Peweimalang.com, Kota Malang – Nabillah Ulil Fikriyah (22) tampak memancarkan pesona sempurna di media sosial. Mahkota runner-up Putra Putri Parekraf Jawa Timur menghiasi kepalanya, deretan foto di puncak gunung memenuhi feed-nya, dan senyumnya selalu hadir dalam setiap kunjungan ke desa-desa binaan.
Namun di balik semua potret itu, tersimpan kisah panjang tentang keraguan, kegagalan, dan perjalanan menemukan makna keberanian yang sebenarnya.
Cerita Nabillah dimulai dengan penantian panjang. Sejak menjadi mahasiswa baru Fakultas Humaniora tahun 2021, ia sudah tertarik dengan dunia volunteering. Namun akses terbatas, informasi minim, dan kebingungan cara mendaftar membuatnya hanya bisa memendam keinginan itu.
“Aku memendam rasa penasaran sampai tahun 2023. Akhirnya aku memutuskan untuk nekat, bukan memaksakan, tapi nekat,” kenangnya.
Keputusan nekat itu mengantarkannya ke Desa Sembalun, kaki Gunung Rinjani, Lombok, pada Januari 2023. Melalui Ekspedisi Pelosok Negeri, untuk pertama kalinya ia keluar Jawa sendirian dengan misi mengabdi dan bertemu anak-anak muda dari seluruh Indonesia.
Pengalaman tujuh hari di Lombok itu mengubah cara pandangnya tentang Indonesia. Ia melihat saudara-saudara sebangsanya yang hidup sangat berbeda dari segi pendidikan, demografi, hingga kultur. Di sinilah ia mulai memahami bahwa volunteering bukan hanya tentang memberi, tapi tentang belajar melihat Indonesia dari sisi lain.
Dunia beauty pageant datang sebagai kejutan. Ketika dosennya merekomendasikan untuk mendaftar Putra Putri Parekraf Jawa Timur, Nabillah yang sama sekali tidak mengerti pageant hanya bisa bilang, “Ya, coba-coba aja.”
Tanpa official, tanpa tim, bahkan tanpa teman pendamping, ia mengurus semuanya sendiri. Dari wardrobe, makeup, hingga latihan, semuanya otodidak.
“Literally aku belum pernah mengerti beauty pageant itu seperti apa. Jadinya semua aku urus sendiri,” ungkapnya kepada penulis, Minggu (9/11/2025).
Hasilnya? Runner-up tingkat Jawa Timur, lalu melaju ke nasional dengan persiapan hanya sebulan. Di tingkat nasional, ia meraih Best Speech 2024. Pencapaian yang ia sebut sebagai plot twist dan rezeki yang datang di tempat tak terduga.
Namun yang lebih penting dari gelar adalah apa yang ia lakukan setelahnya. Nabillah menggunakan platformnya untuk menjalankan advokasi di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif. Ia mengunjungi desa-desa binaan, destinasi wisata, dan UMKM lokal. Bahkan setelah masa jabatannya berakhir di 2024, ia tetap aktif berbarengan dengan generasi Parekraf 2025.

Dalam perjalanannya sebagai duta, Nabillah banyak bertemu dengan pelaku UMKM, seniman, komunitas lokal, hingga tokoh daerah. Dari setiap pertemuan, ia menemukan satu pola yang sama: perempuan punya peran besar, tapi suaranya seringkali belum terdengar cukup keras.
“Aku sering menemukan momen di mana aku harus berani menyampaikan pendapat, walaupun mungkin aku satu-satunya perempuan di situ,” katanya. “Awalnya ada rasa ragu, takut dianggap terlalu vokal. Tapi justru di situlah aku belajar bahwa keberanian itu menular,” imbuhnya.
Pengalaman serupa ia rasakan saat mendaki gunung, di mana ia sering dikelilingi mayoritas laki-laki. Ada masa-masa ia ragu apakah bisa sampai puncak. Tapi justru dari situ ia belajar bahwa batas sering kali bukan ada di tubuh, tapi di pikiran.
Baginya, menjadi perempuan yang bersuara bukan tentang ingin lebih menonjol dari laki-laki, tapi tentang menegaskan bahwa perempuan juga punya sudut pandang, gagasan, dan cara memimpin yang berharga.
“Kesetaraan itu hidup dalam tindakan kecil seperti berani menyampaikan ide, mendengarkan dengan hati, dan menciptakan ruang aman bagi siapapun untuk berkembang,” ungkapnya.
Seperti banyak orang yang tampil di ruang publik, Nabillah juga mengalami cemoohan. Ada yang mengomentari penampilannya, cara bicaranya, hingga meremehkan kontribusinya.
“Kadang komentar itu datang bukan karena mereka benar-benar tahu aku, tapi karena mereka cuma lihat dari permukaan saja,” ucapnya.
Awalnya menyakitkan. Ia merasa sudah berusaha sebaik mungkin, tapi tetap saja ada yang tidak puas. Namun lama-lama, ia belajar bahwa tidak semua orang akan mengerti perjalanannya dan itu tidak menjadi masalah.
“Aku belajar untuk tidak menyimpan energi ke hal-hal yang tidak bisa aku kontrol. Yang bisa aku lakukan adalah terus tumbuh, terus membuktikan dengan karya dan sikap,” tegasnya.
Pengalaman itu justru membuatnya makin kuat. Ia sadar bahwa orang boleh saja meremehkan, tapi mereka tidak bisa menahan langkahnya. Yang terpenting, ia menemukan bahwa validasi terbaik bukan datang dari pujian orang, tapi dari ketenangan hati saat tahu ia berjalan di jalan yang benar.
Dari semua pengalamannya, baik sebagai volunteer, pendaki, brand ambassador maupun duta, Nabillah belajar bahwa keberanian punya banyak wajah. Bukan hanya soal lantang bersuara atau menaklukkan puncak tertinggi, tapi juga tentang hal-hal sederhana yang sering terlupakan.
“Keberanian itu bisa berarti berani bilang ‘aku bisa’, berani gagal tapi tidak lagi, atau berani tetap lembut di dunia yang keras,” jelasnya. “Semua itu berharga.”
Sebagai brand ambassador juga, ia menyadari bahwa posisinya bukan hanya soal mempromosikan produk, tapi membawa pesan bahwa perempuan tidak harus mengikuti standar siapapun untuk bisa dibilang berharga. “Kita bisa cantik dengan cara kita sendiri, bisa kuat tanpa kehilangan kelembutan, dan bisa berpengaruh tanpa harus keras.”
Ada satu pesan yang Nabillah sampaikan kepada perempuan muda Indonesia: “Tidak apa-apa kalau perjalananmu masih jauh, tidak apa-apa kalau kadang kamu takut, gagal, atau merasa belum cukup. Karena setiap orang punya ritmenya sendiri.”
Ia mengajak untuk tidak mengukur diri dari pencapaian orang lain, tapi dari seberapa dalam belajar, seberapa sering bangkit, dan seberapa besar hati untuk terus berbuat baik.
“Gunung tertinggi itu bukan yang ada di peta, tapi yang ada di dalam dirimu, rasa takut dan ketidakpercayaan diri,” katanya dengan yakin. “Kalau kamu berhasil menaklukkan itu, berarti you’re the best. Kamu sudah menang bukan atas orang lain, tapi atas dirimu sendiri.”
Kini, dengan tiga tahun pengalaman volunteering, pendakian gunung, dan sederet pencapaian di dunia pageant dan pariwisata, Nabillah tetap rendah hati. Ia masih rutin mendaki gunung, aktif sebagai volunteer, dan terus menjalankan advokasi untuk pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Kadang orang cuma lihat hasil akhirnya, foto di puncak, foto di panggung. Tapi yang paling berharga justru proses di baliknya, lelahnya, ragu-ragunya, jatuh bangunnya, dan keberanian untuk tetap melangkah,” refleksinya.
Bagi Nabillah, hidup bukan soal siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang tetap punya hati di sepanjang perjalanan. Dan perempuan yang paling kuat bukan yang paling sempurna, tapi yang tetap lembut bahkan setelah melewati banyak hal.





