Oleh : Prof. Dr. Mohammad Samsul Ulum, MA
Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Pendahuluan: Kebanggaan Akademik dan Tanggung Jawab Evaluasi
Perkembangan Pendidikan Bahasa Arab di perguruan tinggi Indonesia patut diapresiasi. Pertumbuhan program studi, peningkatan kualifikasi akademik dosen, lahirnya lulusan doktor, serta bertambahnya publikasi ilmiah merupakan bagian dari ikhtiar membangun tradisi akademik yang lebih kuat. Dalam konteks ini, Program Studi Doktor Pendidikan Bahasa Arab di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki posisi penting dalam pengembangan keilmuan, penguatan kapasitas akademik, dan pembentukan sumber daya manusia di bidang Pendidikan Bahasa Arab.
Capaian tersebut patut disyukuri dan diapresiasi sebagai bagian dari kontribusi nyata pendidikan tinggi. Namun, capaian akademik juga perlu menjadi momentum untuk merefleksikan sejauh mana kontribusi tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat. Keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari jumlah lulusan dan publikasi ilmiah yang dihasilkan, tetapi juga dari kemampuannya menerjemahkan pengetahuan akademik menjadi solusi atas persoalan nyata serta menjawab kebutuhan masyarakat.
Pertanyaan pentingnya bukan semata-mata berapa banyak penelitian telah dilakukan atau berapa banyak doktor telah dihasilkan, melainkan bagaimana pengetahuan yang dikembangkan di perguruan tinggi berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan kompetensi berbahasa Arab. Pertanyaan ini bukan bentuk pengingkaran terhadap capaian akademik, melainkan upaya menjadikan capaian tersebut sebagai pijakan untuk melakukan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan.
Perjalanan dan Capaian: Lebih dari Sekadar Menghasilkan Doktor
Pendidikan Bahasa Arab telah berkembang melalui berbagai tradisi keilmuan, mulai dari pengajaran yang berorientasi pada penguasaan kaidah dan teks hingga pendekatan yang memberi perhatian lebih besar pada penggunaan bahasa dalam konteks komunikasi. Perkembangan tersebut menuntut lembaga pendidikan tinggi untuk terus mengkaji hubungan antara teori bahasa, teori pembelajaran, praktik pengajaran, dan kebutuhan peserta didik.
Kehadiran pendidikan doktoral menjadi penting karena memungkinkan kajian Pendidikan Bahasa Arab dikembangkan secara lebih mendalam, kritis, dan sistematis. Penelitian doktoral idealnya tidak hanya menghasilkan pengembangan teori atau model pembelajaran, tetapi juga menawarkan pemecahan masalah yang dapat diuji, diterapkan, dan dievaluasi dalam konteks pembelajaran yang nyata.
Karena itu, kontribusi pendidikan doktoral perlu dilihat melalui dua dimensi yang saling melengkapi. Dimensi pertama adalah kontribusi keilmuan, seperti pengembangan teori, metodologi penelitian, kurikulum, bahan ajar, dan sistem evaluasi. Dimensi kedua adalah kontribusi praktis, yakni sejauh mana hasil pengembangan tersebut membantu guru, dosen, lembaga pendidikan, dan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran secara lebih efektif.
Kedua dimensi ini tidak selalu menghasilkan dampak secara langsung. Penelitian akademik memerlukan proses diseminasi, adaptasi, implementasi, dan evaluasi sebelum manfaatnya dapat dinilai. Oleh sebab itu, hubungan antara produktivitas akademik dan perbaikan pembelajaran perlu ditelusuri berdasarkan bukti, bukan diasumsikan telah terjadi hanya karena jumlah penelitian atau lulusan meningkat.
Produktivitas Akademik dan Kompetensi Bahasa Arab
Salah satu tantangan penting Pendidikan Bahasa Arab adalah memastikan bahwa pengembangan akademik berhubungan dengan kompetensi yang hendak dicapai peserta didik. Penelitian yang berkualitas perlu memiliki keterkaitan yang jelas dengan persoalan pembelajaran, karakteristik peserta didik, lingkungan penggunaan bahasa, serta hasil belajar yang dapat diamati.
