Hujan Guyur Malang Selatan Sebabkan Bencana Tanah Longsor dan Banjir

Hujan Guyur Malang Selatan Sebabkan Bencana Tanah Longsor dan Banjir
Bencana tanah longsor di wilayah Kec Sumbermanjing Wetan, Kab Malang. (Foto : BPBD Kab Malang)

Peweimalang.com, Kab Malang – Bencana tanah longsor akibat hujan deras di Kabupaten Malang meluas, yang sebelumnya di dua kecamatan kini bertambah empat kecamatan, sehingga total bencana yang terdampak menjadi enam kecamatan. Bahkan, tanah longsor sempat memutuskan akses jalan antar kabupaten dan antar desa di sejumlah titik. Dan bencana banjir juga menerjang beberapa desa di Kabupaten Malang.

Sedangkan bencana banjir dan tanah longsor, karena di wilayah Kabupaten Malang diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang turun sejak Senin 2 November 2026. Sehingga mengakibatkan terjadinya bencana hidrometeorologi berupa banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah di Kabupaten Malang. Berdasarkan laporan resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, bencana ini berdampak pada lima kecamatan.

Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan, Selasa (3/11), kepada wartawan mengkonfirmasi, bahwa dalam bencana banjir dan tanah longsor tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, sejumlah infrastruktur dan akses jalan vital dilaporkan mengalami gangguan serius. “Tim BPBD Kabupaten Malang bersama unsur gabungan telah bergerak menuju lokasi-lokasi terdampak untuk melakukan penanganan darurat,” tuturnya.

Di jelaskan, bencana banjir dan tanah longsor terjadi di beberapa desa yang tersebar di lima kecamatan, seperti di Desa Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading, Desa Lebakharjo, Ampelgading, banjir akibat naiknya debit air Sungai Kedung Ondo, Desa Tirtomoyo, Kecamatan Ampelgading, terjadi tanah longsor yang menutup akses jalur provinsi, Desa Klepu, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, bencananya kombinasi banjir dan tanah longsor, yang menyebabkan akses jalan poros Gunung Gatel yang menghubungkan wilayah Sumbermanjing Wetan dan Kecamatan Dampit terputus total.

Dan di Kecamatan Tirtoyudo, lanjut Sadono, terjadi bencana tanah longsor di Desa Purwodadi, yang mengakibatkan bagian tebing halaman rumah warga longsor. Sedangkan untuk di Kecamatan Dampit tersebut tanah longsor di Desa Watusuko, yang mengakibatkan akses jalan warga sempat tertutup, dan saat ini kondisi jalur sudah kembali bisa dilewati. “Sementara, di Desa Polaman, Kecamatan Dampit terjadi tanah longsor, mengakibatkan jalur penghubung antara Kecamatan Dampit dan Kecamatan Sumbermanjing Wetan tertutup material tanah, serta di Desa Segaran, Kecamatan Gedangan,” terangnya.

Dari bencana tersebut, kata dia, juga terjadi di wilayah Kecamatan Bantur yang mengakibatkan tanah longsor terjadi di dua desa, yakni Desa Sumberbening dan Bantur, yang mengakibatkan tiang listrik roboh dan saat ini dalam penanganan pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN). Selain itu, bencana banjir juga menyebabkan penahan Jembatan Pringgodani-Rejosari, di wilayah Kecamatan Bantur ambrol, meski jalur alternatif masih dapat digunakan. Sementara untuk genangan air yang sempat meluap kini dilaporkan telah mulai surut.

“Operasi penanganan darurat saat ini difokuskan pada pembersihan material longsor dan pembukaan akses jalan utama. Dalam bencana tersebut, pihaknya sudah mengerahkan alat berat, khususnya ekskavator, yang menjadi kebutuhan paling mendesak guna mempercepat evakuasi material longsor,” ujar Sadono.

Dalam operasi ini, jelas dia, pihaknya melibatkan sinergi unsur pentahelix, yang terdiri dari BPBD Kabupaten Malang, Muspika setempat, TNI, Poslap Tirtoyudo, Pemerintah Desa, Bina Marga Provinsi, Pekerjaan Umum (PU) Nasional, BBWS Brantas, PMI, Tagana, Buana Solusindo, Marva Telekomunikasi, serta partisipasi aktif masyarakat sekitar. Dan pihaknya juga masih terus melakukan pendataan lanjutan di lapangan untuk menghitung perkiraan nilai kerugian akibat bencana ini.

“Kami menghimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem susulan dan akan terus menyampaikan pembaruan informasi secara berkala,” pungkas Sadono.(*).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *