Perjuangan Ansor dan Banser Jangan Diabaikan sebagai Pengawal Agenda Besar Nahdlatul Ulama

Perjuangan Ansor dan Banser Jangan Diabaikan sebagai Pengawal Agenda Besar Nahdlatul Ulama
Mantan Wakil Korwil Banser Jawa Timur H Mudjib Idris. (Foto: Istimewa)

Peweimalang.com, Kab Malang – Gerakan Pemuda Ansor adalah badan otonom NU yang bergerak di bidang kepemudaan, sosial, dan keagamaan. Sementara itu, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) adalah sayap paramiliter atau badan semi-otonom GP Ansor yang berfokus pada pengamanan, operasi kemanusiaan, dan penanggulangan bencana. Kedua organisasi tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Keduanya juga memiliki peran saling melengkapi dalam menjaga marwah kiai, pondok pesantren, dan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

Namun dengan beredarnya video Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau sering disapa Gus Yahya, yang menyampaikan bahwa Organisasi GP Ansor sejak tahun 1990 tidak memiliki muka santri. Apa yang disampaikan Gus Yahya itu telah membuat sebagian kader NU yang kecewa atas pernyataan tersebut.

Salah satunya adalah mantan Wakil Koordinator Wilayah (Korwil) Banser Jawa Timur H Mudjib Idris, Sabtu (4/7), kepada wartawan, dirinya menyampaikan kekecewaannya terhadap pernyataan yang disampaikan Ketua PBNU.

Menurutnya, pernyataan tersebut telah melukai perasaan kader Ansor dan Banser yang selama ini mengabdikan diri untuk menjaga ulama dan organisasi.

Dirinya mengaku telah mengabdi sebagai anggota Ansor dan Banser selama bertahun-tahun. Ia menilai pengorbanan para kader Banser dalam mengawal berbagai agenda besar NU tidak seharusnya diabaikan.

“Saya Banser tua yang cukup lama mengabdi kepada ulama. Saya ikut mengamankan Muktamar NU berkali-kali, mulai dari Situbondo, Cipasung, Solo hingga Lampung. Kami juga berbulan-bulan membela cucu pendiri NU KH Hasyim Asy’ari yakni KH Abdurachman Wahid atau biasa dipanggil Gus Dur. Namun mengapa pengabdian itu seolah tidak dihargai,” ujarnya.

Mudjib juga mempertanyakan pernyataan yang menyebut kader Ansor kurang memiliki latar belakang kesantrian. Pernyataan tersebut sangat menyakitkan bagi para kader yang selama ini berjuang membela ulama dan menjaga marwah organisasi. Sehingga dirinya mengingatkan agar kepemimpinan PBNU tetap menjaga persatuan di lingkungan NU dan tidak mengeluarkan pernyataan yang berpotensi menimbulkan perpecahan di kalangan NU.

“Jangan membinasakan Ansor dan Banser. Jadilah Ketua PBNU, tetapi jangan mencela Ansor. Kami ini berdarah-darah membela ulama. Darah daging saya adalah NU karena didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari. Kami juga mengajak seluruh warga NU untuk menjaga persatuan dan membuktikan komitmen terhadap nilai-nilai perjuangan organisasi,” pintanya.(*).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *