Oleh: Prof. Dr. H. M. Abdul Hamid, M.A. – Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maliki Malang
Pada 1989, setelah menyelesaikan pendidikan MTs di Karawang, saya melangkahkan kaki menuju Malang untuk melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Daruttauhid. Saat itu, saya belum tahu ke mana kehidupan akan membawa saya. Saya belum membayangkan amanah apa yang kelak harus diemban atau sejauh mana ilmu yang dipelajari akan menentukan perjalanan hidup saya.
Yang saya tahu, saya harus belajar, menjalani proses, dan mempersiapkan diri untuk masa depan yang belum saya kenal.
Sepuluh tahun, 1989–1999, saya menjalani kehidupan sebagai santri. Kini, ketika menoleh ke belakang, saya semakin memahami bahwa pesantren bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Pesantren adalah tempat belajar menghadapi kehidupan: tentang kesabaran ketika hasil belum terlihat, ketangguhan ketika keadaan tidak mudah, dan kedisiplinan ketika cita-cita menuntut pengorbanan.
Saya meninggalkan pesantren, tetapi pelajaran kehidupan dari pesantren tidak pernah benar-benar meninggalkan saya.
Refleksi ini terasa relevan ketika kita memperingati Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026, dengan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Tema ini bukan sekadar slogan peringatan, melainkan panggilan untuk menjawab satu pertanyaan mendasar: setelah memperoleh ilmu dan mencapai keberhasilan, apa yang telah kita lakukan untuk negeri?
Kesulitan Bukan Alasan untuk Menyerah
Ketika masih menjadi santri, kita mungkin belum sepenuhnya memahami makna proses panjang yang sedang dijalani. Kita belajar, berdisiplin, memperbaiki diri, dan bertahan. Justru melalui proses itulah karakter perlahan terbentuk.
Ada ungkapan yang kerap saya renungkan: Lawlā al-masyaqqah, lasaʿida al-nāsu kulluhum. Tanpa kesulitan dan perjuangan, setiap orang akan mudah mencapai kemuliaan dan kedudukan tinggi.
Ungkapan ini bukan berarti kita harus mencari penderitaan atau menganggap semua kesulitan pasti membawa kebaikan. Maknanya, kedewasaan membutuhkan kesediaan menghadapi tantangan dengan ikhtiar, kesabaran, dan kemauan memperbaiki diri.
Kita sering melihat keberhasilan seseorang tanpa mengetahui perjuangan di belakangnya. Karena itu, jangan terlalu cepat menilai masa depan seseorang berdasarkan keadaannya hari ini. Santri yang belajar dalam kesederhanaan tidak berarti memiliki masa depan yang sederhana. Keterbatasan hari ini bukan keputusan akhir tentang kemampuan seseorang.
Ketangguhan bukan berarti tidak pernah gagal, melainkan kesediaan untuk bangkit, memperbaiki langkah, dan terus bergerak menuju tujuan.
Ilmu Harus Menemukan Maknanya
Ketangguhan perlu berjalan bersama ilmu yang bermanfaat dan tanggung jawab moral. Pendidikan pesantren tidak cukup menghasilkan manusia yang cerdas dan mampu bersaing, tetapi juga harus menumbuhkan pribadi yang memahami tujuan perjuangannya.
Ilmu bukan sekadar pengetahuan yang dikuasai, melainkan kemampuan yang digunakan untuk menjawab persoalan dan memberi manfaat bagi sesama. Ketika memasuki kehidupan masyarakat, nilai-nilai yang dipelajari di pesantren menemukan ujian sekaligus maknanya: dalam pekerjaan, keluarga, kepemimpinan, dan cara memperlakukan orang lain.
Seseorang boleh mencapai kedudukan tinggi, tetapi jabatan harus dijalankan sebagai amanah. Ia boleh memiliki pengetahuan luas, tetapi ilmu perlu disertai kerendahan hati dan keterbukaan untuk terus belajar.
Keberhasilan bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi juga tentang bagaimana kita menggunakan pencapaian itu untuk kebaikan.
Menguatkan Negeri Tidak Harus Menjadi Pejabat
Pengalaman menjadi santri merupakan bagian penting dalam perjalanan hidup saya. Kini, ketika menjalani amanah di lingkungan perguruan tinggi, saya semakin menyadari bahwa pendidikan seharusnya membawa manusia melampaui kepentingan dirinya sendiri.
Mengabdi kepada negeri tidak selalu berarti menduduki jabatan tinggi. Indonesia membutuhkan guru yang mendidik dengan tanggung jawab, petani yang bekerja dengan jujur, pengusaha yang berlaku adil, tenaga kesehatan yang amanah, ilmuwan yang tekun, dan warga masyarakat yang peduli terhadap sesamanya.
Menguatkan negeri berarti menjalankan peran masing-masing dengan ilmu, kesungguhan, dan kepedulian terhadap kepentingan bersama.
Di tengah perubahan zaman, santri juga harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, terbuka terhadap perkembangan dunia, serta berani bersaing. Kedalaman ilmu agama perlu berjalan bersama keluasan wawasan dan kemampuan menjawab persoalan nyata masyarakat.
Kita tidak ingin santri hanya bangga pada masa lalu, tetapi gagap menghadapi masa depan. Indonesia Emas membutuhkan generasi yang berilmu sekaligus beradab, berdaya saing sekaligus bertanggung jawab, serta mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan pijakan moral.
Jangan Berhenti Menjadi Santri
Pada akhirnya, menjadi santri bukan hanya tentang masa ketika seseorang tinggal di pesantren, mengikuti pengajian, atau mempelajari kitab-kitab klasik. Makna kesantrian tidak seharusnya berakhir ketika seseorang meninggalkan gerbang pesantren.
Menjadi santri berarti terus bersedia belajar, menjaga adab, menghormati ilmu, merawat kerendahan hati, dan menempatkan pengabdian di atas kesombongan pribadi.
Kepada para santri, jangan takut menjalani proses panjang. Teruslah belajar, bangun kemampuan, kuatkan karakter, dan persiapkan diri untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar. Jadikan tantangan sebagai kesempatan untuk bertumbuh, tanpa melupakan nilai-nilai yang menjadi pegangan.
Mungkin suatu hari kita meninggalkan gerbang pesantren. Kita menempuh jalan berbeda, menjalani profesi beragam, dan memikul tanggung jawab yang tidak sama. Namun, jangan pernah meninggalkan nilai-nilai yang telah diajarkan pesantren. Sebab, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh mereka yang mencapai puncak, tetapi juga oleh jutaan orang yang menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh di tempat masing-masing.
Ukuran kemuliaan seorang santri bukan semata-mata seberapa tinggi ia berdiri, melainkan seberapa banyak kebaikan yang tumbuh dari tempat ia berpijak. Itulah makna menguatkan negeri. Itulah tanggung jawab kesantrian. Dan itulah ikhtiar yang harus terus kita rawat dalam perjalanan menuju Indonesia Emas.
Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026.
Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.





