Peweimalang.com, Kab Malang – Wilayah Malang Raya kini memasuki fenomena yang biasa disebut masyarakat Jawa sebagai musim bediding atau musim dingin. Meskipun Indonesia secara umum adalah negara tropis yang hanya punya musim hujan dan kemarau, Malang juga mempunyai karakteristik unik, karena faktor geografisnya. Sedangkan bagi masyarakat Malang Raya, fenomena musim bediding sudah tidak asing lagi, namun seringkali kedatangannya tetap membuat kita kaget dengan suhunya yang ekstrem.
Fenomena tersebut, kata Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Sadono Irawan, Kamis (4/6), kepada wartawan, biasanya mulai terasa di bulan Juni dan mencapai puncaknya pada bulan Agustus. Secara ilmiah, musim bediding terjadi saat m emasuki musim kemarau, karena tutupan awan di langit sangat minim.
“Tanpa awan, panas matahari yang diserap bumi pada siang hari akan langsung dilepaskan kembali ke atmosfer secara utuh pada malam hari, membuat suhu udara drop drastis hingga terasa menusuk tulang pada malam dan pagi hari,” jelasnya.
Agar kondisi tubuh tetap fit dan nyaman beraktivitas, masih dia menjelaskan, maka ada beberapa langkah antisipasi yang bisa kita lakukan, seperti jaga kehangatan tubuh dan siapkan kembali jaket tebal, sweater, kaos kaki, dan selimut hangat. Ini waktu yang tepat untuk mengeluarkan persenjataan pada musim dingin ini. Sementara, dengan udara kering disaat bedinding, berdampak pada kelembapan kulit yang sering membuat kulit bersisik dan bibir pecah-pecah, sehingga gunakan body lotion dan lip balm secara teratur. Selain itu, untuk menjaga tubuh juga dibutuhkan kecukupan minum air agar tercukupi kebutuhan cairan biar tidak dehidrasi, serta tercukupi asupan nutrisi dan vitamin.
Menurut Sadono, ada anggapan yang salah melawan fakta pada sebagian masyarakat, banyak yang mengira bahwa musim bedinding karena bumi menjauh dari matahari (Aphelion). Padahal, penyebab utamanya adalah angin Muson Australia. Saat ini, Australia sedang mengalami musim dingin, dan tekanan udara yang tinggi di sana mengalirkan massa udara dingin dan kering menuju Indonesia. Sedangkan suhu dingin ekstrem di wilayah dataran tinggi, dan bagi warga yang tinggal di daerah yang lebih tinggi seperti di wilayah Kota Batu, Poncokusumo maupun Pujon, Kabupaten Malang suhu udara bisa menjadi jauh lebih dingin dibandingkan wilayah Kota Malang. “Di kawasan tertentu bahkan berpotensi muncul frost (embun upas) jika suhu mendekati 0 derajat celcius (°C),” terangnya.
Dia juga menyampaikan, di saat musim kemarau langit terlihat bersih (Clear Sky), awan sangat jarang terbentuk tanpa adanya selimut awan. Dan panas matahari yang diserap bumi pada siang hari akan langsung dilepaskan kembali ke atmosfer secara drastis pada malam hari. Akibatnya, suhu udara drop secara signifikan menjelang pagi. Selain itu, Malang ini berada di dataran tinggi 400–600 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi pegunungan. Hal ini membuat suhu udara di Malang jauh lebih dingin dibanding kota-kota pesisir seperti Surabaya.
“Pada puncaknya di bulan Agustus nanti, suhu di Malang terutama Kabupaten Malang bagian atas yakni di wilayah Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo suhu udara bisa menyentuh angka belasan derajat Celcius di malam dan pagi hari,” pungkas Sadono.(*).





