Peweimalang.com, Beijing – Dunia pendidikan tinggi global sedang menghadapi transformasi paling drastis dalam beberapa dekade terakhir. China sebagai salah satu kekuatan ekonomi utama dunia, memimpin pergerakan ini dengan melakukan restrukturisasi masif pada kurikulum pendidikan tingginya.
Kementerian Pendidikan China (MoE) mengkonfirmasi telah menghapus sebanyak 1.670 program studi (prodi) lama yang dinilai usang, dan langsung menggantinya dengan 1.673 prodi baru yang selaras dengan arah ekonomi masa depan. Salah satu contoh paling mencolok terjadi di Sichuan University yang menghentikan 31 prodi sekaligus. Data dari Sixth Tone juga mencatat sebanyak 19 universitas di China telah menutup total 99 prodi sepanjang tahun lalu.
Langkah ekstrem ini diambil bukan karena prodi-prodi tersebut sepi peminat, melainkan karena kompetensinya mulai tidak relevan dengan industri berbasis kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI), otomasi, dan green economy. Sejumlah prodi yang terdampak penutupan meliputi bidang-bidang yang dulunya dianggap strategis. Antara lain, Teknik dan Sains, seperti Teknik Metalurgi, Teknik Tekstil, Teknik Lingkungan, Teknik Jaringan, Information Security, Fisika Nuklir, dan Bioteknologi.
Sosial dan Bisnis, seperti Administrasi Publik, Asuransi, E-Commerce, dan Information Management. Seni Kreatif, seperti Animasi, Penyiaran Televisi, dan Musicology.
China kini resmi mengubah strategi produksi SDM nasionalnya. Pemerintah mulai memangkas prodi yang melahirkan lulusan berlebih, memiliki tingkat pengangguran tinggi, atau mudah digantikan oleh mesin. Sebagai gantinya, fokus dialihkan ke prodi masa depan berbasis Intelligence Economy, seperti AI dan Industrial AI, Intelligent Manufacturing dan Robotics, Data Science dan Quantum Information, New Energy Engineering dan Low Carbon Technology, Smart Agriculture dan Digital Economy.
Dengan prinsip baru China dalam prodi di perguruan tinggi tersebut, maka perguruan tinggi tidak lagi sekadar mencetak sarjana dengan teori kaku, melainkan talenta lintas disiplin yang mampu mengintegrasikan AI, mengolah data kompleks, dan memecahkan masalah nyata. Fenomena di China merupakan peringatan bagi perguruan tinggi di Indonesia yang mayoritas masih menggunakan kurikulum usang berusia 20–30 tahun. Lambatnya adaptasi ini memicu risiko lahirnya irrelevant graduates dengan lulusan berijazah yang kompetensinya tidak lagi terserap oleh pasar kerja.
Dengan era dimana teknologi berkembang eksponensial dan pekerjaan kelas menengah (middle skill jobs) terus menyusut, model pendidikan masa depan wajib bergeser ke arah hybrid interdisciplinary. Masa depan tidak lagi ditentukan oleh satu jurusan kaku, melainkan kombinasi keahlian seperti AI, Kesehatan, Robotics, Manufacturing, atau Data Science, dan Public Policy.
Penutupan ratusan prodi ini bukanlah tanda kemunduran, melainkan langkah adaptif yang berani. China memilih menghadapi realitas ketimbang memelihara prodi usang yang hanya akan menambah angka pengangguran terdidik. Restrukturisasi ini melempar satu pertanyaan kritis bagi dunia pendidikan global. Kompetensi apa yang tersisa bagi manusia ketika AI dan otomasi telah mengambil alih seluruh pekerjaan rutin.(*).
Oleh: Redaksi





