CEO YOU-I Japan Dorong Mahasiswa Humaniora Kuasai Komunikasi Lintas Budaya

Peweimalang.com, Kota Malang- Kemampuan berkomunikasi lintas budaya menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki generasi muda di era globalisasi. Selain penguasaan bahasa asing, pemahaman terhadap perbedaan budaya, empati, dan kemampuan membangun relasi antarbangsa dinilai menjadi kunci untuk bersaing di dunia internasional.

Pesan tersebut disampaikan CEO YOU-I Japan, Yamada Kazuo, saat menjadi narasumber dalam sesi kedua **Humaniora International Career Access Network (I-CAN) 2026 yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting. Dalam materi bertajuk “Menyatukan Ishikawa dengan Dunia” ia mengajak peserta memahami pentingnya kolaborasi lintas budaya sebagai fondasi membangun masyarakat global yang inklusif dan saling terhubung.

Bacaan Lainnya

Dalam pemaparannya, Yamada menceritakan awal berdirinya YOU-I Japan yang berangkat dari kepeduliannya terhadap warga asing yang tinggal di Prefektur Ishikawa, Jepang, sekitar 20 tahun lalu. Pada saat itu, banyak pendatang internasional mengalami kesulitan beradaptasi akibat keterbatasan bahasa dan minimnya akses komunikasi dengan masyarakat setempat.

Kondisi tersebut mendorong lahirnya YOU-I Japan sebagai organisasi yang berperan menjembatani hubungan antara masyarakat Jepang dan komunitas internasional. Seiring waktu, organisasi tersebut berkembang dan dipercaya oleh berbagai universitas, perusahaan, hingga lembaga pemerintahan untuk menjalankan program kolaborasi berskala internasional.

Menurut Yamada, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa persoalan sosial dapat diubah menjadi solusi yang memberikan dampak luas apabila dikelola melalui pendekatan kolaboratif dan pemahaman lintas budaya.

Bagi peserta Humaniora I-CAN 2026, materi yang disampaikan memberikan perspektif baru mengenai pentingnya kompetensi lintas budaya dalam dunia profesional. Di tengah meningkatnya mobilitas internasional, kemampuan memahami perbedaan budaya dan membangun komunikasi yang efektif dinilai sama pentingnya dengan kemampuan akademik maupun keterampilan teknis.

Peserta juga diajak memahami bahwa peluang karier global tidak hanya tersedia melalui profesi konvensional. Peran sebagai fasilitator, mediator, maupun penghubung dalam berbagai kerja sama internasional juga menjadi bidang yang menjanjikan.

Kemampuan berbahasa, sensitivitas sosial, serta keterampilan membangun jejaring disebut sebagai modal penting yang dapat membuka peluang karier di tingkat global.

Salah satu peserta Humaniora I-CAN 2026, Abdul Muzakki, mengaku memperoleh wawasan baru dari materi yang disampaikan. Ia menilai pengalaman Yamada Kazuo menunjukkan bahwa keberhasilan di dunia internasional tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik, tetapi juga kemampuan memahami manusia dan budaya yang beragam.

“Materi ini membuka pandangan saya bahwa kemampuan bahasa dan komunikasi antarbudaya memiliki peran yang sangat besar dalam membangun hubungan internasional. Kita belajar bahwa memahami orang lain dan mampu menjadi jembatan antarbudaya merupakan keterampilan yang sangat dibutuhkan di masa depan,” ujarnya.

Selain pemaparan materi, sesi tanya jawab juga membahas berbagai peluang mobilitas internasional bagi mahasiswa. Salah satu informasi yang menarik perhatian peserta adalah terbukanya berbagai program kegiatan mahasiswa di Jepang bagi peserta internasional.

Melalui sesi ini, Humaniora I-CAN 2026 tidak hanya memperkenalkan peluang karier internasional, tetapi juga menanamkan kesadaran tentang pentingnya menjadi global citizen yang mampu beradaptasi, menghargai keberagaman, dan membangun kolaborasi lintas budaya.

Kompetensi tersebut dinilai menjadi bekal penting bagi mahasiswa Humaniora untuk berkiprah di tengah masyarakat global yang semakin dinamis dan multikultural.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *