Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » Perjalanan Habiburrahman Membawa ‘Ayat-Ayat Cinta’ Mendunia

Perjalanan Habiburrahman Membawa ‘Ayat-Ayat Cinta’ Mendunia

  • calendar_month Kam, 6 Nov 2025

Peweimalang.com, Kota Malang – Ketika narasi negatif tentang Islam merebak di era 2000-an, sebuah karya dari Indonesia berhasil menyampaikan pesan dengan pendekatan yang berbeda. Bukan kemarahan, melainkan keindahan yang mengalir melalui kisah cinta dan keimanan.

“Ketika di Belanda ada film ‘Fitna’ yang menjelek-jelekkan Islam, di Indonesia ada ‘Ayat-Ayat Cinta’ yang menunjukkan keindahan Islam,” ujar Habiburrahman El Shirazy dalam acara Festival Jazirah Arab 2025 yang digelar Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Malang), Kamis (6/11/2025).

Habiburrahman El Shirazy, penulis novel fenomenal “Ayat-Ayat Cinta”, mengenang bagaimana karyanya menjadi bentuk diplomasi budaya yang tak disangka. Awal 2008, tepatnya Februari, ia mendapat apresiasi dari pemerintah atas karya indahnya dengan kesempatan melakukan perjalanan keliling Eropa.

Perjalanan Eropa itu membawa pesan mendalam baginya. Dari Frankfurt hingga Munich di mana ia sempat bersilaturahmi dengan BJ Habibie hingga perkumpulan mahasiswa Indonesia di Hannover, Habiburrahman menyaksikan langsung bagaimana karya sastra bisa menjadi alat diplomasi yang ampuh.

Perjalanan Habiburrahman Membawa 'Ayat-Ayat Cinta' Mendunia

Habibburrahman El Shirazy menjadi pembicara di Festival Jazirah Arab 2025 Fakultas Humaniora UIN Malang. (Diva)

Di tengah perjalanan, saat mengisi acara di sebuah hall perkumpulan di Hannover, setelah berbincang dengan mahasiswa, benih ide untuk novel berikutnya mulai tumbuh. Dari perbincangan tentang tantangan mempertahankan iman di negeri orang, lahirlah ide novel “Bumi Cinta.”

Namun menulis “Bumi Cinta” ternyata bukan perkara mudah. Justru novel inilah yang ia sebut sebagai karya terberatnya. Ekspektasi pembaca yang sudah tinggi setelah sukses “Ayat-Ayat Cinta” menjadi tekanan tersendiri. Pembaca menuntut detail lebih, perbandingan dengan karya sebelumnya terus muncul.

Novel yang mengangkat tema ujian iman di negeri asing itu ingin menyampaikan pesan bahwa godaan terhadap iman bukan hanya soal lawan jenis seperti yang kerap menjadi narasi umum tentang godaan pemuda atau santri.

“Godaan iman tidak hanya lawan jenis, tapi seperti ujian kejujuran, korupsi. Percayalah, kalau kita meninggalkan sesuatu yang haram karena niat karena Allah, maka Allah akan menggantikan dengan sesuatu yang halal berlipat ganda,” tegasnya.

Ketika ditanya bagaimana menghadapi orang yang tidak menyukai karya atau perspektifnya, Habiburrahman menjelaskan dengan bijak. “Ridhonnas ghoyatun la tudrok (Kerelaan seluruh manusia adalah tujuan yang tak mungkin dicapai), bahkan oleh seorang nabi. Apalagi kita.”

“Jadi selama ada dasar, ada keyakinan, ada iman, di perjalanan bismillah saja. Di setiap kepala ada pemikirannya sendiri. Maka, seorang penulis harus berani dikritik,” lanjutnya.

  • Penulis: Diva Hijah Raihani
  • Editor: PWI Malang Raya

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less