Peweimalang.com, Kota Batu – Menyambut Hari Jadi ke-25 Kota Batu pada 17 Oktober 2026, Pemerintah Kota (Pemkot) Batu menggelar tradisi ziarah ke makam para pejuang pendiri Kota Batu. Ziarah ini menjadi momentum untuk mengenang kembali sejarah panjang peralihan status Batu dari kecamatan di wilayah Kabupaten Malang bisa menjadi kota otonom.
Makam para pejuang tersebut tersebar di Kabupaten Malang, Kota Malang, Kota Batu, Kediri, hingga Jombang. Salah satu rombongan ziarah dipimpin oleh Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Batu, Arief As Siddiq, bersama pejabat dari Dinas Perhubungan dan Dinas Perizinan.
Rombongan mendatangi Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, untuk menziarahi makam almarhum H Mashuri Abdul Rochim. Tokoh ini dikenal sebagai Ketua DPRD definitif pertama sekaligus Ketua DPD Golkar pertama di Kota Batu. Usai doa bersama dan tabur bunga, rombongan bertamu ke kediaman keluarga almarhum yang disambut hangat oleh sang adik, Muji Leksono.

Jembatan Perjuangan Otonomi
Sejarah mencatat, bahwa Batu semula hanyalah kecamatan penghasil apel di wilayah Kabupaten Malang. Dengan seiring pesatnya potensi ekonomi dan pariwisata, muncul dorongan kuat dari tokoh masyarakat, ulama, dan pemuda agar Batu memiliki pemerintahan sendiri. Pokja dan Presidium Perjuangan Peningkatan Status Kecamatan Batu pun dibentuk. Setelah berjuang hampir enam tahun, status Batu naik menjadi Kota Administratif (Kotatif) pada 6 Maret 1993 melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 12 Tahun 1993.
Namun, perjuangan tidak berhenti di situ. Pokja terus beralih mendorong kemandirian penuh sebagai kota otonom. Di sinilah peran vital Mashuri Abdul Rochim terukir. Saat masih menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Malang asal Batu, Mashuri menjadi jembatan diplomasi yang mempermudah rantai birokrasi yang panjang. Ia menghubungkan aspirasi Pokja ke tingkat Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, hingga DPR RI di Jakarta melalui jaringan partainya.
“Kalau Pokja buntu di kabupaten, kakak saya yang carikan jalan ke provinsi. Kalau buntu di provinsi, beliau carikan jalan ke DPR RI, dan beliau sebagai jembatannya,” kenang Muji Leksono.
Perjuangan itu membuahkan hasil dengan melalui Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2001, Kotatif Batu resmi berganti status menjadi Kota Batu yang otonom pada 30 Juni 2001. Peresmiannya dirayakan pada 17 Oktober 2001, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Batu.
Fondasi Pembangunan dan Cita-Cita Terpendam
Setelah Kota Batu berdiri, Mashuri dilantik sebagai Ketua DPRD Kota Batu pertama (definitif) menggantikan Abdul Kadir yang sempat menjabat sebagai Ketua DPRD sementara.
Selama memimpin legislatif, Mashuri meletakkan empat gagasan besar yang menjadi fondasi Kota Batu hingga kini:
Seperti gedung DPRD Mandiri, yang menggagas perlunya gedung dewan sebagai simbol kedaulatan rakyat. Penamaan Ruangan Gedung Dewan, dengan menggunakan nama-nama tokoh pejuang otonomi agar generasi penerus selalu mengenang sejarah. Aset Rumah Singgah, sebagai pengadaan aset di Jakarta untuk rumah singgah Pemkot Batu. Gedung Balai Kota Among Tani, sebagai pencetus awal ide pusat pemerintahan terpadu yang kini direalisasikan dan menjadi kebanggaan warga Batu.
Selain karya monumental tersebut, terkuak pula cita-cita mulia almarhum yang belum sempat terwujud, yakni sangat mendambakan hadirnya rumah sakit gratis bagi warga Kota Batu.
“Cita-cita kakak saya sejak awal adalah warga Batu jangan sampai susah berobat, karena tidak punya uang. Beliau ingin ada rumah sakit gratis milik Pemkot Batu sendiri,” ungkap Muji dengan penuh haru.
Harapan Pembukuan Sejarah di Usia 25 Tahun
Memasuki usia seperempat abad Pemkot Batu, keluarga besar almarhum berharap pemerintah dapat menerbitkan buku sejarah resmi mengenai perjuangan pendirian Kota Batu. Hal ini dinilai penting, karena minimnya literasi sejarah lokal bagi generasi muda.
“Kami khawatir sejarah terlupakan. Karena anak-anak muda sekarang tahu Batu adalah kota wisata, tetapi tidak tahu betapa sulitnya proses perjuangan dahulu. Perlu ada buku resmi agar anak cucu tahu,” tutur Muji.
Penghormatan tinggi juga datang dari mantan Sekretaris (Sekda) Kota Batu yang kini menjabat sebagai Asisten III Zadim Efisiensi. Ia menegaskan, bahwa peran penting almarhum H Mashuri Abdul Rochim telah peletakan batu pertama birokrasi politik kota.
“Beliau adalah Ketua DPRD Kota Batu terhebat hingga saat ini,” tegas Zadim.
Menanggapi aspirasi tersebut, Kadis Perkim Kota Batu Arief As Siddiq menyambut positif dan berjanji akan menyampaikan usulan tersebut kepada pimpinan sebagai kado peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Batu.(*).





