Peweimalang.com, Kota Malang – Misi penyelenggaraan haji tidak hanya berkaitan dengan pelayanan ibadah, tetapi juga kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Hal itu menjadi perhatian anggota Amirul Hajj 2026, Prof. Dr. Ilfi Nur Diana, yang menyoroti tingginya penggunaan sampah plastik selama pelaksanaan ibadah haji, terutama di kawasan ARMUZNA (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
Menurut Ilfi, jamaah haji Indonesia yang jumlahnya mencapai lebih dari 202 ribu orang menjadi salah satu penyumbang terbesar penggunaan botol air minum kemasan. Jika setiap jamaah mengonsumsi sedikitnya 10 botol air kemasan ukuran 220 mililiter per hari, maka kebutuhan jamaah Indonesia saja mencapai sekitar 2,2 juta botol plastik setiap harinya. Jumlah tersebut akan jauh lebih besar jika dihitung dari total jamaah haji dunia yang mencapai lebih dari dua juta orang.
“Penumpukan sampah botol plastik di Tanah Suci menjadi persoalan serius yang perlu mendapat perhatian bersama,” ujarnya.
Fasilitas Tumbler Belum Dioptimalkan
Ilfi menjelaskan, pemerintah sebenarnya telah membagikan tumbler kepada jamaah saat berada di Arafah. Namun, fasilitas tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena minimnya sarana isi ulang air minum di kawasan ARMUZNA. Karena itu, ia mendorong agar penyedia layanan haji atau syarikat menyiapkan dispenser air minum di titik-titik strategis sehingga penggunaan botol plastik sekali pakai dapat dikurangi secara signifikan.
Ia juga mengusulkan agar tumbler diberikan kepada jamaah sejak awal kedatangan di hotel-hotel Tanah Suci sehingga dapat digunakan selama seluruh rangkaian ibadah haji.
Lebih lanjut, Ilfi mengingatkan bahwa sampah plastik merupakan ancaman lingkungan global karena sulit terurai secara alami dan berpotensi menghasilkan mikroplastik yang membahayakan kesehatan manusia. Selain itu, penumpukan sampah plastik juga berkontribusi terhadap percepatan perubahan iklim.
Prof Ilfi Himbau Terapkan Reduce & Recycle
Karena itu, ia mengajak seluruh jamaah untuk menerapkan prinsip reduce dan recycle dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai serta mendukung upaya daur ulang sampah. Menurutnya, budaya ramah lingkungan harus menjadi bagian dari gaya hidup umat Islam sebagai wujud ketakwaan kepada Allah SWT.
“Menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Menjaga alam berarti menjaga keberlangsungan kehidupan manusia,” tegasnya.
Ia menambahkan, Islam telah memberikan peringatan agar manusia tidak membuat kerusakan di muka bumi. Hal tersebut sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rum ayat 41 yang menjelaskan bahwa kerusakan di daratan dan lautan terjadi akibat ulah manusia, sehingga mereka merasakan dampak dari perbuatannya dan kembali ke jalan yang benar.
Melalui penyelenggaraan haji yang lebih berkelanjutan, Ilfi berharap kesadaran menjaga lingkungan dapat tumbuh menjadi budaya baru di kalangan jamaah. Dengan demikian, ibadah haji tidak hanya menghadirkan kesalehan spiritual, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi kelestarian bumi.





