Insinyur Ulul Albab: Meneguhkan Peran Rekayasa dalam 65 Tahun UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Insinyur Ulul Albab: Meneguhkan Peran Rekayasa dalam 65 Tahun UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Dr. Hairur Rahman, M.Si, - Dekan Fakultas Teknik UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Refleksi Dies Natalis ke-65 dan Lustrum XIII

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Oleh: Dr. Hairur Rahman, M.Si

Dekan Fakultas Teknik UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Enam puluh lima tahun lalu, kampus ini lahir sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang sederhana. Kini, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang telah tumbuh menjadi universitas yang tidak hanya mengajarkan tafsir dan fikih, tetapi juga algoritma, struktur bangunan, rekayasa material, dan teknologi informasi. Transformasi ini bukan sekadar perluasan program studi. Ia adalah pernyataan sikap: bahwa Islam dan teknologi bukan dua dunia yang terpisah, melainkan satu kesatuan ikhtiar untuk memakmurkan bumi.

Momentum Dies Natalis ke-65 dan Lustrum XIII ini mengajak kita bertanya: peran apa yang mesti dimainkan bidang ketehnikan dalam masa depan universitas Islam?

Akar Integrasi: Teknik sebagai Ibadah

Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia memperhatikan bagaimana langit ditinggikan, gunung ditegakkan, dan bumi dihamparkan. Ayat-ayat itu sejatinya adalah undangan untuk memahami hukum alam, yang dalam bahasa modern kita sebut sains dan rekayasa. Sejarah peradaban Islam pun mencatat tokoh seperti Al-Jazari dengan mesin-mesin otomatnya, atau para arsitek yang membangun kota-kota dengan sistem air dan ventilasi yang cerdas.

Paradigma “pohon ilmu” dan cita-cita melahirkan ulul albab yang menjadi ruh kampus ini memberi landasan kuat bagi pendidikan teknik. Seorang insinyur lulusan UIN tidak cukup hanya cakap menghitung beban struktur atau menulis kode program. Ia harus memahami bahwa setiap rancangan membawa konsekuensi moral: apakah bangunan itu aman bagi penghuninya, apakah sistem itu adil bagi penggunanya, apakah teknologi itu menjaga atau merusak alam. Inilah yang saya sebut sebagai insinyur ulul albab: cerdas secara teknis, matang secara etis, dan kokoh secara spiritual.

Tantangan Rekayasa di Era Disrupsi

Dunia ketehnikan kini bergerak sangat cepat. Kecerdasan buatan, Internet of Things, energi terbarukan, kota cerdas, dan manufaktur digital telah mengubah wajah industri. Perguruan tinggi yang lamban beradaptasi akan menghasilkan lulusan yang usang sebelum sempat bekerja.

Setidaknya ada tiga tantangan utama. Pertama, kesenjangan antara kurikulum dan kebutuhan industri. Laboratorium dan perangkat pembelajaran harus terus diperbarui agar mahasiswa terbiasa dengan teknologi terkini. Kedua, budaya riset terapan yang belum sepenuhnya mengakar. Banyak penelitian teknik berhenti sebagai laporan, belum menjadi prototipe, paten, apalagi produk yang dipakai masyarakat. Ketiga, tantangan etika teknologi. Kecerdasan buatan dapat membawa bias, otomasi dapat menggeser lapangan kerja, dan pembangunan fisik dapat merusak lingkungan. Di sinilah universitas Islam memiliki peluang untuk tampil berbeda.

Empat Gagasan Strategis

Menyongsong masa depan, saya menawarkan empat gagasan bagi pengembangan Fakultas Teknik dan bidang ketehnikan di kampus ini.

Pertama, kurikulum rekayasa berbasis nilai. Mata kuliah etika profesi, fikih lingkungan, dan etika kecerdasan buatan perlu dirancang terintegrasi dengan mata kuliah inti teknik. Mahasiswa diajak tidak hanya bertanya “bagaimana membuatnya?”, tetapi juga “untuk siapa dan apa dampaknya?”.

Kedua, pusat inovasi dan teknopreneur. Universitas perlu memiliki ekosistem inkubasi teknologi yang menghubungkan laboratorium, mahasiswa, dosen, dan industri. Inovasi seperti aplikasi layanan keumatan, sistem informasi pesantren, teknologi tepat guna untuk petani dan UMKM, hingga rancangan masjid hemat energi dapat menjadi produk unggulan yang lahir dari kampus ini.

Ketiga, kampus cerdas dan hijau sebagai laboratorium hidup. Kampus sendiri dapat menjadi tempat uji coba teknologi: panel surya di atap gedung, pengelolaan air hujan, sistem pengolahan sampah terpadu, serta tata kelola berbasis data. Mahasiswa teknik belajar langsung dari lingkungannya, sementara kampus menjadi lebih efisien dan berkelanjutan.

Keempat, kolaborasi lintas disiplin. Masalah dunia nyata tidak mengenal sekat fakultas. Rekayasa sistem zakat digital membutuhkan ahli informatika dan ekonomi syariah. Rancangan rumah sakit ramah difabel membutuhkan arsitek, ahli kesehatan, dan psikolog. Integrasi ilmu yang selama ini menjadi jargon perlu diwujudkan dalam proyek riset bersama yang konkret.

Dari Kampus ke Peradaban

Peradaban selalu dibangun oleh dua kekuatan: ilmu yang menerangi dan teknologi yang mewujudkan. Masjid-masjid megah, irigasi yang menghidupi pertanian, dan kota-kota yang tertata di masa kejayaan Islam lahir dari perpaduan iman, ilmu, dan keterampilan rekayasa. Tugas kita hari ini adalah menghidupkan kembali tradisi itu dalam konteks abad ke-21.

Di usia 65 tahun, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki modal yang kuat: tradisi keilmuan yang mapan, budaya ma’had yang membentuk karakter, dan sumber daya manusia yang terus berkembang. Jika modal ini dipadukan dengan keberanian berinovasi di bidang teknik dan teknologi, bukan mustahil kampus ini akan dikenal tidak hanya sebagai pusat kajian Islam, tetapi juga sebagai pelopor teknologi yang beradab.

Dirgahayu ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Semoga dari kampus ini terus lahir insinyur-insinyur ulul albab yang membangun negeri dengan ilmu, iman, dan amal.

Tentang Penulis

Dr. Hairur Rahman, M.Si adalah Dekan Fakultas Teknik sekaligus Anggota Senat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *