Peweimalang.com, Kab Malang – Puluhan pemusik dari berbagai desa di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang berkumpul dalam forum diskusi yang diselenggarakan oleh Komunitas Musisi Tumpang Music Community (TMC) bersama musisi nasional dan gitaris legendaris Emmanuel Herry Hertoto atau biasa dipanggil Totok Tewel, yang dikenal luas sebagai gitaris untuk grup musik Elpamas, Swami, hingga Kantata Takwa. Forum diskusi digelar sederhana dengan lesehan di salah satu warung di wilayah desa Tumpang, yang membahas tantangan dan masa depan industri musik lokal, paa Senin (13/7) malam.
Di hadapan puluhan musisi lintas genre, mulai dari pop, rock, dangdut, hingga keroncong Totok Tewel merasa mendapat penghormatan yang luar biasa dari para musisi muda Desa Tumpang yang punya visi misi untuk memperkuat ekosistem musik di wilayah Malang Timur, Kabupaten Malang.
Dalam diskusi ini, Totok Tewel membagikan pengalaman 40 tahun lebih berkiprah di industri musik Indonesia. Ia menekankan pentingnya regenerasi dan kolaborasi antar musisi daerah.
Selain berbagi pengalaman, diskusi juga membahas sejumlah isu krusial. Mulai dari minimnya ruang pertunjukan, sulitnya akses rekaman profesional, hingga strategi promosi musik di era digital dan media sosial.
“Kuncinya konsisten dan terus belajar. Musisi daerah punya potensi besar, tinggal bagaimana kita menatanya dan berani tampil,” ujar Totok Tewel.
Sementara itu, Ketua TMC Heksa menyebut, forum ini jadi langkah awal untuk memetakan masalah dan menyatukan musisi Tumpang. Dengan harapan agar ada program lanjutan, seperti workshop atau festival musik Tumpang.
Dalam diskusi TMC dengan Totok Tewel, juga digelar sesi jamming bersama antara Totok Tewel dan para musisi loka; sebagai penutup acara diskusi.
Menurutnya, ada beberapa peserta mengaku termotivasi setelah mendapat masukan langsung dari sang legenda. Karena di wilayah Kecamatan Tumpang dikenal memiliki banyak grup musik dan talenta muda.
“Lewat diskusi ini, diharapkan lahir sinergi baru yang bisa mengangkat musik lokal ke kancah yang lebih luas,” paparnya.





