Peweimalang.com, Kab Malang – Wilayah Kabupaten Malang dalam beberapa bulan terakhir ini dilanda ratusan bencana hidrometeorologi atau fenomena bencana alam yang diakibatkan oleh aktivitas parameter cuaca, seperti siklus hidrologi, curah hujan, kelembaban, temperatur, dan angin. Bencana hidrometeorologi tidak hanya terjadi saat air melimpah, melainkan juga saat terjadi kelangkaan air ekstrem.
Hidrometeorologi ada dua jenis basah dan kering. Hidrometeorologi basah seperti terjadinya banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Sedangkan hidrometeorologi kering, seperti Kekeringan meteorologis, kekurangan air bersih, serta peningkatan risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla). Sehingga dengan masuk pada musim kemarau, maka membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mulai fokus mengantisipasi bencana kekeringan.
Menurut, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (KL) BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan, Kamis (16/7), kepada wartawan, memasuki musim kemarau, kini pihaknya mengantisipasi bencana kekeringan menjadi prioritas, terutama krisis air bersih. Mengingat di Kabupaten Malang ketika musim kemarau ada sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan, yang tersebar awal di 6 kecamatan, kemudian meluas menjadi 21 desa di 7 kecamatan seiring berjalannya musim kemarau.
“Secara keseluruhan, wilayah Kabupaten Malang memiliki total 378 desa dan 12 kelurahan yang tersebar di 33 kecamatan. Jadi, desa yang mengalami krisis air bersih mencakup sebesar 3 persen hingga 5 persen dari total desa di seluruh kabupaten, dengan konsentrasi utama di wilayah Malang Selatan,” terangnya.
Dalam bencana hidrometeorologi, kata Sadono, terjadi cuaca buruk atau hujan disertai angin kencang dalam tujuh bulan terakhir ini totalnya mencapai 150 bencana, mayoritas tanah longsor. Rinciannya, 42 kali bencana angin kencang, 9 banjir, 31 kasus pohon tumbang, dan 66 kali tanah longsor, dan 2 gempa bumi. Dengan bencana gempa bumi tersebut terdapat kerusakan bangunan rumah warga. Sebenarnya selama 7 bulan tercatat 79 kal gempa, hal ini disebabkan lempeng Indo-Australia di Pantai Malang Selatan. Namun, semuanya memiliki Skala Richter (SR)yang tergolong kecil, dan tidak memberi dampak apa-apa.
“Cuaca basah semakin hari semakin berkurang, yang kini cuacanya lebih sering panas dan cerah. Sehingga BPBD saat ini fokus pada bencana kekeringan. Dan pihaknya juga mendapatkan tembusan dari Kecamatan Sumbermanjing Wetan terkait ancaman kekeringan di tiga desa wilayah kecamatan tersebut,” ujarnya.
Di kesempatan itu, Sadono juga mengatakan, untuk menghadapi transisi ke bencana kekeringan ini, BPBD Kabupaten Malang bersinergi dengan instansi terkait untuk melakukan, pemetaan zona rawan kekeringan yang mengidentifikasi kecamatan atau desa di Kabupaten Malang, yang secara historis paling cepat mengalami krisis air. Sehingga pihaknya menyediakan armada truk tangki untuk droping air bersih ke wilayah terdampak. Selain itu, BPBD juga memantau turunnya debit sumber mata air dan sumur warga.
“Jika terjadi debit mata air mengering, maka menyebabkan petani akan terancam gagal panen (puso) pada lahan sawah tadah hujan. Dan juga meningkatnya debu dan akan mengancam penyakit saluran pernapasan. Sehingga kami mengambil langkah
kesiapsiagaan yang biasanya dilakukan,” pungkasnya.(*).





