Bencana Gempa Bumi Flores Sebabkan Puluhan Orang Meninggal Dunia dan Ratusan Rumah Rusak

Bencana Gempa Bumi Flores Sebabkan Puluhan Orang Meninggal Dunia dan Ratusan Rumah Rusak
Rumah warga di Flores, NTT rusak akibat bencana gempa bumi berkekuatan M7,7. (BNPB)

Peweimalang.com, Jakarta – Gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Utara Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8) pagi, turut dirasakan kuat hingga wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel). Guncangan dan perubahan muka air laut atau tsunami kecil terpantau di daerah pesisir Sulawesi, seperti Kepulauan Selayar dan Jeneponto, bukan gempa terpisah yang berpusat di daratan Sulawesi.

Dalam bencana gempa bumi di Utara Flores, maka Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui data penanganan gempa bumi yang mengguncang NTT, yang menyebabkan 47 orang meninggal dunia. Namun, berdasarkan Badan SAR Nasional (Basarnas) dari bencana gempa tersebut tercatat yang meninggal dunia sebanyak 51 orang.

Bacaan Lainnya

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, saat press conference, pada Sabtu (15/8), kepada wartawan mengatakan, bahwa korban meninggal dunia akibat gempa di wilayah Fl res, NTT dan sekitarnya sebanyak 47 orang.

Selain korban meninggal dunia, sejumlah warga mengalami luka-luka dan telah dievakuasi untuk mendapatkan perawatan medis. Dan tim gabungan juga terus melakukan pencarian dan evakuasi terhadap warga terdampak.

“Berdasarkan data sementara BNPB ada sebanyak 157 rumah mengalami rusak berat, 41 rumah rusak sedang, dan 148 rumah rusak ringan. Sedangkan kerusakan juga dilaporkan terjadi pada berbagai fasilitas umum (fasum). Rinciannya, 87 fasilitas pendidikan, 18 fasilitas kesehatan, lima tempat ibadah, enam kantor, serta sejumlah fasum lainnya,” ungkapnya.

Rumah rusak berat akibat gempa bumi di Flores, NTT. (BNPB)

Sementara itu, Direktur Kesiapsiagaan Basarnas Noer Isrodin Muchlisin menyampaikan, akibat gempa bumi di Flores tersebut, sementara rinciannya korban di sejumlah wilayah di Kabupaten Manggarai Timur tercatat 11 orang meninggal dunia dan 24 orang mengalami luka-luka. Kabupaten Sikka tercatat tiga orang meninggal dunia dan dua orang luka-luka. Sedangkan di Manggarai Barat terdapat satu korban meninggal dunia dan dua orang terluka. Kabupaten Manggarai mencatat 24 korban meninggal dunia dan 22 orang luka-luka.

“Adapun di Kabupaten Nagekeo terdapat satu korban meninggal dunia,” terangnya.

Dia mengatakan, seluruh tim masih bekerja di lapangan untuk melakukan pencarian dan evakuasi korban. Tim SAR juga berupaya memanfaatkan masa kritis 72 jam setelah kejadian untuk menemukan dan menyelamatkan korban yang masih mungkin bertahan.

“Dan sampai dengan saat ini tim gabungan masih bekerja di lapangan dan kita juga berharap memanfaatkan golden hour pada 72 jam semenjak kejadian kita bisa menyelamatkan dan berupaya untuk bisa mengevaluasi seluruh korban yang terdampak adanya bencana,” ujarnya.

Kantor Pusat Basarnas, lanjut Noer, juga akan mengerahkan personel tambahan ke wilayah terdampak. Helikopter Basarnas telah dikerahkan dan berada di Bandara Ngurah Rai, Bali. Peralatan drone juga disiapkan untuk mendukung pemantauan kondisi di lokasi bencana.

Selain melalui jalur udara, dukungan juga datang melalui jalur laut. Kapal Negara (KN) Puntadewa dari Maumere dilaporkan telah tiba di Pelabuhan Waingapu untuk mendukung proses evakuasi.

“Berdasarkan pemutakhiran informasi, pusat gempa berada di laut, sejauh 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT, dengan kedalaman 15 kilometer,” jelasnya.

Di kesempatan itu, dia juga menyampaikan, bahwa gempa bumi itu sempat memicu tsunami yang terdeteksi di sejumlah wilayah, dengan laporan mencapai 10 titik di NTT hingga Sulawesi Selatan (Sulsel). Dan setelah gempa utama, ratusan gempa susulan juga terjadi. Kondisi tersebut membuat proses pencarian, evakuasi, serta pendataan kerusakan masih terus berlangsung.

“BNPB bersama Basarnas, pemerintah daerah, TNI/Polri, tenaga kesehatan, relawan, dan berbagai unsur lainnya terus mengerahkan sumber daya untuk menangani dampak bencana serta menyalurkan bantuan pangan dan non pangan kepada masyarakat terdampak,” pungkasnya.(*).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *