Peweimalang.com, Kota Malang – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap tanggal 2 Mei kembali menjadi pengingat pentingnya pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Meski capaian akses pendidikan menunjukkan tren positif, berbagai persoalan mendasar dinilai masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantara kembali dikenang sebagai Pelopor Pendidikan Nasional yang menjunjung kesetaraan hak belajar bagi seluruh anak bangsa. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kesenjangan akses dan kualitas pendidikan antar wilayah masih terjadi.
Akses Pendidikan Meningkat
Tidak bisa dipungkiri, Indonesia telah mencapai kemajuan signifikan dalam meningkatkan akses pendidikan. Angka Partisipasi Kasar pendidikan dasar kini berada di atas 100 persen, sementara Angka Partisipasi Sekolah usia 7–12 tahun mendekati 99 persen.
Secara nasional, angka partisipasi pendidikan dasar telah tinggi dan pembangunan infrastruktur sekolah terus berjalan. Meski demikian, anak-anak di daerah terpencil masih menghadapi keterbatasan fasilitas, kekurangan tenaga pengajar, serta minimnya akses teknologi. Kondisi ini berbanding terbalik dengan sekolah di perkotaan yang relatif lebih maju.
Di sisi lain, kesejahteraan guru juga menjadi sorotan. Lebih dari 3,3 juta guru di Indonesia, masih banyak tenaga honorer yang menerima penghasilan rendah dan menghadapi ketidakpastian status kerja. Padahal, peran guru dinilai krusial dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Perubahan Kurikulum Sering Terjadi
Pembangunan ruang kelas terus berlangsung, dengan ratusan ribu unit di rehabilitasi dalam beberapa tahun terakhir ini, dan semakin banyak anak dari keluarga kecil yang bisa masuk perguruan tinggi. Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi juga telah menembus kisaran 31 persen. Program bantuan pendidikan, beasiswa, dan dukungan sosial telah membuka akses bagi jutaan pelajar untuk belajar dan melakukan penelitian.
Permasalahan lain yang mencuat adalah perubahan kurikulum yang dinilai terlalu sering terjadi, sehingga membebani adaptasi guru tanpa diiringi peningkatan kualitas pembelajaran yang signifikan.
Selain itu, transformasi digital dalam pendidikan juga belum merata, menimbulkan kesenjangan baru antara daerah yang memiliki akses teknologi dan yang tidak.
Pendidikan Karakter Kurang Dapat Perhatian Maksimal
Keterkaitan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri juga dinilai belum optimal. Banyak lulusan yang belum memiliki keterampilan praktis sesuai tuntutan dunia kerja. Sementara, sektor industri membutuhkan tenaga kerja adaptif dan kompeten.
Dan tidak kalah penting, pendidikan karakter dinilai masih belum mendapat perhatian maksimal. Kasus perundungan dan menurunnya nilai-nilai etika menjadi indikator bahwa pembentukan karakter belum berjalan optimal di lingkungan pendidikan.
Momentum Hardiknas diharapkan tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, melainkan ajang evaluasi menyeluruh bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Peningkatan kualitas guru, pemerataan fasilitas pendidikan, serta penguatan sinergi antara sekolah, pemerintah, dan dunia usaha dinilai menjadi langkah strategis ke depan. Dengan komitmen bersama, pendidikan diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam menciptakan generasi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Pada setiap perayaan Hardiknas, guru selalu ditempatkan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, ujung tombak pembangunan manusia, dan penentu masa depan bangsa. Semua itu benar, namun penghormatan tidak cukup berhenti pada kata-kata.
Pendidikan Berhasil, Kemiskinan Dapat Diputus
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan sekadar ranking internasional atau jumlah gedung baru. Ukurannya adalah apakah anak-anak Indonesia tumbuh percaya diri, sehat, cerdas, berakhlak, dan punya kesempatan adil meraih masa depan.
Jika pendidikan berhasil, kemiskinan dapat diputus, ketimpangan dipersempit, inovasi tumbuh, dan demokrasi menguat. Jika pendidikan gagal, berbagai masalah sosial akan terus diwariskan lintas generasi.
Karena itu, Hari Pendidikan Nasional tidak cukup diperingati dengan seremoni tahunan. Ia harus dihidupkan dalam kebijakan yang konsisten, keberpihakan yang nyata, dan kerja bersama yang berkelanjutan. Janji pendidikan Indonesia belum sepenuhnya tuntas. Tetapi janji itu masih bisa ditepati, selama bangsa ini mau menempatkan sekolah, guru, dan anak-anak sebagai pusat masa depan. Sebab di ruang kelas hari ini, sesungguhnya nasib Indonesia sedang ditulis.(*).
Oleh: Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dan Ketua PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) Dr. Zainal Habib, M.Hum





