UMM Bangun Sistem Pengolahan Sampah Terpadu, Perkuat Komitmen SDGs
- calendar_month 8 jam yang lalu

Mesin pengolahan sampah buatan dosen dan mahasiswa UMM sebagai langkah memperkuat lomitmen SDGs. (Foto : Humas UMM)
Peweimalang.com, Kota Malang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan langkah konkret melalui pembangunan sistem pengolahan sampah terpadu di Tempat Penampungan Sementara (TPS) kampus. Inisiatif ini tidak hanya menjadi upaya menjawab tantangan pengelolaan limbah, tetapi juga memperkuat komitmen kampus terhadap pembangunan berkelanjutan, target Sustainable Development Goals (SDGs).
Langkah diatas tersebut juga untuk mendukung indikator penilaian UI GreenMetric World University Rankings. Program tersebut menghasilkan tiga unit mesin pengolahan sampah yang dirancang, diproduksi, dan diinstalasi secara terintegrasi oleh tim internal kampus.
Berdasarkan laporan kegiatan, kampus putih dengan populasi sekitar 35.000 warga akademik menghasilkan sekitar 1,2 ton sampah setiap hari. Sampah tersebut terdiri atas plastik sebesar 45 persen atau sekitar 540 kilogram per hari, limbah organik terkontaminasi plastik sebanyak 360 kilogram (30 persen).
Termasuk pula limbah ranting mencapai 300 kilogram atau 25 persen. Sebelum proyek berjalan, TPS UMM hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan tanpa teknologi pengolahan. Sehingga sebagian besar sampah masih bergantung pada proses pengangkutan keluar kampus.
Ketua pelaksana proyek, Ir. Iis Siti Aisyah, ST., MT., PhD., IPM, mengatakan pembangunan sistem tersebut berawal dari kebutuhan kampus untuk menunjukkan pengelolaan lingkungan yang terukur dalam proses evaluasi GreenMetric. “Awalnya tim GreenMetric membutuhkan bukti bahwa kampus memiliki sistem pengolahan sampah yang nyata untuk mendukung akreditasi dan pemeringkatan lingkungan,” ujarnya, Senin (23/02).
Proyek ini dikerjakan oleh Professional Center Teknik Mesin (PROCENTM) UMM yakni unit profesional di bawah Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik yang biasa menangani proyek rekayasa industri. Seluruh proses mulai dari desain teknik, manufaktur, hingga instalasi dilakukan oleh tim internal yang melibatkan dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa melalui skema pembelajaran berbasis proyek.
“Semua desain kami kerjakan sendiri bersama tim Teknik Mesin. Unit ini memang dibentuk untuk mengerjakan proyek profesional sekaligus menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa agar terlibat langsung dalam pekerjaan industri,” kata Iis.
Tiga alat utama yang dipasang meliputi mesin pencacah plastik berkapasitas 100–250 kilogram per jam yang mampu menghasilkan serpihan berukuran 5–10 milimeter untuk meningkatkan nilai jual limbah botol plastik, mesin pencacah ranting berkapasitas hingga 300–500 kilogram per jam yang menghasilkan serbuk biomassa sebagai bahan media tanam atau kompos. Serta alat pemisah sampah organik berbasis sensor inframerah dengan efisiensi pemilahan mencapai 90–92 persen.
Sistem tersebut dirancang sebagai alur pengolahan terpadu. Sampah campuran dari kantin maupun aktivitas kampus dapat dimasukkan langsung bersama kantong plastiknya ke mesin pemilah. Plastik ringan akan terlempar ke bagian belakang, sementara sisa makanan dan limbah organik mengalir ke bagian depan untuk proses lanjutan.
Lebih jauh, Iis menjelaskan bahwa tim perancang menyiapkan konsep pengembangan menuju zero waste. Limbah organik cair direncanakan dialirkan secara gravitasi menuju toren fermentasi karena posisi TPS berada di area lereng, sehingga tidak membutuhkan pompa tambahan.
“Kami ingin sistem ini benar-benar zero waste. Limbah organik nantinya bisa difermentasi menjadi biogas. Tekanan gasnya bisa diteliti mahasiswa, bahkan dimanfaatkan sebagai bahan bakar insinerator kecil,” jelasnya.
Ke depan, sistem pengolahan sampah terpadu ini diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas teknis, tetapi juga pusat edukasi lingkungan dan inovasi riset berkelanjutan. Optimalisasi operasional, peningkatan pasokan sampah organik, serta keterlibatan mahasiswa dalam penelitian biogas dan daur ulang diyakini mampu mendorong lahirnya solusi baru berbasis teknologi tepat guna.
Dengan pengembangan berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor, fasilitas ini berpotensi menjadi model pengelolaan sampah kampus yang mandiri, efisien, sekaligus menginspirasi institusi pendidikan lain untuk bergerak menuju masa depan yang lebih hijau dan minim limbah.
- Penulis: Redaksi
- Editor: PWI Malang Raya










Saat ini belum ada komentar