Peweimalang.com, Kabupaten Malang – Alokasi dana hibah senilai Rp550 juta yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Malang Tahun Anggaran 2025 kepada Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) memicu sorotan publik.
Di tengah desakan uji transparansi penggunaan anggaran dari pos Dana Alokasi Umum (DAU) tersebut, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang memberikan penjelasan komprehensif terkait rincian program dan efektivitas dampaknya bagi perajin di akar rumput.
Kepala Disperindag Kabupaten Malang, Astri Lutfiatunnisa, menegaskan bahwa Dekranasda merupakan organisasi nirlaba yang berfungsi sebagai wadah untuk menghimpun, memayungi, membina, serta mengembangkan produk kerajinan lokal.
Organisasi ini berkedudukan sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam memajukan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya pada industri kreatif dan Kriya atau craft.
“Dekranasda itu salah satu organisasi yang mewadahi pengrajin, baik pengrajin batik, kriya, maupun fesyen,” ujar Astri, saat ditemui awak media diruang kerjanya, Jumat 4 September 2026.
Astri mencontohkan salah satu program ikonik yang telah berjalan adalah inisiasi Batik Garuda oleh Ketua Umum Dekranasda Kabupaten Malang, Hj. Anis Zaidah Sanusi, atau biasa disapa Umik Anis.
“Dengan adanya program utama itu menjadi ikon batik khas Kabupaten Malang, dan menjadi identitas baru Kabupaten Malang,” jelasnya.
Terlebih, lanjut Astrid, keberadaan batik khas ini tidak hanya menjadi identitas baru bagi Kabupaten Malang, tetapi juga berdampak langsung pada perputaran ekonomi perajin lokal menyusul kebijakan kewajiban mengenakan Batik Garuda bagi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Malang.
“Batik khas Kabupaten Malang ini bisa meningkatkan perekonomian para perajin, apalagi, ASN Pemkab Malang diwajibkan memakai batik itu,” terangnya.
Selain sektor batik, tambah Astri, anggaran tersebut juga dialokasikan untuk pengembangan fesyen dan kriya aksesoris.
“Jadi, Disperindag bersama Dekranasda rutin menggelar pelatihan lanjutan dengan mempertemukan langsung perajin dan penjahit lokal dengan desainer profesional. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas corak, desain, serta menekan angka pemborosan bahan baku produksi,” ulasnya.
Sedangkan, Astri menegaskan, untuk memperluas penetrasi pasar, para perajin juga difasilitasi untuk mengikuti berbagai ajang pameran, baik tingkat regional maupun nasional.
“Kalai soal promosi itu, kami turut diarahkan untuk menjangkau wisatawan mancanegara, seperti yang dilakukan melalui partisipasi dalam peluncuran logo hari jadi daerah yang dihadiri oleh wisatawan asing,” tegasnya.
Terkait distribusi pembinaan, Astri memastikan bahwa program pelatihan dan pengembangan disalurkan secara merata di 33 kecamatan di Kabupaten Malang.
“Untuk penentuan peserta itu didasarkan pada tingkat keseriusan melalui seleksi alam dari berbagai program pelatihan sebelumnya,” tukasnya.





