Zona Nyaman: Terlena di Bangku Kuliah, Panik Menjelang Wisuda

Zona Nyaman: Terlena di Bangku Kuliah, Panik Menjelang Wisuda
Dr.H.Miftahul Huda, SHI.,M.H, Dosen Fakultas Syariah UIN Malang. (Foto: dok pribadi)

Oleh : Dr.H.Miftahul Huda, SHI.,M.H

(Dosen Fakultas Syariah UIN Malang)

Ada masa ketika kita merasa masih memiliki banyak waktu.

Semester demi semester berlalu. Tugas datang dan pergi, ujian selesai, libur tiba, lalu perkuliahan kembali dimulai. Semuanya berjalan seperti biasa. Kehidupan setelah kuliah terasa begitu jauh sehingga persiapannya selalu bisa ditunda.

Nanti saja. Masih ada waktu

Sampai suatu hari, kalender mengingatkan bahwa wisuda sudah di depan mata.

Toga yang dahulu terasa seperti sebuah tujuan tiba-tiba berubah menjadi sebuah pertanyaan: “Setelah ini, saya mau ke mana?”

Pertanyaan sederhana itu bisa terasa menakutkan ketika selama bertahun-tahun kita terlalu nyaman berada di tempat yang sudah dikenal.

Zona nyaman merupakan kondisi ketika seseorang merasa aman karena menjalani rutinitas yang familiar, mudah diprediksi, dan relatif minim tekanan. Berada di dalamnya bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk.

Zona nyaman memberi kita ruang untuk beristirahat, memulihkan diri, dan menjalani sesuatu yang sudah kita pahami.

Namun, kenyamanan dapat menjadi persoalan ketika membuat kita berhenti bertumbuh.

Kita mulai terbiasa menunggu tugas datang, menunggu instruksi, menunggu kesempatan, bahkan menunggu sampai merasa benar-benar siap untuk melakukan sesuatu. Padahal, dunia setelah perkuliahan tidak selalu memberi kita kemewahan untuk menunggu.

Ketika Zona Nyaman Berubah Menjadi Zona Panik

Semakin dekat dengan wisuda, berbagai pertanyaan yang selama ini ditunda mulai muncul bersamaan.

Apakah saya sudah siap bekerja? Apakah ilmu yang saya miliki cukup? Kemampuan apa yang sebenarnya saya punya? Mau ke mana setelah lulus? Bagaimana jika saya belum mendapatkan pekerjaan? Bagaimana jika dunia profesional tidak seperti yang saya bayangkan?

Di titik itulah zona nyaman dapat berubah menjadi zona panik.

Namun, kepanikan tersebut tidak selalu berarti kita tidak mampu. Bisa jadi, kita hanya belum terbiasa menghadapi ketidakpastian.

Selama berada di bangku kuliah, sebagian besar perjalanan kita memiliki struktur yang jelas. Ada jadwal, tugas, ujian, dosen, dan kurikulum yang memberi arah. Setelah lulus, sebagian struktur tersebut hilang. Kita dituntut menentukan langkah sendiri.

Kehidupan setelah kuliah juga tidak selalu menghadirkan persoalan dengan jawaban sederhana. Dunia kerja, misalnya, mempertemukan kita dengan berbagai tuntutan, karakter manusia, perubahan, persaingan, serta situasi yang tidak selalu dapat diprediksi.

Karena itu, menjadi seorang sarjana tidak cukup hanya dengan memiliki nilai akademik yang baik atau memahami teori yang dipelajari selama kuliah. Kita juga perlu belajar berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, menyelesaikan masalah, menghadapi perbedaan pendapat, mengambil keputusan, dan beradaptasi dengan perubahan.

Kemampuan-kemampuan tersebut tidak selalu tumbuh dari buku dan ruang kelas.

Ia tumbuh ketika kita berani masuk ke ruang yang belum kita kenal.

Mengikuti organisasi, menjadi bagian dari kepanitiaan, menjalani magang, mengikuti kompetisi, melakukan penelitian, terlibat dalam kegiatan sosial, berdiskusi dengan orang yang memiliki pandangan berbeda, atau sekadar berani berbicara di depan banyak orang merupakan bentuk latihan untuk menghadapi ketidakpastian.

Di sana kita belajar bahwa tidak semua hal berjalan sesuai rencana.

Kita mungkin melakukan kesalahan, mendapat kritik, mengalami penolakan, atau merasa tidak cukup baik. Namun, justru melalui pengalaman-pengalaman tersebut, kemampuan dan ketangguhan perlahan terbentuk.

