Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi » Dari Krisis Moneter hingga 18 Tahun Bertahan: Kisah Penjual Bakso Malang yang Pantang Menyerah

Dari Krisis Moneter hingga 18 Tahun Bertahan: Kisah Penjual Bakso Malang yang Pantang Menyerah

  • calendar_month Jum, 7 Nov 2025

Peweimalang.com, Kota Malang – Di balik gerobak bakso sederhana yang bertempat di Jalan Kertoraharjo, Kota Malang, tersimpan kisah perjuangan seorang pedagang yang memulai usaha sejak krisis moneter melanda Indonesia. Ragil, sapaan akrabnya, telah melewati perjalanan panjang dari menjual tahu tek dan nasi goreng hingga menjadi penjual bakso yang bertahan 18 tahun.

“Dulu waktu krisis moneter, saya jualan tahu tek dan nasi goreng. Harganya cuma Rp300 sampai Rp500,” kenang Ragil sambil menyiapkan pesanan pelanggannya.

Dari krisis itulah ia memulai perjuangan hingga kini sudah 18 tahun sejak 2007.

“Awalnya saya keliling, belum punya tempat tetap. Alhamdulillah, sudah 12 tahun ini saya mangkal di sini,” ujarnya menunjuk lokasi jualannya yang strategis di dekat area kos-kosan mahasiswa, Jumat (7/11/2025).

Dari era krisis moneter hingga kini, Pak Ragil menyaksikan perubahan harga yang luar biasa. Tahu tek yang dulu dijualnya Rp300-Rp500 kini naik menjadi Rp1.000-Rp1.200. Nasi goreng yang dulunya seporsi cukup dengan uang receh. Baksonya sendiri dijual Rp6.000-Rp12.000 per porsi.

“Ya mau bagaimana lagi, harga bahan naik, kita juga harus sesuaikan. Tapi alhamdulillah pelanggan pasti ada,” katanya.

Ragil melayani pembeli bakso. (Diva)

Sebagai pedagang di kawasan mahasiswa, Pak Ragil menghadapi tantangan musiman yang unik. Saat libur semester atau ketika mahasiswa pulang kampung, omzetnya akan menurun, itu adalah salh satu tantangan dari usaha umkmnya tersebut.

“Kalau mahasiswa pada pulang, sepi. Anak-anak kos juga pada balik. Tapi ya sudah, itu sudah jadi siklus. Yang penting terus berusaha,” ungkapnya santai.

Menariknya, Ragil mengaku tidak memiliki pesaing langsung di lokasi jualannya. “Soal rezeki, Allah yang mengatur. Saya percaya itu,” katanya dengan penuh keyakinan.

Kunci kesuksesan Ragil terletak pada kerja kerasnya. Setiap hari, ia bangun subuh untuk belanja bahan baku segar di pasar.

“Tidak ada yang instan dalam hidup. Kalau mau sukses, ya harus kerja keras,” tegasnya.

Yang paling membanggakan bagi Ragil adalah kemampuannya bertahan dari masa krisis moneter hingga kini. Dari tahu tek dan nasi goreng dengan harga ratusan rupiah, kini berkembang dengan menu bakso yang menjadi andalan.

“Alhamdulillah, dari jualan ini bisa untuk hidupi keluarga. Saya mulai dari krisis moneter dulu, sekarang masih terus berjuang. Rezeki Allah luas, yang penting kita mau berusaha dan bersyukur,” katanya dengan penuh rasa syukur.

Kisah Ragil membuktikan bahwa usaha kuliner jalanan bisa menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan. Dari krisis moneter hingga era digital ini, semangat juang dan kerja keras tetap menjadi kunci kesuksesan.

  • Penulis: Diva Hijah Raihani
  • Editor: PWI Malang Raya

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less