Peweimalang.com, Kota Malang – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) bersama DPRD Kota Malang menguatkan sinergi dengan masyarakat Kelurahan Ketawanggede melalui program ‘Kampung Lingkar Kampus’ (KLK).
Inisiatif ini dirancang sebagai langkah konkret menjaga identitas tradisi sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi berbasis kearifan lokal.
Dekan FISIP UB, Dr. Ahmad Imron Rozuli, S.E., M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rantai program pelestarian budaya yang berkelanjutan.
Sebelumnya, aksi serupa telah menyasar Kampung Budoyo hingga kawasan Celaket, dan akan dilanjutkan dengan agenda strategis Deklarasi Malang Kota Pejuang di Museum Brawijaya pada 10 mendatang.
Ahmad Imron menekankan krusialnya menyamakan frekuensi antara kampus, masyarakat, media, dan pemangku kepentingan (stakeholders) demi menjaga keharmonisan daerah sekaligus mendukung proses adaptasi mahasiswa baru.
“Kami ingin menciptakan ruang interaksi publik yang inklusif bagi mahasiswa dan masyarakat. Harapannya, ruang publik di Kota Malang didesain secara optimal untuk membangun komunikasi positif serta mencegah timbulnya sekat sosial antarwilayah,” ujar Ahmad Imron.
Dukungan penuh datang dari Anggota Komisi D DPRD Kota Malang, Ginanjar Yoni Wardoyo. Ia menilai kolaborasi ini menjadi pijakan kuat dalam meningkatkan taraf peradaban dan kesejahteraan warga di sekitar kawasan kampus.
“Peradaban yang maju lahir dari masyarakat yang berbudaya melalui komunikasi berbasis kearifan lokal. Pendekatan kampus yang merangkul warga Ketawanggede ini sangat krusial untuk menciptakan loncatan peradaban,” tegas Ginanjar.
Implementasi program Kampung Lingkar Kampus ini, kedepannya akan difokuskan pada pemberdayaan UMKM, supaya dapat menjadi penguat ekonomi bagi para pelaku usaha lokal di sekitar kampus.
Kemudian, agar dapat mendorong alumni dan civitas akademika UB memberikan kontribusi nyata (giving back) bagi lingkungan terdekatnya.
Melalui Deklarasi Pelestarian Budaya Lokal ini, sinergi tiga pilar, kampus, pemerintah, dan warga, yang diharapkan dapat menjadi percontohan (role model) pembangunan kawasan yang tak hanya menguatkan perekonomian, tetapi juga merawat akar budaya Malang Raya.