Keluar dari zona nyaman bukan berarti kita harus sengaja mencari kesulitan atau memaksakan diri berada dalam tekanan. Bukan pula berarti semakin jauh seseorang dari rasa nyaman, semakin baik proses pertumbuhannya.

Yang lebih penting adalah memperluas batas kemampuan secara bertahap.

Sesuatu yang hari ini terasa menakutkan bisa menjadi hal biasa setelah kita berani mencobanya berkali-kali. Berbicara di depan kelas, misalnya, mungkin awalnya membuat gugup. Namun, setelah beberapa kali dilakukan, kita mulai terbiasa.

Begitu pula dengan memimpin kegiatan, mengikuti kompetisi, menghadapi wawancara, membangun relasi, atau menerima tanggung jawab baru.

Kita tidak sedang meninggalkan zona nyaman.

Kita sedang memperluasnya.

Jangan Menunggu Sampai Wisuda

Sayangnya, banyak mahasiswa baru menyadari pentingnya pengalaman dan keterampilan ketika wisuda sudah begitu dekat.

Kita baru sibuk mencari pengalaman ketika CV mulai dibutuhkan. Baru memikirkan keterampilan ketika lowongan pekerjaan meminta kemampuan yang belum kita kuasai. Baru bertanya tentang masa depan ketika masa kuliah hampir selesai.

Padahal, masa mahasiswa justru merupakan ruang yang relatif aman untuk mencoba, gagal, belajar, dan mencoba kembali.

Kita tidak harus sudah mengetahui secara pasti akan menjadi apa lima atau sepuluh tahun ke depan. Tidak semua orang memiliki peta kehidupan yang lengkap.

Namun, kita bisa mulai bertanya kepada diri sendiri:

“Kemampuan apa yang perlu saya bangun hari ini agar lebih siap menghadapi hari esok?”

Jawabannya tentu berbeda bagi setiap orang.

Ada yang perlu belajar berbicara. Ada yang perlu memperkuat kemampuan menulis. Ada yang perlu memperluas jaringan. Ada yang membutuhkan pengalaman praktis. Ada pula yang masih perlu mengeksplorasi bidang yang ingin ditekuni.

Tidak ada satu jalan yang berlaku untuk semua mahasiswa.

Yang penting, jangan sampai kenyamanan membuat kita berhenti bergerak.

Wisuda bukan garis akhir. Ia justru menjadi pintu menuju kehidupan yang menuntut kita untuk lebih mandiri.

Tidak selalu ada dosen yang mengingatkan tenggat waktu. Tidak selalu ada silabus yang memberi tahu apa yang harus dipelajari. Tidak selalu ada kisi-kisi yang menjelaskan persoalan apa yang akan kita hadapi.

Dunia setelah kuliah menuntut kita untuk mampu belajar sendiri, membaca keadaan, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan beradaptasi dengan perubahan.

Karena itu, jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar gelar hingga lupa mempersiapkan diri menjadi seseorang yang mampu menjalani kehidupan setelah gelar tersebut diperoleh.

Jangan sampai ijazah lebih siap daripada diri kita sendiri

Keluar dari zona nyaman memang membutuhkan keberanian. Ada rasa aman yang harus sedikit kita tinggalkan untuk berhadapan dengan ketidakpastian. Dalam prosesnya, kita mungkin gagal, merasa malu, mengalami penolakan, atau bahkan sempat meragukan kemampuan diri sendiri. Namun, justru dari pengalaman-pengalaman itulah kita belajar, bertumbuh, dan membangun ketangguhan.

Dalam Islam, perubahan juga tidak hanya berbicara tentang keinginan, tetapi tentang ikhtiar. Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan membutuhkan langkah. Kita tidak harus mengetahui seluruh jalan yang akan ditempuh, tetapi kita dapat mulai mempersiapkan diri, mencoba hal baru, dan melakukan apa yang mampu kita lakukan hari ini.

Karena itu, sebelum wisuda benar-benar tiba dan zona nyaman berubah menjadi zona panik, mungkin sudah waktunya kita mulai melangkah. Tidak perlu menunggu sampai merasa sepenuhnya siap, sebab kesiapan sering kali tidak datang sebelum kita mencoba. Kita justru menjadi lebih siap setelah berani mengambil langkah pertama.

Jangan takut hanya karena sesuatu terasa sulit. Bisa jadi, di balik rasa takut dan ketidakpastian itulah kita menemukan pengalaman baru, mengenali kemampuan diri, dan memulai cerita yang selama ini belum pernah kita tulis.

Sebab, terkadang kita bukan menjadi siap lalu berani melangkah. Kita justru menjadi siap karena berani melangkah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *