Peweimalang.com, Kabupaten Malang – Perhelatan budaya tahunan Turen Istimewa kembali digelar di Stadion Gunung Kembar, Jalan Stadion Timur No.47, Turen, Kabupaten Malang pada 29 Agustus hingga 5 September 2026.
Memasuki penyelenggaraan keempat kalinya, festival ini mengusung tema besar ‘URIP IKU URUP – Menyalakan Warisan, Menghidupkan Kebersamaan’ dengan fokus khusus pada pengenalan budaya sejak usia dini melalui tradisi sedekah bumi serta mengukuhkan kembali Kecamatan Turen sebagai barometer utama para budayawan.
Ketua Panitia sekaligus penggiat budaya, Gugun, menjelaskan bahwa filosofi “Urip Iku Urup” dirancang bukan sekadar slogan sesaat, melainkan gerakan berkelanjutan agar hidup dapat memberi manfaat dan menjadi cahaya bagi sesama.
Dari Turen, acara ini diposisikan secara strategis sebagai titik temu budaya Malang Selatan sekaligus gerbang kreativitas masyarakat.
“Turen bukan sekadar tempat, melainkan ruang bertemu budaya, gotong royong, UMKM, seni, dan generasi muda. Melalui semangat ini, setiap orang diajak menjadi cahaya yang menghidupkan lingkungan sekitarnya,” ujar Gugun, Senin 31 Agustus 2026.
Ia menambahkan, wilayah Turen dirancang sebagai ruang kolaborasi lintas elemen, mulai dari desa, sekolah, komunitas, UMKM, hingga para seniman untuk bertransformasi menjadi destinasi wisata budaya tahunan yang menjadi kebanggaan kawasan.
Esensi gerakan ini diperkuat oleh penggerak budaya usia dini dari sanggar tari, Beni Gigih.

Menurut Beni, Turen Istimewa 4 (2026) dirumuskan untuk menjawab berbagai kebutuhan riil di tengah masyarakat, terutama dalam menanamkan kecintaan terhadap akar budaya pada anak-anak sejak dini melalui tradisi seperti sedekah bumi.
“Langkah ini tidak hanya bertujuan untuk melestarikan tradisi lokal dan menguatkan gotong royong, tetapi juga menghidupkan kembali narasi historis bahwa Kecamatan Turen merupakan rumah dan barometer bagi para budayawan serta seniman,” tegas Beni.
Melalui konsistensi benang merah yang diusung setiap tahunnya, Turen Istimewa diharapkan tidak hanya berhenti sebagai tontonan hiburan, melainkan menjelma menjadi gerakan kebudayaan yang hidup, mengakar pada generasi muda, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.






