Peweimalang.com, Kota Malang – Ratusan massa berpakaian serba hitam yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Balai Kota Malang, Jawa Timur, Rabu 28 Oktober 2026 sore.
Meski diguyur hujan rintik-rintik, massa aksi yang memadati area Balai Kota sejak pukul 15.15 WIB tetap berorasi sambil membentangkan poster-poster berisi kritik tajam terhadap dua tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Beberapa tulisan yang diusung di antaranya ‘Bakar Rezim Pra-Gib’, ‘Bakar Kekuasaan Prabowo-Gibran, Padamkan Api Karhutla’, hingga ‘Your Greed Is Our Crisis’.
Pimpinan Kolektif Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu, Ardan, menegaskan bahwa aksi ini menjadi momentum bagi rakyat dari berbagai sektor untuk bersatu dan menyuarakan berbagai persoalan mendasar yang tak kunjung terselesaikan.
Dalam demonstrasi tersebut, massa mendesak pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional, memulihkan kondisi korban, serta mencabut izin dan menjatuhkan sanksi tegas kepada perusahaan yang bertanggung jawab.
Menuntut penurunan harga bahan pokok, pajak, biaya pendidikan, dan biaya kesehatan, serta menjamin pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) bagi masyarakat, dan meminta penyediaan lapangan kerja yang layak, kenaikan upah, serta penghapusan sistem kerja kontrak dan outsourcing (alih daya).
Selain itu, juga mendesak pemberian akses tanah, modal, dan teknologi bagi petani, nelayan, serta masyarakat miskin perkotaan, serta menyerukan penghentian dugaan penyelewengan anggaran negara, evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pembubaran Koperasi Desa Merah Putih.
Untuk itu, Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu meminta pengembalian militer ke barak, penuntasan dan pengadilan kasus pelanggaran HAM berat, serta pembubaran Batalyon Pembangunan (Yon TP).
Selain enam tuntutan di atas, Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu juga menyampaikan satu seruan nasional kepada seluruh elemen masyarakat untuk membangun kekuatan politik independen dan komite perlawanan rakyat di daerah-daerah.
“Harapan terhadap rezim yang berkuasa hari ini semakin menipis. Oleh karena itu, kami menyerukan seluruh rakyat Indonesia untuk membangun satu kekuatan politik dan komite perlawanan di berbagai daerah demi melawan penindasan dan merebut kembali kesejahteraan,” tegas Ardan.
Aksi berjalan dinamis dengan penyampaian orasi secara bergantian dari para koordinator lapangan. Melalui konsolidasi ini, aliansi berharap aspirasi yang mereka bawa dapat menjadi perhatian serius pemerintah sekaligus memantik kesadaran kritis masyarakat luas.





