Negara Denmark dan Swedia Konsisten Tempati Puncak Indeks Kebahagiaan Global

Negara Denmark dan Swedia Konsisten Tempati Puncak Indeks Kebahagiaan Global
Ilustrasi: Profesor Sosiologi Phil Zuckerman (Istimewa AI)

Peweimalang.com, Amerika Serikat – Phil Zuckerman seorang Profesor Sosiologi di Pitzer College, sebuah kampus humaniora swasta yang terletak di Claremont, California, Amerika Serikat, menulis buku yang berjudul Society Without God atau Masyarakat Tanpa Tuhan. Sedangkan dalam bukunya yang ditulis itu, mencontohkan negara Denmark dan Swedia secara konsisten menempati puncak indeks kebahagiaan global, dengan tingkat korupsi terendah dan angka kejahatan yang minim. Dengan melalui riset etnografi selama dua tahun, Zuckerman menemukan hal yang menantang asumsi umum, masyarakat paling sekuler di dunia justru mampu hidup lebih tertib, jujur, dan damai.

Agama Fondasi Mutlak Moralitas

Selama ini, banyak yang meyakini bahwa agama adalah fondasi mutlak moralitas. Sehingga tanpa Tuhan, masyarakat dianggap rentan jatuh dalam kekacauan. Namun, Zuckerman membalik asumsi tersebut. Karena dia mendapati bahwa warga Denmark dan Swedia tidak menjadikan konsep Tuhan sebagai pendorong utama dalam perilaku sehari-hari. Empati dan kepedulian sosial di sana lahir secara natural tanpa didorong oleh rasa takut akan hukuman atau harapan akan balasan di akhirat.

Jaminan Sosial Sebagai Kunci

Jaminan sosial sebagai kunci Zuckerman berpendapat bahwa kebaikan dapat tumbuh subur melalui penguatan sistem sosial. Di Skandinavia sendiri, negara menjamin kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan secara merata. Hal ini menciptakan rasa aman kolektif yang tinggi. Sebaliknya, Zuckerman menyoroti bahwa di beberapa negara yang sangat religius, ketergantungan pada agama sering kali tumbuh dari kecemasan sosial yang tidak terakomodasi oleh negara. Sedangkan dalam konteks ini, religiositas terkadang menjadi pelarian atas ketidakadilan struktural, alih-alih cerminan keimanan yang murni.

Refleksi untuk Indonesia

Buku yang ditulis Zuckerman tidak mengajak pembaca untuk meninggalkan agama, melainkan menawarkan sudut pandang berbeda mengenai bagaimana solidaritas bisa dibangun. Pluralisme sejati dalam narasi ini, tidak hanya soal menghormati perbedaan keyakinan, tetapi juga mengakui ketiadaan agama sebagai pilihan hidup yang bermartabat. Bagi masyarakat majemuk seperti Indonesia, temuan Zuckerman memberikan tantangan sekaligus refleksi.

Pertanyaan yang mendasar bukan lagi soal keberadaan Tuhan dalam ruang publik, melainkan kejujuran terhadap diri sendiri. Apakah kebaikan kita lahir dari nilai kemanusiaan yang tulus, atau sekadar didorong oleh identitas kelompok?. Zuckerman tidak memberikan jawaban final, namun ia berhasil memaksa pembacanya untuk menatap cermin yang tidak nyaman, sehingga membedakan antara iman kepada nilai dan iman kepada sekadar identitas.(*).

Oleh : Profesor Sosiologi Phil Zuckerman*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *