Peweimalang.com, Kota Malang – Penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 menjadi tonggak baru dalam sejarah pelayanan haji Indonesia. Untuk pertama kalinya, pengelolaan haji berada di bawah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), yang dinilai berhasil menghadirkan tata kelola lebih tertib, efisien, dan berorientasi pada pelayanan jemaah.
Sekretaris Amirul Hajj Indonesia 2026 sekaligus Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Ilfi Nur Diana, mengatakan reformasi tata kelola haji tidak hanya diukur dari penurunan biaya haji sekitar Rp2 juta per jemaah, tetapi juga dari kualitas layanan yang diterima para jemaah selama berada di Tanah Suci.
“Haji masa depan harus menjadi haji yang memuliakan perempuan, melindungi lansia dan difabel, memanfaatkan teknologi secara inklusif, serta menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Ilfi.
Sebagai bagian dari Amirul Hajj, Ilfi melakukan pemantauan langsung dengan mengunjungi sejumlah sektor pemondokan, berkoordinasi dengan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), Kedutaan Besar RI, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), hingga berdialog langsung dengan para jemaah.
Dari hasil pemantauan tersebut, mayoritas jemaah mengaku puas terhadap layanan konsumsi, transportasi, akomodasi, dan kesehatan. Jemaah memperoleh tiga kali makan setiap hari dengan menu khas Nusantara, didukung layanan bus selawat yang memudahkan mobilitas menuju Masjidil Haram.
Di bidang kesehatan, setiap kloter didampingi tenaga kesehatan yang terdiri dari seorang dokter dan perawat. Selain itu tersedia klinik satelit di setiap sektor dan layanan KKHI. Namun, Ilfi menilai jumlah tenaga kesehatan masih perlu ditambah mengingat 84,1 persen jemaah tergolong berisiko tinggi dan 21,9 persen merupakan lansia.
Pelaksanaan puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) juga dinilai berjalan cukup baik. Dua syarikat penyedia layanan, Rakeen dan Duyuful Bait, mampu memenuhi kebutuhan transportasi, konsumsi, dan akomodasi jemaah meski masih ditemukan keterlambatan armada akibat kemacetan dan penutupan sejumlah ruas jalan.
Meski demikian, sejumlah catatan perbaikan masih perlu dilakukan. Salah satunya adalah penambahan fasilitas toilet bagi jemaah perempuan dan difabel di Armuzna. Menurut Ilfi, antrean panjang kerap terjadi karena jumlah jemaah perempuan mencapai 55,8 persen dari total sekitar 203 ribu jemaah Indonesia.
Selain itu, ia mendorong peningkatan literasi digital jemaah agar berbagai layanan berbasis teknologi, seperti kode identifikasi pada gelang dan aplikasi pengaduan haji, dapat dimanfaatkan secara optimal.
Isu lingkungan juga menjadi perhatian penting. Ilfi menyoroti tingginya penggunaan air minum kemasan plastik selama pelaksanaan haji. Ia mengusulkan penyediaan dispenser dan stasiun pengisian air minum di hotel maupun kawasan Armuzna untuk mengurangi jutaan botol plastik yang digunakan setiap hari.
Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan haji tidak lagi hanya diukur dari jumlah jemaah yang diberangkatkan, tetapi dari kualitas pelayanan yang diberikan kepada mereka.
“Haji yang sukses adalah haji yang menghadirkan layanan bermartabat, inklusif, dan berkelanjutan bagi seluruh jemaah,” tegasnya.





