Peweimalang.com, Kota Batu – Menghadapi bencana tidak cukup hanya dengan mengetahui risikonya. Ketika situasi darurat terjadi, kemampuan mengambil keputusan dengan cepat dan memberikan pertolongan pertama dapat menjadi penentu keselamatan korban.
Kesadaran itulah yang menjadi fokus kolaborasi Rhazes Medical Team (RMT) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu dalam edukasi dan pelatihan kebencanaan.
Peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai manajemen bencana dan sistem tanggap darurat. Mereka juga diajak mempraktikkan langsung penanganan korban melalui simulasi gempa bumi.
Sebelum pelatihan dimulai, peserta mengikuti pretest untuk mengukur pemahaman awal mengenai kebencanaan dan pertolongan pertama.
Materi kemudian disampaikan secara bertahap oleh Achmad Choirur Rochim, Helmi Fauzan Kurnaini, dan Ismu Buhana dari BPBD Kota Batu. Peserta dikenalkan pada pengelolaan situasi bencana hingga langkah pertolongan pertama sesuai kondisi di lapangan.
Belajar mengambil keputusan saat darurat
Bagian yang paling banyak melibatkan peserta berlangsung melalui simulasi gempa bumi di area terbuka Kampus 3 UIN Malang.
Dalam simulasi tersebut, anggota RMT mempraktikkan tahapan penanganan korban, mulai dari triase hingga proses evakuasi. BPBD Kota Batu turut memberikan arahan dan mengevaluasi pelaksanaan simulasi.
Latihan tersebut memberikan gambaran bahwa penanganan bencana membutuhkan koordinasi. Setiap orang memiliki peran, sementara keputusan yang diambil harus mempertimbangkan kondisi korban dan keamanan lingkungan.
Bagi Ismu Buhana, keterlibatan mahasiswa dalam edukasi kebencanaan memiliki arti penting karena kesiapsiagaan tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga kebencanaan.
“Harapan kami, kerja sama dunia pendidikan dan masyarakat semakin baik sehingga kesiapsiagaan menghadapi bencana meningkat,” kata Ismu.
Menurutnya, peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dapat membantu mengurangi risiko dan ancaman yang muncul ketika bencana terjadi.
Dari pelatihan menuju tim tanggap darurat
Ismu juga berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti setelah satu atau dua kali pelatihan. Ia mendorong mahasiswa UIN Malang memiliki kemampuan yang terus diasah hingga dapat membentuk Emergency Response Team di lingkungan kampus.
Gagasan tersebut menempatkan mahasiswa bukan sekadar sebagai peserta pelatihan, tetapi sebagai bagian dari upaya membangun budaya kesiapsiagaan di lingkungan pendidikan.
Setelah simulasi, peserta mengikuti posttest untuk melihat perubahan pemahaman setelah mendapatkan materi dan praktik. Kegiatan kemudian ditutup dengan pemberian sertifikat kepada pemateri dan doa.
Kolaborasi RMT UIN Malang dan BPBD Kota Batu menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bencana dapat dibangun dari lingkungan terdekat. Pengetahuan pertolongan pertama, kemampuan melakukan triase, hingga keterampilan evakuasi menjadi bekal yang dapat digunakan ketika menghadapi keadaan darurat.
Pada akhirnya, kesiapsiagaan bukan sekadar kemampuan menyelamatkan diri, tetapi juga kesiapan membantu orang lain ketika kondisi paling sulit terjadi.





