UIN Maliki Malang Siap Kembangkan Ekoteologi di Pondok Pesantren

Peweimalang.com, Kota Malang – Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang siap melakukan pendampingan pembangunan ekoteologi untuk pondok pesantren. Hal ini dikarenakan pembangunan kampus 3 menggunakan konsep ekoteologi atau green building dinilai strategis.

Rektor UIN Maliki Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M. Si., menegaskan bahwa program ekoteologi adalah program yang pendampingan pesantren dalam mewujudkan lingkungan yang ramah, berkelanjutan dan berwawasan ekologis, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

Bacaan Lainnya

“Konsep ini merupakan bentuk implementasi fiqh al-bi’ah (fiqih lingkungan) dan praktik rahmatan lil alamin dalam kehidupan pesantren,” kata Prof. Ilfi, Senin (6/10/2025).

Menurutnya, ekoteologi ini menjadi salah satu dari empat prioritas pada pondok pesantren saat ini, diantaranya manajemen konstruksi, pendampingan psikologi, ekonomi pesantren.

“Bagaimana bisa mewujudkan menjadi pesantren ramah lingkungan,” ujarnya.

UIN Maliki Malang juga telah berhasil membangun ekoteologi di Kampus 3 yang berada di Junrejo batu. Hal ini membuktikan bahwa UIN Maliki Malang memiliki kemampuan dalam pengembangan ekoteologi di dunia pesantren.

“UIN menjadi kampus ramah lingkungan, green building dan membutuhkan effort yang besar untuk tujuan yang mulia,” tegas Prof. Ilfi.

Prof. Ilfi menekankan bahwa ekoteologi di pesantrwn ini memiliki tujuan yang baik, mulai dari peningkatan kesadaran ekoteologi civitas pesantren, membangun budaya pesantren hijau, memberdayakan pesantren agar mandiri melalui sumber daya alam dan energi terbarukan.

Pertemuan Rektor UIN Maliki Malang dengan beberapa media

Lebih lanjut, untuk meningkatkan kapasitas dalam menerapkan prinsip berkelanjutan, hingga mewujudkan pesantren sebagai model pendidikan lingkungan berbasis islam.

“Nantinya, kami akan melakukan pelatihan eco-literacy (literasi lingkungan) kepada santri, workshop pengelolaan sampah, energi dan air bersih, hingga kegiatan urban farming dan eco enzym,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *