Future Arabic Sebagai Cita-cita Penguatan Distingsi Perguruan Tinggi di Era Digital

Future Arabic Sebagai Cita-cita Penguatan Distingsi Perguruan Tinggi di Era Digital
Prof. Dr. Danial Hilmi, S.Hum., M.Pd., - Sekretaris Senat Akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Malang.

Oleh : Prof. Dr. Danial Hilmi, S.Hum., M.Pd

Sekretaris Senat Akademik Universitas

Peweimalang.com, Kota Malang – Sebagai warga Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri yang mengedepankan nilai spiritual, moral, dan intelektual tentunya harus memiliki kesadaran untuk memahami dan mengamalkan nilai keagaman yang notabene penguasaan bahasa Arab tidak dapat terbantahkan lagi. Oleh karena itu, penguatan bahasa Arab menjadi distingsi tersendiri pada suatu perguruan tinggi guna membangun pondasi yang kokoh dalam berinteraksi dengan orang lain untuk bertukar informasi dan gagasan yang diperkuat literasi yang mapan.

Usia UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang ke-65 sejatinya bukanlah usia yang muda namun justru sudah cukup tua untuk memperkuat Islamic Building sehingga pengalaman dan kiprahnya dalam penguatan bahasa Arab pun sudah tidak diragukan lagi. Disamping itu, bahasa Arab menjadi distingsi yang telah tetapkan kurang lebih 3 dekade lalu yang dilakukan pembelajaran intensif. Perjalanannya tidaklah mudah, terlebih metamorfosis perubahan sistem dari waktu ke waktu terus mengalami perbaikan demi perbaikan. Pergantian sistem bukanlah tanpa sebab, mengingat perkembangan belajar yang terus berubah serta karakteristik mahasiswa yang juga terdapat perbedaan. Hal inilah yang mendorong adaptasi belajar yang harus dipikirkan dan dilaksanakan dengan perencanaan yang cermat melalui sistem yang matang serta penguatan sumber daya manusia yang kompeten dan efektif.

Pada saat yang sama, bahasa Arab di era digital mengalami beberapa tantangan yang dapat mendisrupsi kompetensi dan penguasaan skill bahasa dikarenakan karakteristik generasi Z yang tidak lagi tangguh dalam belajar step by step. Keberadaan artificial intelligence cukup mengubah wajah pembelajaran bahasa Arab yang menjadikan pembelajar termanjakan oleh teknologi yang siap memberikan layanan informasi kapan dan dimana saja. Kondisi ini mendorong pendidik untuk mampu mengenali dan bertindak adaptif terhadap situasi belajar terkini dimana sumber belajar tidak lagi terpusat pada pendidik namun juga dapat diterima melalui teknologi artificial intelligence yang menjarah interaksi pendidik dan pembelajar itu sendiri.

Kiranya future Arabic menjadi motivasi tersendiri dalam melakukan personal branding khususnya dalam memperkuat bangunan kokoh pada diri pendidik dan pembelajar guna menempatkan bahasa Arab sebagai bagian dari dirinya dalam kaitannya dengan fungsi bahasa Arab sebagai modal untuk komunikasi dan interaksi efektif dalam melihat realitas dunia di era digital serta mampu memahami perkembangan teknologi modern yang harus diantisipasi secara cepat dan tepat.

Future Arabic dalam institusi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang seyogyanya menjadi model penguatan distingsi yang mengungkap perubahan paradigma dalam belajar bahasa Arab yang aktual dan adaptif sehingga dapat diimplementasikan dalam mengisi ruang-ruang internasionalisasi PTKIN dengan membentuk positioning bahasa Arab dalam komunikasi fungsional tanpa melulu menjadikan bahasa sebagai gramatika. Untuk mewujudkan future Arabic kiranya perlu diimplementasikan dalam proses pembelajaran bahasa Arab secara micro dengan mewadahi beberapa aspek diantaranya:

Pertama, merubah haluan pembelajaran bahasa Arab dari grammar centric menjadi berorientasi pada communication centric. Aspek ini perlu ditekankan dengan menyelenggarakan pembelajaran yang lebih dominan aspek fungsional komunikatif daripada gramatika sentris sehingga dikhawatirkan pembelajar terkendala untuk mengungkapkan penguatan berbahasanya lantaran takut mengalami kesalahan ataupun setiap ungkapan harus difikirkan terlebih dahulu bagaimana gramatika dipenuhi secara tepat.

Kedua, mengarahkan proses dari kitab centric menuju corpus centric dimana orientasi pembelajar di masa kini lebih cenderung pada belajar instan dan cepat sehingga kitab centric dipandang lama dan kuno yang menjadikan kitab sebagai sumber yang memiliki otoritas utama dalam menanamkan nilai. Sementara penguatan kompetensi bahasa Arab dapat diraih melalui corpus centric yang digali melalui big data yang tersedia secara global dan dapat membantu pencarian gaya bahasa, kosakata maupun pola kalimat yang relevan dengan super cepat.

Ketiga, mengakomodasi dominasi teacher centric menuju artificial intelligence powered companion. Pemanfaatan artificial intelligence di era digital tak terbantahkan lagi mengingat pengaruhnya dalam mengekang natural intelligence begitu kuat sehingga pemanjaan berfikir menjadi tren terkini sehingga bernalar kritis dan akurat mengalami degradasi. Hal tersebut mendorong future Arabic turut memformula ulang dari dominasi teacher centric menuju sebuah proses yang diperkuat oleh pemanfaatan artificial intelligence. Hal ini turut membentuk pola belajar yang adaptif dengan mengelaborasi pola lama yang diaktualisasikan dengan gaya modern.

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang terus merias wajahnya dengan internasionalisasi perguruan tinggi dengan semangat kompetitif tentunya harus terus memperkuat pondasi bahasa asing tak terkecuali bahasa Arab sehingga sistem dan proses pembelajarannya harus diformulakan dengan performa terbaiknya melalui bangunan kurikulum yang tepat, penguatan sumber daya manusia yang kompeten serta pemenuhan sarana dan prasarana yang memadai.

Sistem yang dibangun melalui komunikasi interaktif proses pembelajaran dengan mengedepankan fungsional yang dapat mewadahi kebutuhan dan kegunaan dalam produk yang dihasilkan. Terlebih pembentukan utuh cita-cita lembaga untuk membentuk instansi bertaraf internasional yang terus digaungkan tentunya membutuhkan peran serta seluruh elemen untuk menguatkan distingsi tersebut khususnya adaptasi dengan teknologi di era digital yang tidak dapat ditinggalkan dan justru harus diintegrasikan dalam pola belajar yang efektif dan efisien. Dengan demikian kesadaran civitas akademika untuk memperkuat aspek bahasa pada dirinya dengan difasilitasi oleh instansi akan menanamkan interkoneksi yang mapan dan saling menunjang peran masing-masing dalam merealisasikan tujuan tersebut.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *