Peweimalang.com, Kab Malang – Perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus dilakukan upaya pemadaman api, baik dari darat dilakukan pemadaman dengan cara manual dan menggunakan mobil pemadam kebakaran (damkar). Pemadaman api juga dilakukan melalui udara dengan menggunakan helikopter water bombing dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Titik api mulai terpantau di kaldera Gunung Bromo di Bukit Jantur/Bantengan, di wilayah administratif Kabupaten Probolinggo pada tanggal 3 Agustus 2026, dan angin mengarah ke Kabupaten Malang, pada tanggal 5 Agustus 2026. Api juga sudah menjalar sampai ke wilayah administratif Kabupaten Malang. Dampak dari karhutla tersebut diperkirakan luas lahan totalnya mencapai 921,42 hektar. Dan data itu berkembang dalam proses pendataan ulang dengan jenis vegetasi cemara gunung, mentigen, akasia dan semak belukar.
Wilayah terdampak kebakaran hutan saat ini, terang Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan, Kamis (13/8), kepada wartawan, meluas di kawasan Pakis Bincil (-7.926112, 112.928825) dan Bukit Cinta mengarah ke Seruni Point (-7.909652, 112.945964), Dingklik. Sedangkan kebutuhan yang mendesak saat ini adalah percepatan penanganan water bombing.
“Pemadaman api dengan menggunakan manual tidak bisa mengatasi, sehingga harus dibantu dengan pemadaman lewat udara, yakni helikopter water bombing,” tegasnya.
Saat ini, dia katakan, tim gabungan berjibaku melakukan pemadaman dengan melaksanakan operasi pemadaman darat dengan pembuatan sekat bakar, serta pembasahan sisa bara api yang terjangkau dengan 1 unit armada truk pemadam dari TNBTS, 1 unit mobil tangki portabel dari TNBTS, 1 unit armada truk tangki dari BPBD Provinsi Jawa Timur (Jatim) dan 1 unit armada truk tangki dari BPBD Kabupaten Malang, Damkar Kota Surabaya, serta Badan SAR Nasional (Basarnas).
“BPBD Provinsi Jatim melanjutkan koordinasi dengan pihak TNBTS, BPBD Kabupaten Probolinggo, BPBD Kabupaten Malang dan BPBD Kabupaten Lumajang dan BMKG terkait perkembangan, pemantauan arah angin dan penanganan kebakaran hutan dan lahan,” paparnya.
Selain itu, tim gabungan, lanjut Sadono, melakukan penanganan darat di Pusung Duwur wilayah Dingklik dengan menggunakan gebyok dan unit mobil tangki, serta pembasahan di area yang dapat dijangkau. Dalam pemadaman api juga dibantu dengan 3 unit Helikopter PK-DAN dan PK-DBM dari BNPB, serta PK-DAP dari Pemerintah Provinsi Jatim.
Saat ini tim gabungan melanjutkan operasi water bombing di 1 titik target (Pusung Duwur wilayah Dingklik) yang sudah ditentukan. Sedangkan teknik pemadaman yang dilaksanakan, pada hari Rabu, 12 Agustus 2026, yakni dengan menggunakan 1 unit helikopter milik BNPB REG : PK-DBM AS35, 2 sortie (6 Rit @ 1.000 liter = 6.000 Liter ) di wilayah Pusung Duwur wilayah Dingklik.
Selanjutnya, masih dia katakan, 1 unit helikopter milik BNPB REG: PK – DAP, 2 Sortie (8 Rit @ 1.000 Liter = 8.000 Liter) di wilayah Pusung Duwur wilayah Dingklik. Dan 1 unit helikopter milik BNPB REG: PK – DAN, 2 Sortie (15 Rit @ 4.000 Liter = 60.000 Liter) wilayah Pusung Duwur wilayah Dingklik. Dengan hasil hot spot masih berasap di area wilayah Pusung Duwur, Dingklik.
“Untuk saat ini, teknik pemadaman yang dilaksanakan pada hari ini, dengan melakukan operasi water bombing dilaksanakan dengan 3 unit helikopter dari BNPB, yang diatur bergantian mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) penerbangan, dengan total 29 Rit (74.000 Liter),” pungkas Sadono.(*).





