Peweimalang,com, Mekkah – Kesederhanaan Presiden Pantai Gading, Alassane Ouattara, saat menunaikan ibadah haji di tanah suci Mekkah menjadi sorotan publik internasional. Karena sosok kepala negara tersebut tertangkap kamera sedang berbaring di atas tanah bersama jutaan jemaah haji lainnya, tanpa pengawalan ketat maupun fasilitas mewah. Foto dan video yang memperlihatkan momentum itu mendadak viral di berbagai platform media sosial (medsos).
Sehingga banyak warganet yang takjub dan mempertanyakan keberadaan protokoler kepresidenan yang biasanya melekat pada seorang kepala negara. Dimana pengawalnya?, hal ini menjadi salah satu pertanyaan yang paling banyak diperbincangkan netizen. Presiden Ouattara sengaja menunaikan rukun Islam kelima ini menggunakan biaya pribadi. Ia juga dilaporkan menolak berbagai fasilitas kenegaraan, serta akomodasi mewah yang lazimnya disediakan oleh Pemerintah Arab Saudi untuk tamu negara dan pejabat tinggi dunia.
Langkah Presiden Alassane Ouattara yang memilih membaur tanpa iring-iringan besar dan tanpa sekat pembatas ini memicu kekaguman luar biasa, baik dari sesama jemaah di lokasi maupun publik di dunia maya. Momentum ibadah haji kerap menjadi pengingat universal bahwa seluruh manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Tuhan, tanpa memandang jabatan, kekuasaan, maupun status sosial.
Presiden Pantai Gading ini dikenal sebagai figur pemimpin yang sukses membawa perubahan besar bagi negaranya. Beberapa capaian signifikan Pantai Gading di bawah kepemimpinannya, seperti bisa membawa negara pada stabilitas Politik, yang mana telah berhasil memulihkan keamanan dan rekonsiliasi pasca konflik. Sedangkan negara tersebut secara signifikan mendorong dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di kawasan Afrika Barat.
Selain itu, juga meningkatkan pembangunan infrastruktur dan kesejahteraan rakyatnya, yakni mengakselerasi pembangunan fasilitas publik dan memperbaiki taraf hidup masyarakat secara berkelanjutan. Sehingga dengan aksi bersahaja Sang Presiden di tanah suci dalam menjalankan ibadah hadi nilai banyak pihak sebagai cerminan nyata dari sikap rendah hati seorang pemimpin. Dan momentum ini sekaligus menjadi pesan kuat tentang kesetaraan umat manusia saat menjalankan ibadah.(*).
Penulis: Redaksi




