Peweimalang.com, Kota Batu – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) berkunjung ke kampus 3 UIN Maliki Malang di Kota Batu, Jumat (22/5/2026). Ia mendorong Perguruan Tinggi Islam ini untuk segera mendirikan RS pendidikan. Pasalnya Fakultas Kedokteran (FK) UIN Malang ternyata belum memiliki rumah sakit pendukung pendidikan.
“Beliau kaget. Kok ada kampus bagus di Kota Batu dengan Fakultas Kedokteran tapi belum punya rumah sakit. Wamenkes kemudian mendorong kampus ini segera punya rumah sakit,” ungkap Wakil Rektor Bidang AUPK UIN Malang, Dr. Zainal Habib, M.Hum.
UIN Malang langsung menyiapkan konsep matang. Rumah sakit rencananya bernama Maliki International Hospital dan akan dibangun di Jalan Raya Telukung, dekat Predator Park.
“Kami beri nama Maliki International Hospital. Konsepnya berkelas internasional. Dampaknya tidak hanya untuk mahasiswa FK, tetapi juga masyarakat Kota Batu dan Malang Raya,” jelas Zainal.
Rumah sakit ini akan menjadi pusat layanan kesehatan unggulan. Pihak kampus menargetkan groundbreaking tahun depan.
Hadirkan Klinik Haji dan Layanan Paru
Keunikan RS ini adalah integrasi layanan kesehatan dengan nilai keislaman. Dekan FK UIN Malang, Prof. Dr. dr. Yuyun Yueniwati, mengungkapkan RS akan memiliki pusat unggulan geriatri dan onkologi.
“Yang paling spesial, kami unggul di bidang kedokteran haji. Kami sudah menjalin kerja sama dengan Kemenkes, Kemenag, dan Kementerian Haji. Nanti ada klinik khusus untuk membantu istitha’ah calon jemaah haji,” papar Prof. Yuyun.
Wamenkes juga meminta RS ini membuka layanan penyakit paru yang masih minim di wilayah setempat.
Lulusan 100 Persen, SDM Siap Dukung RS
FK UIN Malang baru berusia 9 tahun, tapi seluruh mahasiswa yang lulus mencapai 100 persen.
“Alhamdulillah, kami lulus 100 persen. Kami punya SDM mumpuni untuk mendukung pendirian rumah sakit ini,” tegas Prof. Yuyun.
Keberhasilan ini karena sistem pendidikan unik. Mahasiswa semester awal wajib tinggal di asrama. Sistem ini efektif membentuk karakter dan prestasi akademik.
Dibangun Bertahap, Buka Kerja Sama Nasional
RS akan dibangun bertahap. Tahap awal fokus pada fasilitas pembelajaran dokter muda, lalu berkembang menjadi pusat pendidikan spesialis.
“Kami sudah merintis pendidikan spesialis radiologi, penyakit dalam, obgin, dan patologi klinik. RS ini akan bertumbuh, tidak langsung besar, tapi unggul secara nasional,” tambah Prof. Yuyun.
Pasca kunjungan, UIN Malang segera mematangkan proposal detail desain dan anggaran. Langkah ini sembari menunggu arahan dari Kemenkes dan Kemenag.
UIN Malang juga membuka peluang kerja sama dengan seluruh politeknik kesehatan di Indonesia, dari Aceh hingga Papua, terutama di bidang tata kelola perpustakaan, riset, dan pengembangan SDM kesehatan.





