Kabupaten Malang Jadi Prioritaskan Program PASTI untuk Perkuat Penurunan Stunting

Peweimalang.com, Kota Malang –

Kabupaten Malang dan Kabupaten Ngawi menjadi prioritas program PASTI (Partner Akselerasi Stunting di Indonesia). Hal ini dikarenakan angkan stunting di wilayah tersebut terbilang sangat tinggi, sehingga program PASTI menjadi upaya dalam mencegah stunting di Indonesia.

Bacaan Lainnya

Program PASTI ini adalah program kemitraan Kementerian Kependudukan dan Pengembangan Keluarga (BKKBN) dengan Tanoto Foundation, PT. Amman Mineral Nusa Tenggara dan Bank Central Asia Tbk. Program ini diimplementasikan oleh Wahana Visi Indonesia (WVI).

Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SGGI) 2024, angka stunting bayi di Jawa Timur mencapai 14,7 persen atau sekitar 3 dari 20 bayi. Hal tersebut menunjukkan bahwa tantangan pemenuhan gizi dan kesehatan anak belum sepenuhnya teratasi, dan beresiko menghambat perkembangan otak, produktivitas dan potensi masa depan anak.

Perwakilan BKKBN provinsi Jawa Timur, Desy Mega Aditia mengungkapkan bahwa stunting bisa disebabkan oleh kekurangan gizi pada bayi dan juga terjadi infeksi yang berulang kali seperti batuk dan pilek. Selain itu, pola asuh dan perilaku orang tua juga menjadi sebab adanya stunting pada anak.

“Stunting bukan hanya isu kesehatan, melainkan masalah multidimensi meliputi gizi, pendidikan, sanitasi, ekonomi hingga budaya,” kata Desi saat pengenalan program Pasti di Hotel Tuwuh, Rabu (29/10/2025).

Menurutnya, kolaborasi dan kerja sama lintas sektor sangat penting untuk penurunan angka stunting di tiap daerah di Indonesia. Desy mengungkapkan bahwa hal tersebut telah terbukti di Kabupaten Malang.

“Kabupaten Malang telah meraskaan hasil dari proses baik yang dilakukan. Penting adanya kerjasama dan kolaborasi lintas sektor untuk efektivitas dan berkelanjutan intervensi,” ujarnya.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Malang, Aniswaty Aziz bahwa program PASTI telah berhasil mendampingi 29 desa dan menjadi perluasan gizi di Kabupaten Malang.

Aniswaty menegaskan bahwa upaya pencegahan stunting yang paling efektif dimulai dari desa dan keterlibatan masyarakat menjadi kekuatan utama.

“Kami mereplikasikan model Dapur Sehat Atasi Stunting (DAHSAT) ke-89 desa tambahan, sehingga total 118 desa yang terlibat dalam pencegahan stunting,” ucap Aniswaty.

Sementara itu, National Program Manager Program PASTI, Hotmianida Panjaitan mengungkapkan bahwa program PASTI mengedepankan pilar utama, yaitu intervensi gizi berbasis lokal, edukasi kesehatan remaja, dan penguatan kelembagaan di tingkat desa maupun kabupaten.

“Kami berkomitmen penuh dalam memastikan setiap anak baik pada tingkat desa maupun kabupaten, mendapatkan hak dasarnya atas gizi yang cukup dan lingkungan yang mendukung pertumbuhannya,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa dengan menyasar persoalan stunting dapat mendorong perubahan yang besar dan berkelanjutan pada masyarakat dan keluarga di Jawa Timur.

“Kami menyasar akar persoalan stunting, termasuk pola pengasuhan, akses informasi dan keterlibatan remaja sebagai calon orang tua,” tambahnya.

Dalam pelaksanan program ini, 90 kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) dilatih dan melakukan Kampanye Perubahan Perilaku (KPP) kepada 2.444 orang tua, pengasuh atau ibu hamil. Sebanyak 97,6 persen mengalami peningkatan pengetahuan.

“Program ini juga melibatkan remaja yang juga sebagai calon orang tua melalui pendekayan peer educator untuk membentuk kesadaran kaan pentingnya kesehatan sejak remaja,” jelas Hotmianida.

Saat ini, program penurunan angka stunting tersebut dilaksanakan di dua kecamatan di Kabupaten Malang yaitu, Kecamatan Bululawang dan Kecamatan Pakis. Rencananya dua kecamatan ini akan menjadi rujukan ketika mereplikasikan program PASTI ke desa lain.

“Kecamatan Bululawang dan Kecamatan Pakis akan menjadi rujukan kami ketika kami mereplikasikan program ini ke desa lain. Jadi ibaratnya kami sudah memiliki alat ukur kerja,” ucapnya.

Perubahan nyata dirasakan langsung oleh peseta program, Ba’diatus ibu dari seorang bayi dibawah dua tahun (Baduta) di Kabupaten Malang. Ia mengaku mendapat manfaat langsung dari pelatihan tersebut.

“Sekarang saya lebih paham tentang menu yang sehat, dan suami ikut membantu dalam menjalani program. Berat anak saya naik satu kilogram saat mengikuti pelatihan,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *