Burung Kicau Terancam Punah, PCBA Jaga Melalui Upaya Penangkaran

Burung Kicau Terancam Punah, PCBA Jaga Melalui Upaya Penangkaran
Jalak Suren (Sturnus contra) yang ditangkarkan oleh PCBA sebelum dilepaskan ke alam atau habitatnya (Foto : Mongabay)

Peweimalang.com, Pasuruan – Conservation Breeding Ark (PCBA), memberikan harapan bagi burung kicau yang terancam kepunahan. Dan untuk menjaga kepunahan pada burung berkicau tersebut, yakni dijaga melalui upaya konservasi berbasis penangkaran. Sedangkan penangkaran burung kicau tersebut berlokasi di kaki Gunung Arjuna, di wilayah Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, dengan fasilitas lahan seluas 360 hektar. Tentunya, ini menjadi rumah bagi ratusan spesies, dengan fokus pada satwa yang terlupakan, dan jarang mendapat perhatian.

Di bawah kurasi Jochen Klaus Menner, PCBA tidak hanya mengembangbiakkan burung seperti Zosterops flavus dan Copsychus barbouri, tetapi juga memastikan keberlangsungan genetik dan perilaku alaminya tetap terjaga sebagai bekal kembali ke alam liar. Sehingga upaya ini dilakukan melalui kolaborasi multipihak, di mana PCBA berperan dalam penangkaran, sementara pemerintah dan lembaga lain menjaga habitat alami satwa. Pendekatan ini terbukti berhasil, salah satunya pada pelepasliaran Sturnus contra yang populasinya terus berkembang setelah kembali ke alam.

Demikian yang ditulis Eko Widianto melalui Mongabay, pada (20/3). Menurutnya, PCBA juga aktif melakukan edukasi kepada masyarakat untuk menekan perburuan burung di alam, seperti pada konservasi Zosterops flavissimus di Wakatobi. Dengan pendekatan terintegrasi ini, PCBA menjadi benteng penting dalam menyelamatkan burung kicau dari ancaman kepunahan. Suara burung kicau di sekitar PCBA menjadi hiburan Jochen Klaus Menner setiap pagi. Kurator PCBA, pria berkewarganegaraan Jerman ini memang mendedikasikan hidupnya untuk konservasi satwa, khususnya burung. Jochen tinggal di area PCBA yang berada di dalam Taman Safari Indonesia (TSI) Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur (Jatim). “Dia tinggal bersama istrinya yang juga dokter hewan dan anaknya yang balita,” tuturnya.

Dedikasi Jochen, kata dia, muncul setelah ratusan burung pleci flavus (kacamata Jawa (Zosterops flavus) dalam satu sangkar yang semua hasil tangkapan dari alam. Burung ini, kata Jochen, sebelumnya jamak ditemukan di kebun-kebun warga. Namun, kompetisi burung berkicau memicu penangkapan besar-besaran. Sehingga pasti ada dampak akibat menurunnya populasi alami di dalam ekosistem. Selain itu, Jochen juga mengamati murai maratua (Copsychus barbouri) berstatus terancam punah atau endangered/ vulnerable berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List. Murai Maratua dari Maratua, pulau kecil di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. “Di penangkaran nggak ada. Saya datang ke Indonesia 2018, ternyata ketemu beberapa individu dijual di Facebook.

“Ada akun Facebook yang mengunggah dan memperdagangkan murai Maratua. Beruntung dia berhasil menyelamatkan delapan individu terdiri atas tiga jantan, dan lima betina. Hasilnya, kini  berkembang menjadi 95 murai. Sehingga butuh konservasi ex-situ. Kalau tidak, bakal punah. Tidak ada pilihan lain,” katanya.

Eko menyampaikan, PCBA berdiri di Kaki Gunung Arjuna, wilayah dengan kondisi iklim mendukung. Dengan luas 360 hektar, terdiri atas 255 kandang. PCBA menjadi pusat pengembangbiakan satwa terancam punah dan endemik Indonesia. Fokus spesies terlupakan (forgotten spesies) dan tidak terperhatikan. Berbeda dengan lembaga lain yang menyelamatkan satwa karismatik (charismatic megafauna). Satwa karismatik adalah satwa besar atau ikonik yang sering digunakan kampanye konservasi untuk melindungi ekosistem, seperti gajah, orang utan dan harimau. Selain burung, PCBA juga konservasi mamalia, reptil dan ikan, seperti ikan, PCBA fokus dengan dua kelompok., antara lain berasal dari Indonesia Timur, yang berada di hutan gambut, dan air hitam. “Satu lagi di Papua Barat, dua-duanya kelompok ikan yang sangat terancam, karena habitatnya sangat kecil,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI) Rahmat Shah, mendorong lembaga konservasi  (LK) ex-situ untuk mereplikasi  konservasi satwa model PCBA. PKBSI beranggotakan 60 lembaga konservasi. Dia sarankan upaya konservasi merujuk pada kebutuhan masing-masing daerah. Sehingga sesuaikan dengan skala prioritas dan disesuaikan dengan kondisi daerahnya. Satwa merupakan titipan buat anak cucu jadi harus dijaga dari ancaman kepunahan. “Kami mengingatkan kepunahan harimau untuk menjadi pelajaran sekaligus tak terulang kembali. Kita dulu punya tiga jenis harimau. Harimau Bali, Jawa, dan Sumatera. Sekarang harimau Bali, dan Jawa sudah punah,” Tandasnya.(*).

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *