Pendidikan Transisi Penerbang Super Tucano, Danlanud Tekankan Disiplin dan Keselamatan

Pendidikan Transisi Penerbang Super Tucano, Danlanud Tekankan Disiplin dan Keselamatan
Danlanud Abd Saleh saat menyematkan badge pada penerbang Super Tucano. (Foto: Pentak Abd Saleh)

Peweimalang.com, Kab Malang – Menjadi penerbang tempur tidak cukup hanya dengan kemampuan menerbangkan pesawat. Di balik setiap penerbangan, ada proses panjang yang menuntut disiplin, ketelitian, penguasaan teknologi, hingga keberanian mengambil keputusan dalam situasi yang penuh tantangan.

Pesan itu kembali ditekankan Komandan Lanud Abdulrachman Saleh, Marsma TNI Reza R.R. Sastranegara, S.Sos., M.A.P., MNSS., saat menutup Pendidikan Transisi Angkatan ke-18 sekaligus membuka Pendidikan Transisi Angkatan ke-19 penerbang pesawat EMB-314 Super Tucano Skadron Udara 21.

Kegiatan berlangsung di Shelter Skadron Udara 21, Lanud Abdulrachman Saleh, Rabu (23/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Reza menegaskan tidak ada jalan pintas untuk membentuk penerbang tempur yang profesional dan andal. Setiap penerbang harus melewati rangkaian pendidikan dan latihan sebelum benar-benar siap menjalankan tugas operasional.

Pendidikan Transisi menjadi salah satu tahapan penting karena para penerbang tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mengenali karakteristik pesawat yang akan mereka operasikan.

“Berakhirnya pendidikan ini bukan merupakan akhir dari proses belajar, tetapi menjadi bekal awal untuk terus mengasah kemampuan dan menghadapi tantangan tugas ke depan,” ujar Reza.

Dua penerbang, yakni Letda Pnb Fahmy Reyhansyah, S.Tr.Han., dan Letda Pnb Farhan Ramadhan, S.Tr.Han., dinyatakan berhasil menyelesaikan Pendidikan Transisi A-18.

Bagi keduanya, kelulusan tersebut menjadi pijakan baru sebelum menghadapi tanggung jawab yang lebih besar di Skadron Udara 21. Reza menyebut pencapaian itu tidak lepas dari kerja keras, motivasi, semangat juang, dan disiplin yang dijalankan selama mengikuti pendidikan.

Di sisi lain, Reza mengingatkan para penerbang Skadron Udara 21 agar tidak berhenti meningkatkan kemampuan setelah menyelesaikan pendidikan. Kesiapan operasional harus dijaga, sementara setiap tugas harus dilaksanakan dengan profesional dan penuh tanggung jawab.

Faktor keselamatan penerbangan juga menjadi perhatian utama. Sebab, kemampuan teknis seorang penerbang harus berjalan beriringan dengan kedisiplinan dalam menjalankan prosedur.

Pesan serupa disampaikan kepada dua peserta Pendidikan Transisi A-19, Letda Pnb Rizky Hafiz Maulana, S.Tr.Han., dan Letda Pnb M. Noufal Arifian, S.Tr.Han.

Reza meminta keduanya menjalani pendidikan dengan sungguh-sungguh, penuh konsentrasi dan dedikasi. Mereka juga didorong aktif berdiskusi dengan instruktur, terutama ketika menemukan materi yang belum dipahami.

“Jangan ragu untuk bertanya kepada para instruktur terhadap materi yang belum dipahami, laksanakan setiap tahapan sesuai prosedur, dan manfaatkan kesempatan pendidikan ini dengan sebaik-baiknya,” pesannya.

Serah terima tahapan pendidikan itu ditandai dengan penyematan badge kepada dua lulusan Pendidikan Transisi A-18. Sementara pembukaan Pendidikan Transisi A-19 ditandai dengan penyematan tanda peserta kepada dua penerbang yang akan menjalani pendidikan.

Selanjutnya, Pendidikan Transisi A-19 dilaksanakan di Skadron Udara 21. Para peserta akan menjalani serangkaian pembelajaran dan latihan untuk memperkuat kemampuan, keterampilan, serta pemahaman dalam mengoperasikan EMB-314 Super Tucano.

Di balik proses tersebut, ada satu hal yang terus ditekankan: kemampuan menerbangkan pesawat harus selalu berjalan bersama disiplin, kepatuhan terhadap prosedur dan kesadaran bahwa keselamatan menjadi bagian penting dari setiap misi penerbangan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *