjalanan akademiknya. Sidang skripsi, tesis hingga sidang disertasi menjadi penanda berakhirnya sebuah proses panjang yang dipenuhi kerja keras, kegelisahan, dan pengorbanan.

Bacaan Lainnya

Hari ini, kelulusan sering kali bukan berakhir ketika sidang selesai, tetapi ketika foto terakhir selesai diunggah ke media sosial, sidang skripsi mungkin hanya berlangsung satu jam. Namun selebrasinya bisa berlangsung berhari-hari di ruang digital.

Fenomena seperti ini hampir tidak pernah dijumpai pada dekade 1980-an, 1990-an, bahkan pada awal tahun 2000-an. Mahasiswa pada masa itu tentu merasakan kebahagiaan yang sama ketika dinyatakan lulus sidang. Mereka juga bersyukur, bangga, dan lega karena berhasil menuntaskan perjuangan akademiknya. Akan tetapi, ekspresi kegembiraan itu ditunjukkan secara lebih sederhana. Tidak ada sesi pemotretan berjam-jam, tidak ada dekorasi yang dirancang khusus, apalagi rangkaian konten yang dipersiapkan untuk diunggah ke berbagai platform media sosial.

Apakah generasi sekarang lebih berlebihan? Ataukah sebenarnya mereka hanya mengekspresikan rasa syukur dengan cara yang berbeda sesuai zamannya?

Pertanyaan tersebut layak dijawab dengan kacamata sosiologis, bukan sekadar penilaian moral. Setiap generasi tumbuh dalam lingkungan sosial, budaya, dan teknologi yang berbeda. Perubahan cara merayakan kelulusan bukan semata-mata menunjukkan perubahan karakter individu, melainkan juga mencerminkan transformasi budaya yang sedang berlangsung.

Dalam perspektif Goffman, yang sedang dipertontonkan bukan hanya keberhasilan akademik, tetapi identitas sebagai pribadi yang berhasil menaklukkan perjuangan panjang.

Dalam konteks kelulusan, perayaan pasca sidang bukan sekadar ungkapan kegembiraan pribadi. Perayaan tersebut juga menjadi bagian dari proses menampilkan identitas diri. Buket bunga, balon, selempang, toga, dokumentasi profesional, hingga unggahan media sosial merupakan simbol-simbol yang menyampaikan pesan bahwa sebuah perjuangan telah berhasil dituntaskan. Simbol-simbol itu bukan hanya dinikmati oleh individu yang bersangkutan, tetapi juga dikomunikasikan kepada jejaring sosialnya.

Fenomena tersebut semakin relevan ketika ditempatkan dalam konteks masyarakat digital. Para ilmuwan sosial kontemporer menjelaskan bahwa masyarakat saat ini sedang mengalami transformasi dari culture of experience menuju culture of representation. Pada masa lalu, pengalaman dianggap selesai ketika seseorang benar-benar mengalaminya. Kini, dalam masyarakat digital, suatu peristiwa sering kali dianggap belum lengkap apabila belum didokumentasikan dan dibagikan kepada publik.

Ungkapan “no picture, it didn’t happen” secara tidak langsung menggambarkan perubahan cara masyarakat memaknai pengalaman. Dokumentasi tidak lagi sekadar menjadi arsip kenangan, tetapi telah berubah menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri. Momen kelulusan seolah memperoleh legitimasi sosial setelah hadir dalam linimasa media sosial dan mendapatkan apresiasi berupa komentar, tanda suka, maupun berbagai bentuk interaksi digital lainnya.

Dalam perspektif ini, perayaan kelulusan Gen Z bukanlah sesuatu yang perlu dipandang secara sinis. Mereka lahir dan tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital yang membentuk cara berpikir, berkomunikasi, dan membangun relasi sosial. Dunia digital merupakan ruang hidup mereka. Oleh karena itu, cara mereka merayakan keberhasilan pun secara alami mengikuti karakteristik zaman yang mereka alami.

Akan tetapi, fenomena ini juga mengandung ruang refleksi yang penting. Ketika dokumentasi menjadi bagian dari pengalaman, jangan sampai pengalaman itu sendiri kehilangan maknanya. Ketika perhatian lebih banyak diarahkan pada bagaimana sebuah momen ditampilkan, terdapat risiko bahwa substansi dari momen tersebut menjadi kurang mendapat perhatian.

Kelulusan sejatinya bukanlah garis akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan kehidupan yang jauh lebih panjang. Sidang skripsi, tesis, maupun disertasi bukanlah kemenangan yang berdiri sendiri, melainkan pengakuan bahwa seseorang telah memiliki bekal akademik untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Di sinilah pentingnya menjaga keseimbangan antara selebrasi dan refleksi. Merayakan keberhasilan adalah sesuatu yang wajar, bahkan diperlukan sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras yang telah dilakukan. Orang tua, keluarga, dosen pembimbing, dan sahabat tentu memiliki alasan untuk ikut bergembira. Namun, selebrasi sebaiknya tidak menggeser makna utama dari pendidikan itu sendiri, yaitu membangun ilmu pengetahuan, karakter, integritas, dan tanggung jawab sosial.

Perjalanan akademik sesungguhnya tidak diukur dari seberapa banyak bunga yang diterima, seberapa besar buket yang dibawa, atau seberapa ramai unggahan yang memperoleh apresiasi di media sosial. Nilai pendidikan justru terlihat dari bagaimana ilmu yang diperoleh diterjemahkan menjadi solusi bagi persoalan masyarakat, bagaimana integritas dijaga ketika menghadapi tantangan kehidupan, dan bagaimana pengetahuan digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.

Generasi Z memiliki potensi luar biasa. Mereka kreatif, adaptif terhadap teknologi, cepat belajar, dan mampu membangun jejaring secara global. Potensi tersebut akan menjadi kekuatan besar apabila dipadukan dengan kedalaman ilmu, etika akademik, serta semangat pengabdian kepada masyarakat. Media sosial dapat menjadi sarana menyebarkan inspirasi, membangun kolaborasi, dan memperluas manfaat, bukan sekadar ruang untuk mempertontonkan pencapaian.

Pada akhirnya, setiap generasi memang memiliki cara sendiri dalam merayakan keberhasilan. Kita tidak perlu membandingkan mana yang lebih baik atau lebih buruk, karena setiap zaman memiliki ekspresinya masing-masing. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa di balik setiap selebrasi tetap tumbuh kesadaran akan makna pendidikan yang sesungguhnya.

Sebab, bunga yang hari ini menghiasi kelulusan akan layu dalam beberapa hari. Balon yang mengudara perlahan akan mengempis. Kue perayaan akan habis dinikmati. Bahkan unggahan media sosial yang hari ini ramai mendapat perhatian akan segera tenggelam oleh ribuan konten baru yang terus bermunculan.

Namun, ilmu pengetahuan yang terus dikembangkan, integritas akademik yang dijaga, serta kontribusi nyata kepada masyarakat akan tetap hidup jauh setelah euforia kelulusan berakhir. Itulah perayaan sejati yang nilainya tidak lekang oleh waktu, tidak bergantung pada algoritma, dan akan selalu dikenang dalam perjalanan panjang kehidupan seorang insan terdidik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *