Peweimalang.com – Malang – Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Kebangkitan Nasional (HKN) sebagai momentum lahirnya kesadaran kolektif rakyat untuk bersatu, bangkit, dan memperjuangkan masa depan bangsa. Semangat yang diwariskan para pelopor kebangkitan nasional bukan hanya tentang perjuangan fisik melawan penjajahan, tetapi juga perjuangan membangun kesadaran, pendidikan, serta keberanian menyuarakan kebenaran demi kepentingan rakyat.
Dalam konteks Indonesia modern, semangat tersebut tetap relevan, terutama melalui peran jurnalisme sebagai salah satu pilar demokrasi. Pers dan jurnalis memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara, sekaligus turut mengawal kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejak masa perjuangan kemerdekaan, media massa telah menjadi alat perjuangan bangsa. Para tokoh pergerakan memanfaatkan surat kabar dan media cetak untuk membangkitkan nasionalisme, melawan propaganda penjajah, serta menyatukan suara rakyat Indonesia. Hingga kini, fungsi tersebut terus berkembang dalam bentuk jurnalisme modern yang mengedepankan akurasi, independensi, dan kepentingan publik.
Di era digital yang dipenuhi arus informasi tanpa batas, jurnalisme memiliki peran strategis dalam menjaga persatuan bangsa. Jurnalis dituntut menjadi penyampai informasi yang benar dan terpercaya di tengah maraknya hoax, disinformasi, ujaran kebencian, serta propaganda yang dapat memecah belah masyarakat. Pers yang profesional menjadi benteng penting dalam menjaga stabilitas sosial dan ketahanan nasional.
Selain itu, jurnalisme juga berperan sebagai kontrol terhadap kebijakan pemerintah. Dalam sistem demokrasi, pers tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga melakukan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan. Kritik yang disampaikan media bukan dimaksudkan untuk melemahkan negara, melainkan menjadi bagian dari upaya memperbaiki tata kelola pemerintahan agar tetap berjalan sesuai prinsip transparansi, keadilan, dan kepentingan rakyat.
Jurnalis memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan aspirasi masyarakat, mengungkap persoalan publik, serta memastikan kebijakan pemerintah berpihak kepada kepentingan bangsa. Dengan kerja jurnalistik yang profesional dan berlandaskan Kode Etik Jurnalistik (KEJ), pers dapat menjadi jembatan antara pemerintah dan rakyat dalam membangun demokrasi yang sehat. Namun, kebebasan pers juga harus diimbangi dengan tanggung jawab. Jurnalisme yang sehat bukan jurnalisme yang menghasut atau menyebarkan informasi tanpa verifikasi, melainkan jurnalisme yang menjunjung fakta, independensi, dan kepentingan publik.
Di tengah dinamika politik, ekonomi, dan sosial yang terus berkembang, integritas jurnalis menjadi kunci menjaga kepercayaan masyarakat. Sehingga HKN menjadi pengingat bahwa perjuangan membangun bangsa belum selesai. Tantangan zaman kini berbeda, tetapi semangatnya tetap sama, yakni menjaga persatuan, memperkuat demokrasi, dan mempertahankan kedaulatan bangsa. Dalam perjalanannya, jurnalisme memiliki posisi penting sebagai penjaga nurani publik dan pengawal arah perjalanan bangsa.
Dengan semangat Hari Kebangkitan Nasional, insan pers diharapkan terus menjaga profesionalisme, independensi, dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat serta keutuhan NKRI. Sebab, bangsa yang besar membutuhkan pers yang kuat, kritis, dan bertanggung jawab demi masa depan Indonesia yang lebih baik.(*).
Oleh : Ketua PWI Malang Raya, Cahyono





