Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » Novel ‘Amarily Terjebak di Masa Lalu’ Antarkan Mahasiswi FIB UB Lulus Tanpa Skripsi

Novel ‘Amarily Terjebak di Masa Lalu’ Antarkan Mahasiswi FIB UB Lulus Tanpa Skripsi

  • calendar_month Rab, 6 Agu 2025

Peweimalang.com, Kota Malang – Di tengah skripsi berbasis riset ilmiah, yang menjadi tradisi di dunia pendidikan tinggi, Dewi Retno Sari, mahasiswi Program Studi Sastra Cina, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), memilih jalur berbeda.

Ia menjadikan sebuah novel fiksi sejarah sebagai tugas akhirnya. Bukan hanya sebagai syarat kelulusan, tetapi juga sebagai bentuk kontribusi nyata bagi dunia literasi dan industri kreatif.

Karyanya yang berjudul: “Amarily Terjebak di Masa Lalu”, mengangkat kisah seorang gadis modern bernama Amarily Tan yang tiba-tiba terperangkap dalam tubuh bangsawan Dinasti Song, Amarily Chen.

Dengan latar sejarah Cina Utara, cerita ini membawa pembaca menjelajahi kehidupan istana yang penuh intrik politik, saat sang tokoh utama berusaha membantu tabib istana dan Putra Mahkota mengatasi krisis kesehatan yang ternyata dipicu konspirasi rumit, melibatkan kekasih sang Putra Mahkota sendiri, Putri Mei’in.
Meski tokohnya fiktif, Dewi merancang alur cerita berdasarkan literasi sejarah yang ia pelajari dari mata kuliah Sejarah Cina.

“Saya memang menciptakan tokoh dan konfliknya sendiri. Tapi tidak mengubah fakta sejarah yang saya jadikan latar,” jelasnya saat dihubungi wartawan.

Menurut Dewi, pendekatan kreatif ini merupakan cara untuk menjembatani antara dunia akademik dan minat generasi muda terhadap sejarah.

“Saya ingin membuktikan bahwa sejarah tidak harus kaku atau membosankan. Lewat fiksi, saya ingin menjadikannya hidup dan dekat dengan pembaca, terutama anak muda,” tuturnya.

Novel setebal 327 halaman ini ditulis dalam Bahasa Indonesia, dengan sisipan beberapa istilah Mandarin untuk memperkuat nuansa budaya. Versi awalnya hanya berjumlah 172 halaman dalam bentuk digital, sebelum kemudian dikembangkan dan dicetak secara mandiri.

Bedah buku Amarily Terjebak di Masa Lalu berlangsung dalam forum akademik pada Selasa (5/8/2025) di Ruang 2.2, Gedung A FIB UB.
Acara ini menghadirkan dosen pembimbing Diah Ayu Wulan, dosen penguji Yusri Fajar, serta penulis sekaligus pegiat literasi Aditya EF sebagai pembedah karya.

Dalam diskusi tersebut, Diah Ayu menilai karya Dewi sebagai bukti bahwa kampus kini memasuki era baru yang memberi ruang lebih luas untuk pendekatan interdisipliner.

“Melalui karya seperti ini, mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tapi juga bisa mengomunikasikannya dengan cara yang relevan dan menyentuh publik,” ujar Diah.

Senada dengan itu, Yusri Fajar menyoroti keberanian Dewi dalam menyusun karakter yang lintas budaya.

“Nama seperti ‘Amarily’ yang terdengar western, memperlihatkan kemampuan mahasiswa dalam menembus batas konvensional dan menciptakan ruang baru dalam sastra,” paparnya.

Tak hanya sampai pada pencapaian akademik, Dewi juga menunjukkan inisiatif luar biasa dalam proses penerbitan.

Ia mencetak dan mendistribusikan novel tersebut secara mandiri, memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan TikTok untuk promosi. Harga novelnya dipatok antara Rp99.000 hingga Rp120.000, tergantung pada periode promosi.

“Semua saya tanggung sendiri, dari proses penulisan sampai distribusi. Target saya tidak muluk, yang penting dikenal luas dan bisa menjadi batu loncatan untuk karya berikutnya,” ungkap Dewi.

Langkah Dewi menjadi contoh nyata bagaimana institusi pendidikan tinggi dapat mendukung ekspresi kreatif sebagai bentuk valid dari pencapaian akademik.

Di tengah dorongan kuat terhadap penelitian ilmiah dan publikasi jurnal, karya seperti ini membuktikan bahwa sastra juga bisa membawa nilai akademik yang setara, bahkan lebih berdampak secara sosial.

“Ini membuktikan bahwa dunia kampus bisa menjadi ruang yang adaptif. Bukan hanya tempat menghafal teori, tapi juga laboratorium untuk menciptakan karya yang hidup, yang menyentuh masyarakat,” pungkas Diah Ayu. (*)

 

  • Penulis: Dafa Pratama
  • Editor: PWI Malang Raya

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less