Anugerah Kebudayaan PWI Pusat Berikan Kado Spesial Tahun Baru pada Wali Kota Malang
- calendar_month Kam, 1 Jan 2026

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat (tengah) saat menerima penghargaan dari Kementerian Hukum Republik Indonesia.
Peweimalang.com, Jakarta – Sepuluh Bupati/Wali Kota diberbagai provinsi di Indonesia saat merayakan malam Tahun Baru 2026 bersama warga mendapat kado spesial dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat. Sedangkan kado itu berupa pengumuman babak presentasi, yang merupakan babak terakhir dari serangkaian proses untuk mendapatkan Anugerah Kebudayaan PWI Pusat, pada puncak perayaan Hari Pers Nasional (HPN), di Banten, 9 Februari 2026 mendatang.
Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat Yusuf Susilo Hartono, Kamis (1/1), dalam rilisnya mengatakan, kesepuluh kepala daerah tersebut dipilih oleh Dewan Juri, setelah menilai berkas proposal, dengan lampirannya yang banyak. Berupa video, PPKD, perda, link berita, foto-foto dokumentasi, dan lain-lain.
“Keseluruhan berkas bisa puluhan sampai ratusan halaman. Dan untuk mendalami lebih lanjut kebenaran proposal dan lampirannya itu, masing-masing Bupati/Wali Kota diundang presentasi secara langsung di PWI Pusat,” tuturnya.
Dijelaskan, Dewan Juri AK PWI – HPN 2026 terdiri 5 orang, berasal dari dalam dan luar PWI Pusat, yakni Dr. Nungki Kusumastuti yang juga sebagai dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ), penari dan artis film, Agus Dermawan T sebagai pengamat dan penulis seni budaya, dan juga penerima Anugerah Kebudayaan RI, Sudjiwo Tejo sebagai seniman, budayawan, mantan wartawan, yang juga anggota Tim Pakar PWI Pusat, Akhmad Munir Direktur Lembaga Kantor Berita (LKB) dan juga sebagai Ketua Umum PWI Pusat periode 2025-2030), Yusuf Susilo Hartono wartawan senior, pelukis dan penyair, dan Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat.
Ke-10 kepala daerah tersebut, terang Yusup, terdiri tiga Wali Kota, yakni Wali Kota Malang, Provinsi Jawa Timur (Jatim) Wahyu Hidayat, Wali kota Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim) Andi Harun, dan Wali kota Mataram Nusa Tenggara Barat (NTB) Mohan Roliskana. Adapun tujuh yang lain para bupati, masing-masing Bupati Lampung Utara, Provinsi Lampung Hamartoni Ahadis, Bupati Temanggung Jawa Tengah (Jateng) Agus Setiawan, Bupati Manggarai Heribertus Geradus Laju Nabit, Bupati Blora Jateng Arief Rohman, Bupati Labuhanbatu Sumatera Utara Maya Hasmita, Bupati Manokwari Papua Barat Hermus Indou, dan Bupati Padang Pariaman Sumatera Barat John Kennedy.
“Presentasi itu nanti, masih dia terangkan, Dewan Juri akan mendalami sesuai topik yang diajukan. Aspek penilaiannya meliputi penguasaan materi, gaya dan teknik presentasi, dan sarana atau peraga pendukung, waktu presentasi akan berlangsung pada tanggal 8-9 Januari 2026,” ujarnya.
Pada hari pertama, kata dia, didahului dengan silaturahmi para Bupati/Wali Kota dengan Pengurus PWI Pusat dan para tokoh pers, ditutup dengan pengundian nomor urut dan foto bersama untuk kepentingan buku acara. Kemudian pada hari kedua, presentasi berdasarkan nomor urut yang ada. Sedangkan dalam presentasi itu nanti, Dewan Juri akan mendalami sesuai topik yang diajukan. Aspek penilaiannya meliputi penguasaan materi, gaya dan teknik presentasi, dan sarana atau peraga pendukung. Memang pada saat presentasi, Bupati/Wali Kota dibolehkan membawa rombongan, yang terdiri dari kepala dinas terkait, tokoh masyarakat, dan pengurus PWI Provinsi/Kota/Kabupaten.
“Tapi mereka tidak boleh membantu bicara, hanya sebagai saksi,” ujarnya.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat bersama Wakil Wali Kota Malang dan jajaran melakukan sidak kebutuhan pangan di sejumlah pasar
Yusup juga menyampaikan, AK PWI Pusat 2026 mengangkat tema “Pemajuan Kebudayaan Daerah yang Inklusif dan Berkelanjutan, Berbasis Media dan Pers”. Dari tiga sub tema yang ditawarkan, kebanyakan Bupati/Wali Kota memilih sub tema, yakni “Penguatan keragaman ekspresi budaya dan interaksi budaya inklusif”. Melalui potensi budaya masing-masing, yang terkait dengan 10 Objek Pemajuan Kebudayaan, yang ada dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dalam penilaian Dewan Juri, menyoroti aspek inovasinya apa, dan dampaknya sejauh mana pada masyarakat lokal, nasional dan global.
Lebih jauh Yusuf menjelaskan, AK PWI Pusat telah berlangsung sejak HPN 2016 di Lombok, NTB. Dari sekitar 50 Bupati/Wali Kota sebagai alumni Anugerah Kebudayaan PWI Pusat, antara lain Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang kini menjabat Gubernur Jawa Barat (Jabar), Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas juga mantan Menteri PANRB, Wali kota Surabaya Eri Cahyadi, Bupati Malang HM Sanusi, dan ada pula yang dianulir karena tertangkap KPK. Pada AK PWI Pusat di tahun ini, selain kategori Bupati/Wali Kota, ditambah satu kategori rintisan, yaitu “Wartawan dan Komunitas”. Kategori ini menitik beratkan pada kinerja jurnalistik dan kegiatan seni budaya yang digeluti paling kurang selama 10 tahun, dengan dampaknya nasional hingga internasional.
Mereka, kata dia, mendaftar dengan mengirim proposal, CV, copy kartu pers, bukti tulisan, foto/video kegiatan, dan piagam-piagam. Selain dari berbagai daerah di Pulau Jawa, pesertanya juga dari Pulau Sumatera. Dan Dewan Juri telah menetapkan tiga wartawan senior yang akan menerima penghargaan ini. Masing-masing Rahmi Hidayati Tangerang Selatan (Tangsel) mantan wartawan Bisnis Indonesia, yang berkiprah sebagai Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) yang tutut perempuan mengangkat kebaya meraih warisan tak benda dunia UNESCO.
“Lalu Seno Joko Suyono (Jakarta/Bekasi), mantan wartawan Tempo, dengan komunitas Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF), dan Henri Nurcahyo (Surabaya) penggerak komunitas Panji dengan jaringannya sampai Asia dan internasional, serta turut berjuang sehingga Panji meraih warisan dunia tak benda dunia UNESCO,” pungkas Yusup.(*).
- Penulis: Redaksi
- Editor: PWI Malang Raya











Saat ini belum ada komentar