Garam Tunnel Pantai Modangan Jadi Harapan Baru Ekonomi Pesisir Kabupaten Malang

Garam Tunnel Pantai Modangan Jadi Harapan Baru Ekonomi Pesisir Kabupaten Malang
Bupati Malang HM Sanusi saat menjadi inspektur upacara Hari Kebangkitan Nasional di halaman Pendapa Agung Kabupaten Malang, Jalan KH Agus Salim, Kec Klojen, Kota Malang. (Prokopim Setda Pemkab Malang)

Peweimalang.com, Kab Malang – Kabupaten Malang merupakan daerah di Jawa Timur (Jatim) yang tidak hanya memiliki potensi wisata pantai saja, namun juga memiliki produksi garam punnel. Sedangkan produksi garam punnel tersebut berada di kawasan Pantai Modangan, Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Sehingga dengan warganya memproduksi garam rakyat, maka mendapatkan apresiasi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang.

Apresiasi yang diberikan Pemkab Malang tersebut, karena perkembangan produksi garam rakyat berbasis teknologi greenhouse yang dinilai mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen. Sedangkan produksi garam itu dikelola oleh Kelompok Sumberoto Makmur Sejahtera dengan menerapkan metode Greenhouse Salt Tunnel (GST) dan Continuously Dynamic Mixing (CDM).

Bacaan Lainnya

Teknologi tersebut, kata Bupati Malang HM Sanusi, Rabu (20/5), usai menjadi inspektur upacara Hari Kebangkitan Nasional (HKN) 2026, di Pringgitan Pendapa Agung Kabupaten Malang, Jalan KH Agus Salim, Kecamatan Klojen, Kota Malang, memanfaatkan bangunan tertutup berbahan plastik ultraviolet (UV) untuk mempercepat proses kristalisasi air laut sekaligus menjaga kualitas garam agar lebih bersih dan bernilai jual lebih tinggi. Produktivitas garam tunnel di kawasan Pantai Modangan terus mengalami peningkatan signifikan sejak awal pengembangannya.

Sebelumnya, dia menyebutkan, produksi hanya seberat 1-2 ton per bulan, kini hasil produksi garam mampu mencapai 8 ton per bulan, sehingga produksi garam tunnel sudah berkembang. Sehingga dengan berkembangnya produksi garam tersebut, kini produksi garamnya bisa mencapai 8 ton per bulan, dan dalam satu tahun menghasilkan produksi 96 ton, dengan harga jual Rp 3 ribu per kilogram, dari sebelumnya hanya Rp 1.500 per kilogram. Sedangkan garam tunnel itu dikembangkan untuk menjadi salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan petani garam, yang sekaligus memperkuat sektor ekonomi masyarakat di pesisir Pantai Malang Selatan.

“Kami berharap inovasi produksi garam berbasis teknologi tersebut dapat terus dikembangkan dan menjadi percontohan bagi wilayah pesisir pantai lainnya di Kabupaten Malang,” pintahnya.

Dalam kesempatan itu, Sanusi menambahkan, bahwa dengan potensi produksi garam tunnel ini, maka kekayaan alam akan dimaksimalkan untuk dikelola. Hal ini akan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat dan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Seperti di wilayah Malang Selatan yang memiliki kekayaan alamnya yang melimpah. Selain laut yang menghasilkan produksi ikan di pesisir Pantai Malang Selatan, juga terdapat wisata pantai yang memiliki panorama yang indah, hutan, pertanian, Perkebunan, dan tambang. Dan kini wilayah Malang Selatan yakni saat ini terdapat produksi garam tunnel, yang berada di kawasan Pantai Modangan.

“Dengan diproduksinya garam tunnel tersebut, maka saat itu juga pernah ditinjau oleh Tenaga Ahli Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia yang juga sebagai Komisaris ID Food (Holding Pangan BUMN) Prof Dr Ali Agus, yang bersama-sama meninjau lokasi garam tunnel di Pantai Modangan,” terang Sanusi, yang hari ini, Senin 20 Mei 2026 telah genap berusia 66 tahun.(*).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *