Peweimalang.com, Malang – Kota yang disebut kota dingin selain Kota Bogor, yang saat itu juga disebut Kota Bunga menjadi impian masyarakat Indonesia yang tidak hanya melanjutkan pendidikan tinggi atau kuliah, tapi tidak sedikit para pejabat tinggi negara juga banyak yang memiliki rumah di kota pendidikan tersebut.
Dengan suhu udaranya yang sejuk dan sering diguyur hujan, yang menjadi catatan adalah masyarakatnya juga ramah dan masih memiliki tata krama dan budaya yang terus dijaga. Namun, dengan suhu udara yang sejuk yang diselingi rintikan hujan, tentunya membuat beberapa pejabat di lingkungan pemerintah daerah juga merasakan kesejukan udara yang dingin dan betah di kantor, apalagi diluar kantor masih diguyur hujan. Dengan betah di kantor hingga malam, hal ini membuat salah satu pejabat mencoba sensasi baru untuk ditemani staf wanitanya di ruang kerjanya.
Awalnya hanya menamani saja sambil mengombrol terkait pekerjaan, lama kelamaan keduanya saling menaruh hati atau saling jatuh cinta. Padahal, pejabat laki-laki yang berpangkat Eselon II atau Kepala Dinas (Kadis) sudah beristri dan pejabat wanita berpangkat Kepala Seksi (Kasi) berstatus janda yang tinggal suaminya meninggal dunia. Sehingga sudah jatuh cinta keduanya itu, maka setiap hari pulang jam kerja, keduanya selalu pulang malam. Dan tidak selalu dalam ruangan saja, namun tidak jarang melanjutkan memadu cintanya di kamar hotel.
Keduanya sebelum jatuh cinta, memang statusnya antara pimpinan dan bawahan. Awalnya di jam kerja, si wanita itu selalu melaporkan hasil kerjanya. Si wanita itu mengetuk pintu, lalu disuruh masuk ke rungannya oleh Pak Kadis, yang pintunya dibuka perlahan. “Kata Pak Kadis ada apa?, ini pak mengantarkan berkas dokumen untuk direvisi. Lalu stafnya disuruh taruh di meja, nanti saya revisi. Namun sebelum stafnya pergi, Pak Kadis kembali bersuara, kami kok belum pulang?. Langsung dijawab stafnya masih ada laporan yang harus dikirim malam ini. “Kamu kok rajin sekali,” kata Pak Kadis.
Kalimat sederhana itu terdengar biasa. Tetapi sejak itu, perhatian-perhatian kecil perlahan mengubah hubungan mereka. Awalnya hanya diskusi masalah pekerjaan. Lalu makan siang bersama setelah rapat luar kantor. Kemudian obrolan panjang lewat pesan singkat hingga larut malam. Si wanita sebenarnya sadar hubungan itu tidak seharusnya terjadi. Selain Pak Kadis adalah atasannya, pria itu juga telah berkeluarga dan dikenal sebagai pejabat yang disegani di lingkungan pemerintah daerah. Karena si wanita itu selalu mendapatkan perhatian yang membuat merasa dihargai.
Di suatu malam saat keduanya duduk di sebuah kafe di luar kota usai perjalanan dinas. Pak Kadis sampaikan kepada stafnya itu, “Kamu punya masa depan yang bagus,” kata Pak Kadis. Dengan ucapan Pak Kadis itu, telah membuat stafnya terus teringat. Sehingga dengan kedekatannya itu, hubungan mereka semakin dekat, meski keduanya berusaha menutupinya rapat-rapat. Mereka selalu menjaga jarak di kantor. Dan tidak pernah terlihat bersama terlalu lama. Tetapi lingkungan birokrasi adalah tempat di mana kabar kecil bisa tumbuh menjadi bisik-bisik panjang.
Dari perjalanan kisah cintanya tersebut, ada beberapa pegawai mulai curiga. Pak Kadis sekarang sering banget ngajak Bu Kasi ikut dinas luar, Dengan kecurigaan para stafnya, tentunnya gosip berkembang cepat. Namun tidak ada yang berani bicara terang-terangan. Pada suatu suatu pagi, sebuah foto anonim tersebar di grup percakapan pegawai. Foto itu memperlihatkan Pak Kadis dan Bu Kasi sedang duduk berdua di restoran hotel saat perjalanan dinas ke Surabaya. Sehingga dengan foto yang beredar itu, di kantornya jadi gempar. Bahkan, Pak Kadis dipanggil langsung oleh Inspektorat Daerah. (bersambung).(*).
