HUT ITN Malang ke-57 sebagai Perayaan Pengabdian Membesarkan Kampus

HUT ITN Malang ke-57 sebagai Perayaan Pengabdian Membesarkan Kampus
Foto bersama Rektor, Ketua Yayasan dan para dosen serta staf purna tugas sekaligus tasyakuran HUT ke 57.

Peweimalang.com, Kota Malang – Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menggelar tasyakuran di ulang tahun yang 57. Tak sekadar seremoni rutin, melainkan menjadi sebuah “ajang sambung rasa” para purna tugas dosen, dan staf. Khususnya mereka yang telah mendedikasikan usianya untuk membesarkan kampus teknik tertua di Jawa Timur ini.

Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., dalam sambutannya yang hangat tak bisa menyembunyikan rasa harunya melihat antusiasme para purna tugas yang hadir. Baginya, kehadiran mereka adalah bukti cinta yang tidak luntur oleh waktu.

Bacaan Lainnya

“57 tahun itu bukan usia yang muda. Lebih dari lima dekade, ITN sudah mencetak generasi yang berkontribusi untuk negara, dan itu semua berkat jasa Bapak dan Ibu sekalian,” ungkap rektor.

Namun, di balik rasa syukur rektor juga memberikan pengingat penting melalui filosofi Jawa, “Eling lan Waspodo”. Ia mengajak seluruh sivitas dan yang hadir untuk tidak terlena. Meski tim promosi sudah bekerja luar biasa menjangkau ratusan titik di Indonesia, kunci utamanya tetap ada pada sinergi pelayanan dalam kampus.

“Kita harus sadar, mahasiswalah yang memberi kita kehidupan. Mari lupakan hal-hal yang tidak nyaman di masa lalu. Kita satukan hati, berikan pelayanan terbaik agar kepercayaan masyarakat semakin meningkat. ITN harus tetap hadir dan berdampak nyata bagi bangsa,” tegasnya.

Sementara, sambutan Ketua Perkumpulan Pengelola Pendidikan Umum dan Teknologi Nasional Malang (P2PUTN), Ir. Kartiko Ardi Widodo, MT, membawa hadirin menyusuri lorong waktu. Ia mengisahkan bagaimana ITN bermula pada tahun 1969 dari sebuah diskusi di rumah kecil hingga akhirnya berkembang menjadi kampus besar di Sigura-gura dan Karanglo.

“ITN berdiri karena kerja keras kolektif dari generasi ke generasi. Masa depan kita ditentukan oleh keberanian dan komitmen kita hari ini. Riset dari kampus ini jangan hanya berhenti di kelas, tapi harus turun ke masyarakat sebagai solusi teknologi terapan,” ujarnya.

Momen paling berkesan muncul saat para purna tugas berbagi cerita. Ir. Drs. Sudjad, MT, mewakili paguyuban pensiunan sekaligus purna dosen menyatakan kesiapan para senior untuk tetap “ngrasani” (membicarakan) ITN dalam koridor positif dan membantu almamater bangkit kembali.

Cerita unik datang dari purna staf, L. Hermin Dwi Yuniarti. Ia mengenang masa mengabdi selama 38 tahun sejak kampus masih di Raya Langsep. “Dulu saya masuk zamannya masih pakai kursi seng sampai sering masuk angin, lalu ganti kursi rotan. Belum ada komputer, masih memakai mesin ketik, sampai akhirnya saya merasakan kursi putar, dan komputer. Perjalanan ini yang membuat saya kuat,” kenangnya disambut tepuk tangan hadirin. Ia berpesan agar generasi muda ITN tetap punya semangat juang yang sama meski kini fasilitas sudah jauh lebih nyaman.

Senada dengan itu, Drs. Edi Sukarjo, MM, juga menceritakan lika-liku awalnya melamar kerja di bagian Laboratorium Bahasa hingga dedikasinya di perpustakaan sebagai bentuk kepatuhan pada aturan institusi yang membesarkannya.

Acara tasyakuran ditutup dengan prosesi potong tumpeng oleh Rektor ITN Malang yang diserahkan kepada Ketua P2PUTN. Potongan tumpeng ini menjadi simbol kebersamaan yang kokoh antara yayasan, pimpinan, staf aktif, hingga para purna tugas.

Di usia ke-57 ini, ITN Malang seolah sedang mengumpulkan kembali serpihan semangat dari para perintisnya untuk berlari lebih kencang menghadapi tantangan zaman.

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *