Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » Cristina Sebagai Guru Sekolah Dasar di Luxembourg Digaji Rp 1,6 Miliar

Cristina Sebagai Guru Sekolah Dasar di Luxembourg Digaji Rp 1,6 Miliar

  • calendar_month Jum, 19 Des 2025

Peweimalang.com, Luxembourg City – Seorang wanita asal Indonesia yakni Cristina Susilowati, usia 27 tahun, bekerja sebagai guru Sekolah Dasar (SD) di Luxembourg City, Eropa Barat. Negara Luxembourg itu berbatasan dengan Belgia, Jerman, dan Prancis, serta menjadi salah satu pusat keuangan penting di Uni Eropa. Sedangkan gaji dia sebagai guru SD di negara tersebut sebesar Rp 1,6 miliar per tahun.

Dia bisa menjadi guru di Eropa Barat seperti mimpi, yang terlalu jauh untuk seorang gadis yang dulunya hanya berlarian di jalanan berdebu di Jawa. Perjuangannya mencapai Luxembourg banyak tantangan, karena kota tersebut bukan negara yang ramah bagi pendatang tanpa skill bahasa dewa. Di sini, kata Cristina Susilowati, untuk menjadi guru SD Negeri, tidak cukup hanya pintar bahasa Inggris, namun harus juga menguasai tiga bahasa sekaligus yakni  Prancis, Jerman, dan Luxembourg. “Tiga tahun pertamaku adalah neraka. Aku ingat betul rasanya ditolak puluhan sekolah. Setiap melamar sebagai guru, selalu dikatakan, kualifikasi anda belum cukup,” paparnya.

Karena, lanjut dia, untuk menjadi seorang guru di Luxembourg, harus memiliki penyetaraan ijazah dan sertifikasi yang susahnya minta ampun, aku bekerja serabutan. Mulai dari baby sitter sampai pelayan restoran yang kakinya bengkak setiap pulang kerja. Aku tidur hanya 4 jam sehari. Sisa waktu, aku belajar tata bahasa Jerman sampai kepala rasanya mau pecah, lalu menghafal kosa kata Prancis, sambil menahan lapar, karena harga roti di sini mahalnya gila-gilaan buat kantong mahasiswa perantauan. Dan ada masa di mana aku hampir menyerah, ingin pulang saja ke Indonesia, makan nasi goreng abang-abang, dan melupakan ambisi gila ini.

Saat surat penerimaan itu datang, Cristina menceritakan, tanganku gemetar, karena aku resmi menjadi pengajar di sistem pendidikan negara dengan gaji guru tertinggi di dunia. Saat slip gaji pertamaku turun setara ratusan juta rupiah per bulan, jika dikurskan aku tidak berteriak senang, aku justru terdiam. Dan aku menatap angka itu, lalu air mataku jatuh. Bukan karena bahagia, tapi karena rasa bersalah yang menusuk dada, dan pikiranku melayang pulang ke Indonesia, tapi Tuhan itu adil. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Saat itu aku

Teringat Pak Budi, guru honorku dulu di SD. Beliau yang mengajarkan aku membaca, yang sepedanya sering rantainya putus saat ke sekolah. Pak Budi saat itu hanya di terima honor Rp 300 ribu-Rp 500 ribu per bulan.

Honor yang diterima Pak Budi, kata dia, dirapel tiga bulan sekali. Selain itu, aku juga teringat teman-teman kuliahku di jurusan pendidikan di Indonesia. Mereka orang-orang cerdas, penuh semangat, dan tulus mencintai anak-anak. Tapi sekarang? Mereka harus nyambi jualan pulsa, jadi ojek online, atau buka jasa ketik skripsi hanya untuk menyambung hidup. Gaji mereka sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, bahkan seringkali lebih rendah dari uang jajan anak sekolah yang mereka ajar. “Di Luxembourg, guru adalah profesi yang sangat dihormati, setara dengan hakim atau dokter spesialis,” tuturnya.

Dia melanjutkan, pemerintah di sini paham betul, jika kamu ingin masa depan negara cerah, kamu harus memuliakan orang yang mendidik masa depan itu. Makanya, mereka tidak segan menggaji kami miliaran rupiah per tahun. Sementara di tanah airku sendiri, rasanya miris. Hatiku sakit setiap kali melihat berita guru di pedalaman yang harus menyeberang sungai deras demi mengajar, tapi di akhir bulan hanya menerima amplop tipis yang isinya cuma cukup buat beli beras seMinggu. Gaji yang aku terima sebesar Rp 1,6 miliar, tentunya memang mengubah hidupku. Aku bisa mengirim uang untuk orang tua, merenovasi rumah di kampung, dan travelling keliling Eropa. Tapi jauh di lubuk hatiku, ada doa yang selalu kuselipkan.

Cristina berharap, suatu hari nanti, Indonesia bisa memandang guru-guru seperti Luxembourg memandang kami. Bukan hanya dipuja dengan slogan “Pahlawan”, tapi dimuliakan hidupnya, dicukupi kebutuhannya, dan dihargai keringatnya. “Karena aku tahu, di luar sana, ada ribuan “Cristina” lain yang berjuang di ruang kelas yang panas dan bocor, dengan perut yang mungkin setengah lapar. Namun tetap tersenyum demi anak-anak bangsa. Mereka layak mendapatkan lebih dari sekadar ucapan terima kasih,” pungkasnya.(FB Forum Sertifikasi/Inpassing Guru Kemenag).(*).

 

 

  • Penulis: Redaksi
  • Editor: PWI Malang Raya

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less