Sentra Tebu di Gondanglegi Bakal Jadi Peta Jalan Swasembada Gula Nasional 2028-2030
- calendar_month 1 jam yang lalu

Tanaman Tebu di wilayah Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang jadi sentra produksi gula lokal
Peweimalang.com, Kabupaten Malang – Menteri Koordinator (Menko) Pangan Zulkifli Hasan, saat kunjungan ke Kabupaten Malang, pada beberapa waktu lalu, telah menyatakan bahwa wilayah Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, atau wilayah Malang Selatan merupakan daerah sentra tanaman tebu. Sehingga dia menargetkan produksi gula di kabupaten setempat untuk mendukung produksi gula secara nasional seberat 2,7 juta ton. Selain itu, wilayah Gondanglegi tersebut merupakan bagian dari Peta Jalan Swasembada Gula Nasional 2028-2030.
Sedangkan strategi untuk mencapai target tersebut, khususnya dampak dan implementasinya di wilayah Kabupaten Malang, maka Pemerintah Kabupaten Pemkab) Malang focus pada ekosistem tebu di Kabupaten Malang. Sebab, wilayah Kecamatan Gondanglegi yang masuk wilayah Malang Selatan dipilih sebagai titik tinjauan strategis. Karena, kata Bupati Malang HM Sanusi, Kamis (26/2), kepada Bhirawa, kapasitas produksi tanaman tebu di Malang Selatan, termasuk di wilayah Gondanglegi, Kabupaten Malang menyumbang signifikan terhadap produksi tebu Jawa Timur (Jatim) melalui keberadaan dua pabrik gula besar, seperti Pabrik Gula (PG) Kebonagung, yang berada di Desa Kebonagung, Kecamatan Pakisaji dan PG Krebet Baru di Desa Krebet, Kecamatan Bululawang.
Dengan wilayah Malang Selatan sebagai sentra tanaman tebu, lanjut Bupati Malang, maka dalam pengelolaan lahan akan dilakukan secara modernisasi, Sehingga Pemkab Malang mendorong petani tebu di Kabupaten Malang untuk beralih dari metode tradisional ke sistem mekanisasi pertanian atau penggunaan mesin penanam dan pemanen, guna menekan biaya produksi. Sedangkan strategi untuk mengejar target pencapaian produksi gula secara nasional 2,7 juta ton gula, maka Kementerian Koordinator (Kemenko) Pangan bersama Kementerian Pertanian akan melakukan beberapa langkah di daerah.
“Untuk menjaga kualitas produksi tebu, salah satunya kita gunakan Program Bongkar Ratoon atau mengganti tanaman tebu yang sudah tua dengan bibit baru (varietas unggul) untuk meningkatkan rendemen (kadar gula dalam batang tebu) agar bisa mencapai angka ideal di atas 8-10 persen,” kata Sanusi, yang juga sebagai petani tebu.
Selanjutnya, masih dia katakan, juga nantinya ada perluasan areal lahan tanaman tebu, yakni mengoptimalkan lahan yang ada. Dan Pak Menteri Menko Pangan saat itu juga menyampaikan bahwa pemerintah akan berencana menambah luas areal tebu nasional hingga 700.000 hektar secara bertahap. Selain itu, juga akan menjaga Harga Pembelian Pemerintah (HPP) tebu di tingkat petani agar tetap menguntungkan petani tebu, sehingga petani tetap termotivasi menanam tebu dibandingkan komoditas lain. Oleh karena itu, untuk penguatan HPP gula, harus ada peran penguatan Koperasi Unit Desa (KUD).
“Menko Pangan juga menekankan pentingnya peran KUD sebagai jembatan antara petani dan pabrik gula. Sehingga koperasi diharapkan mampu menyediakan pupuk bersubsidi tepat waktu. Serta memfasilitasi permodalan bagi petani melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus sektor pangan,” tandasnya.
Perlu diketahui, target produksi gula 2,7 juta ton atau target secara nasional adalah ambisi pemerintah untuk menghentikan ketergantungan pada gula impor atau untuk konsumsi rumah tangga dan beralih sepenuhnya ke produksi gula lokal dalam beberapa tahun ke depan.(*).
- Penulis: Redaksi










Saat ini belum ada komentar