Oleh : Prof Uril Bahruddin
Dosen Bahasa Arab FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Peweimalang.com, Kota Malang – Setiap tanggal 28 Oktober, kita memperingati Sumpah Pemuda. Peristiwa bersejarah yang terjadi pada 1928 itu mengajarkan satu hal penting: bangsa besar tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dipersiapkan melalui proses panjang, visi yang jelas, dan kesediaan untuk mengesampingkan kepentingan pribadi maupun golongan demi tujuan bersama. Indonesia baru memproklamasikan kemerdekaannya 17 tahun setelah Sumpah Pemuda dikumandangkan. Artinya, sebelum kemerdekaan itu terwujud, para pemuda telah menanamkan fondasi kebangsaan yang kokoh. Dan fondasi itu bernama persatuan.
Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa sejarah yang dikenang melalui upacara, pembacaan ikrar, atau penggunaan pakaian adat. Lebih dari itu, ia merupakan langkah konkret untuk membangun kesadaran kolektif bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk bergerak bersama. Persatuan menjadi ruh yang menyatukan beragam latar belakang, bahasa, dan kepentingan ke dalam satu cita-cita: Indonesia yang merdeka, berdaulat, dan bermartabat.
Semangat yang sama relevan bagi perguruan tinggi, termasuk Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Jika dahulu para pemuda berjuang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, kini keluarga besar perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan masa depan bangsa melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu pekerjaan besar yang perlu terus dilakukan adalah melejitkan reputasi kampus. Dan untuk mencapai tujuan itu, persatuan serta pemberdayaan seluruh sumber daya manusia harus menjadi fondasi utamanya.
Belajar dari Rasulullah: Persatuan sebagai Fondasi Peradaban
Jauh sebelum Sumpah Pemuda dikumandangkan, Rasulullah Muhammad saw. telah memberikan teladan luar biasa tentang pentingnya persatuan dalam membangun peradaban. Ketika tiba di Madinah, beliau tidak langsung memulai pembangunan dengan berorientasi pada kemegahan fisik, kekuatan ekonomi, atau simbol-simbol kejayaan. Beliau terlebih dahulu membangun fondasi sosial yang memungkinkan seluruh komponen masyarakat hidup berdampingan, saling mendukung, dan bergerak menuju tujuan bersama.
Salah satu langkah penting tersebut adalah at-ta’akhi, yakni mempersaudarakan kaum Muhajirin yang berhijrah dari Makkah dengan kaum Ansar, penduduk Madinah yang menyambut dan membantu mereka. Persaudaraan itu bukan sekadar ikatan emosional atau ungkapan persahabatan. Ia diwujudkan dalam solidaritas, kepedulian, dan kesediaan berbagi sumber daya demi kehidupan bersama yang lebih baik.
Pesan penting dari langkah Rasulullah tersebut ialah bahwa peradaban tidak cukup dibangun dengan mengandalkan keunggulan individu. Peradaban membutuhkan kemampuan menyatukan keunggulan-keunggulan itu menjadi kekuatan kolektif. Orang-orang hebat yang berjalan sendiri-sendiri mungkin menghasilkan prestasi pribadi, tetapi orang-orang yang saling menguatkan akan menghasilkan kemajuan yang lebih besar dan berkelanjutan.
Prinsip ini patut menjadi inspirasi bagi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kampus bukan hanya kumpulan fakultas, program studi, unit kerja, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Kampus adalah satu ekosistem keilmuan yang hanya akan berkembang optimal apabila setiap unsur di dalamnya merasa memiliki tujuan yang sama. Ketika rasa memiliki tumbuh, kolaborasi menjadi kebutuhan. Ketika kolaborasi menguat, potensi yang semula tersebar dapat dihimpun menjadi energi besar untuk memajukan institusi.
Belajar dari Prof. Imam Suprayogo: Tidak Ada SDM yang Tidak Penting
Saya masih ingat bagaimana Prof. Imam Suprayogo mengawali dan menggerakkan pembangunan kampus yang dahulu bernama Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malang. Salah satu pelajaran penting yang saya rasakan pada masa itu adalah keyakinan bahwa setiap manusia di lingkungan kampus memiliki arti penting dan harus diberdayakan secara optimal.
Ketika itu, saya masih menjadi staf Program Khusus Perkuliahan Bahasa Arab (PKPBA). Posisi tersebut mungkin tidak selalu berada di pusat perhatian, tetapi saya merasakan bahwa pekerjaan kami memiliki makna bagi pengembangan kampus. Kami didorong untuk mengambil peran, menjalankan tanggung jawab, dan memberikan kontribusi terbaik. Ada kesadaran bahwa kemajuan institusi bukan hanya urusan pimpinan atau mereka yang menduduki jabatan strategis. Setiap orang memiliki ruang untuk berbuat sesuatu bagi kemajuan bersama.
Pengalaman itu memberikan pelajaran berharga: pemimpin yang baik bukan hanya orang yang mampu bekerja dengan hebat, melainkan juga orang yang mampu membuat banyak orang bekerja dengan hebat. Ia tidak memonopoli peran, tetapi membuka ruang kontribusi. Ia tidak membiarkan sumber daya manusia sekadar menjadi pelengkap organisasi, tetapi membantu setiap orang menemukan potensi dan tanggung jawabnya.
