Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » Budaya » Mahasiswa Ilkom UMM Bersama Museum Panji Sosialisasikan Budaya Lokal Lewat Permainan Tradisional

Mahasiswa Ilkom UMM Bersama Museum Panji Sosialisasikan Budaya Lokal Lewat Permainan Tradisional

  • calendar_month Ming, 20 Jul 2025

Peweimalang.com, Kota Malang – Budaya lokal dirasa semakin hari semakin luntur, terutama bagi generasi muda. Guna mengantisipasi hal tersebut mahasiswa Ilmu Komunikasi (Ilkom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Museum Panji berupaya melestarikan budaya lokal. Yakni melalui media yang edukatif, menyenangkan dan semangat kebersamaan.

Kolaborasi mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM dan Museum Panji ini mempersembahkan acara dengan nama Sandjiwa (Sayembara Pandji Jiwa Warisan Nusantara). Acara ini nantinya akan digelar di Museum Pandji, Tumpang, Kabupaten Malang, Minggu (27/7/2025). Sandjiwa sendiri merupakan ajang perlombaan permainan tradisional yang akan diikuti oleh siswa SD/MI Kabupaten Malang.

Ketua pelaksana, Welly Dwi Fahryan menyampaikan bahwa acara ini digelar sebagai bentuk upaya pelestarian budaya lokal serta memperkenalkan kembali nilai-nilai leluhur dari cerita Panji. Ia mengungkapkan bahwa di era digitalisasi ini generasi muda sudah jarang mempraktikan budaya-budaya lokal di kehidupan sehari-harinya.

Menurutnya, di era digitalisasi ini menjadi sarana untuk memperkenalkan dan mengembangkan budaya lokal ke kancah nasional maupun internasional. Ditambah lagi, kekayaan budaya Indonesia yang sangat beragam yang dapat menjadi nilai lebih.

“Saat ini budaya lokal semakin luntur, yang seharusnya dengan kekayaan budaya Indonesia kita bisa mengenalkan budaya lokal ke kancah Internasional. Seperti Korsel mengenalkan permainan tradisional mereka lewat Squid Game,” jelas Welly, Minggu (20/7/2025).

Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan ruang pembelajaran interaktif bagi generasi muda. Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi ini tidak hanya dengan Museum Panji saja tetapi juga dengan menggandeng Pemerintah Kabupaten Malang.

“Nantinya generasi muda, terutama anak-anak akan mengikuti lomba permainan tradisional seperti Egrang, Bentengan, Baklak, Congklak, Lompat Tinggi, Bekel, Tarik Tambang, dan Engklek,” ujarnya.

Mahasiswa Ilkom UMM itu menerangkan bahwa pemilihan permainan tradisional yang dilombakan itu dikarenakan permainan tersebut mengandung nilai-nilai penting dan kebersamaan. Ia menambahkan bahwa lomba permainan ini tidak hanya sebagai ajang biasa, tetapi juga sebagai sarana pengenalan kembali budaya panji yang kian luntur.

“Sandjiwa ini menjadi jembatan untuk memperkenalkan kembali sosok Panji sebagai  tokoh yang sarat makna bukan hanya melalui cerita, tetapi juga melalui permainan yang mengandung pesan edukatif,” terangnya.

Sebelum acara Sandjiwa digelar, Welly menuturkan bahwa ia juga melakukan kegiatan-kegiatan serupa di sekolah-sekolah Malang. Hal itu dilaksanakan sebagai bentuk pengenalan kepada masyarakat dan juga sektor pendidikan.

“Bulan kemarin, kami berhasil memperkenalkan permainan tradisional ini ke sekolah-sekolah seperti SMP YPK, SMPN 18 Malang, SMP 1 Tumpang dan MTSN 7 Malang. Kami juga sempat membuat kegiatan serupa di Car Free Day Malang pada 6 Juli kemarin,” jelasnya.

Ketua Pelaksana Sandjiwa itu menyebut bahwa kegiatan ini mendapatkan apresiasi oleh Bupati Malang, Sanusi. Bentuk apresiasi ini nantinya akan diberikan dalam bentuk piala Bupati. Diberikan kepada pemenang lomba melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang.

Ia juga berharap bahwa kegiatan ini nantinya akan memberikan dampak positif bagi pelestarian budaya serta berharap Pemerintah dapat menindaklanjuti kegiatan ini dengan lebih inovatif.

“Pemerintah Kabupaten Malang mendukung penuh kegiatan ini yang nantinya secara simbolik memberikan piala Bupati kepada pemenang melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang,” ujarnya.

Senada dengan Ketua Pelaksana, Pemilik Museum Panji, Dwi Cahyono mengatakan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk upaya dalam pelestarian budaya. Ia menambahkan bahwa hal ini sangat perlu bagi generasi muda.

“Ini juga mengenalkan Museum Panji sebagai pusat pembelajaran budaya lokal,” ucapnya.

Inisiator Malang Tempoe Doeloe itu juga berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya. Serta membangkitkan kembali semangat kolaborasi dan karakter luhur yang terkandung pada kisah-kisah Panji dan permainan tradisional.

“Saya berharap dengan kegiatan ini sebagai pemantik pelestarian dan kegiatan-kegiatan  budaya di Malang kepada masyarakat,” tutup pria dengan julukan Crazy Man itu.

 

 

  • Penulis: Agung Budi
  • Editor: Redaksi PWI Malang Raya
  • Sumber: Liputan

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less