Hasil pembangunan kampus pada masa itu menjadi bagian penting dari perjalanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang hingga berkembang menjadi perguruan tinggi yang dikenal luas. Tentu, capaian tersebut merupakan hasil kerja banyak pihak dan proses panjang yang tidak dapat dilepaskan dari berbagai kebijakan serta kontribusi kolektif. Namun, satu pelajaran tetap relevan untuk diwarisi: kemajuan institusi akan lebih mudah dicapai ketika seluruh sumber daya manusianya diberi kepercayaan, kesempatan, dan tanggung jawab untuk berkontribusi.
Jangan Biarkan Potensi Kampus Berjalan Sendiri-sendiri
Untuk lebih melejitkan reputasi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, semangat Sumpah Pemuda, teladan at-ta’akhi Rasulullah, dan pelajaran kepemimpinan Prof. Imam Suprayogo perlu dihidupkan dalam praktik nyata. Ketiganya bertemu pada satu prinsip: menyatukan potensi, menguatkan kolaborasi, dan mengarahkan seluruh energi menuju cita-cita bersama.
Tantangan sebuah perguruan tinggi bukan semata-mata kekurangan sumber daya manusia yang unggul. Terkadang, tantangan yang lebih besar justru terletak pada belum optimalnya pemanfaatan potensi yang sudah tersedia. Ada dosen dengan kapasitas penelitian yang kuat, tenaga kependidikan dengan keterampilan profesional, program studi dengan keunggulan akademik, serta mahasiswa dengan kreativitas dan semangat inovasi. Pertanyaannya, sudahkah seluruh potensi itu terhubung dalam agenda pengembangan kampus yang terarah?
SDM yang tidak memperoleh ruang kontribusi berisiko mencari ruang aktualisasi sendiri di luar prioritas institusi. Pada titik inilah kampus dapat mengalami kerugian ganda: sumber daya telah dialokasikan, tetapi kontribusinya belum sepenuhnya menghasilkan nilai tambah bagi kemajuan bersama. Karena itu, pemberdayaan SDM bukan sekadar persoalan pembagian pekerjaan, melainkan strategi penting untuk memastikan bahwa setiap potensi benar-benar menjadi kekuatan institusi.
Pimpinan perlu membangun budaya kerja yang menghargai kontribusi, memperkuat komunikasi lintas unit, membuka peluang kolaborasi, serta memberikan apresiasi secara adil berdasarkan kinerja dan dampak. Dosen perlu didorong untuk berkolaborasi dalam penelitian dan publikasi internasional. Program studi perlu membangun jejaring lintas disiplin. Tenaga kependidikan perlu memperoleh kesempatan meningkatkan kompetensi dan mengembangkan inovasi layanan. Mahasiswa perlu dilibatkan sebagai mitra aktif dalam kegiatan akademik dan pengembangan reputasi kampus.
Yang tidak kalah penting, persatuan tidak boleh dimaknai sebagai keseragaman pendapat. Kampus yang sehat justru memberi ruang bagi kritik, gagasan baru, dan perbedaan pandangan. Namun, semuanya harus dikelola dalam budaya akademik yang dewasa, berorientasi pada solusi, dan menjunjung tinggi kepentingan institusi. Persatuan bukan berarti semua orang harus selalu sepakat, melainkan semua pihak bersedia bekerja sama meskipun memiliki pandangan yang berbeda.
Melejitkan Reputasi dengan Kekuatan Bersama
Reputasi perguruan tinggi tidak dibangun hanya melalui slogan, peringkat, gedung megah, atau promosi yang menarik. Reputasi tumbuh dari mutu pendidikan, produktivitas penelitian, dampak pengabdian kepada masyarakat, kualitas layanan, integritas akademik, dan pengakuan atas kontribusi nyata institusi. Semua itu membutuhkan kerja kolektif yang konsisten, bukan sekadar semangat sesaat.
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang telah memiliki modal penting untuk terus berkembang dan memperkuat reputasinya di tingkat nasional maupun internasional. Namun, capaian yang telah diraih tidak boleh membuat kita terlena. Dunia pendidikan tinggi terus berubah, persaingan semakin terbuka, dan kampus-kampus lain terus berbenah. Tidak ada jaminan bahwa posisi yang baik hari ini akan bertahan selamanya apabila tidak diikuti inovasi dan perbaikan berkelanjutan.
Karena itu, momentum Sumpah Pemuda hendaknya menjadi pengingat bahwa kebesaran institusi tidak ditentukan oleh kehebatan segelintir orang, tetapi oleh kemampuan seluruh warganya untuk bergerak bersama. Kita perlu menghidupkan kembali semangat persaudaraan, memperluas ruang kontribusi, dan memastikan tidak ada potensi yang terabaikan.
Pada akhirnya, reputasi bukan hanya tentang seberapa tinggi nama kampus disebut, melainkan seberapa besar manfaat yang dihadirkannya. Dan jalan menuju ke sana dimulai dari hal yang mendasar: persatuan yang melahirkan kolaborasi, kepemimpinan yang memberdayakan, serta setiap insan kampus yang bekerja dengan kesadaran bahwa dirinya penting bagi kemajuan bersama.
Selamat Hari Sumpah Pemuda. Saatnya menyatukan potensi, menguatkan kolaborasi, dan melejitkan reputasi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang!
Wallahu A’lam
Batu, 28 Oktober 2026