Dalam pembelajaran bahasa kedua, proses pemerolehan bahasa tidak cukup dipahami sebagai penguasaan pengetahuan tentang struktur bahasa. Peserta didik juga membutuhkan paparan bahasa yang dapat dipahami dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan menggunakan bahasa. Krashen (1982), melalui hipotesis input dalam teori pemerolehan bahasa kedua, menekankan pentingnya comprehensible input. Gagasan tersebut dapat menjadi salah satu perspektif untuk menilai ketersediaan dan kualitas input bahasa Arab dalam lingkungan belajar. Namun, perspektif ini bukan satu-satunya penjelasan tentang pemerolehan bahasa dan perlu dibaca secara kritis bersama teori serta temuan penelitian lainnya.
Implikasinya, penelitian Pendidikan Bahasa Arab perlu menelaah bukan hanya ketepatan materi dan metode yang digunakan, tetapi juga kualitas input bahasa, intensitas keterlibatan peserta didik, kesempatan berinteraksi, dan perkembangan kompetensi mereka. Penilaian terhadap keberhasilan pembelajaran seharusnya didasarkan pada bukti hasil belajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, bukan semata-mata pada terselesaikannya materi atau banyaknya kaidah yang telah diajarkan.
Kerangka Common European Framework of Reference for Languages (CEFR) dapat dimanfaatkan sebagai salah satu rujukan untuk merumuskan dan menjelaskan kompetensi bahasa secara lebih terukur. CEFR Companion Volume menyediakan deskriptor kemampuan berbahasa untuk berbagai aktivitas, termasuk resepsi, produksi, interaksi, dan mediasi (Council of Europe, 2020). Kerangka ini bukan standar yang harus diterapkan secara mekanis pada semua konteks pembelajaran bahasa Arab di Indonesia, tetapi dapat diadaptasi secara kritis sesuai tujuan program, karakteristik peserta didik, dan lingkungan penggunaan bahasa.
Dengan demikian, hubungan antara produktivitas akademik dan kompetensi peserta didik perlu dibangun melalui mekanisme yang jelas: penelitian mengidentifikasi persoalan, pengembangan akademik menawarkan solusi, praktik pembelajaran menguji solusi tersebut, dan evaluasi menilai hasilnya. Rangkaian ini akan membuat penelitian lebih bermakna bagi pengembangan ilmu sekaligus lebih bermanfaat bagi masyarakat.
Membaca Keragaman Kebutuhan Bahasa Arab Masyarakat Indonesia
Bahasa Arab di Indonesia memiliki kedudukan dan fungsi yang beragam. Bagi sebagian masyarakat, bahasa Arab diperlukan untuk membaca dan memahami Al-Qur’an serta doa-doa. Bagi kalangan santri dan pengkaji keislaman, bahasa Arab menjadi sarana untuk membaca kitab turats dan menelaah sumber-sumber keilmuan Islam. Bagi mahasiswa dan peneliti, bahasa Arab dapat digunakan untuk mengakses literatur akademik. Sementara itu, bagi sebagian pembelajar lainnya, bahasa Arab dibutuhkan untuk komunikasi, studi lanjut, pekerjaan, atau interaksi lintas negara.
Keragaman kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak dapat dinilai hanya melalui satu ukuran yang berlaku bagi semua peserta didik. Kemampuan membaca teks klasik, misalnya, tidak identik dengan kemampuan berinteraksi secara lisan dalam bahasa Arab kontemporer. Demikian pula, kemampuan memahami teks keagamaan tidak otomatis menunjukkan kemampuan menulis akademik atau melakukan komunikasi profesional.
Perbedaan tujuan tersebut perlu diterjemahkan ke dalam analisis kebutuhan, perumusan capaian pembelajaran, pemilihan materi, dan penyusunan instrumen penilaian. Program yang bertujuan mengembangkan kemampuan komunikasi membutuhkan tugas dan evaluasi yang memberi ruang pada penggunaan bahasa dalam situasi bermakna. Sebaliknya, program yang menekankan pemahaman teks klasik perlu memberi perhatian pada kosakata, struktur, konteks, dan strategi membaca yang relevan dengan jenis teks yang dipelajari.
Dalam konteks pembelajaran berorientasi tugas, Ellis (2003) menjelaskan pentingnya tugas sebagai unsur dalam perancangan pembelajaran bahasa. Perspektif ini relevan ketika tujuan pembelajaran menuntut peserta didik menggunakan bahasa untuk menyelesaikan kegiatan yang memiliki tujuan dan makna. Akan tetapi, pembelajaran berbasis tugas bukan jawaban tunggal bagi semua kebutuhan bahasa Arab. Penerapannya harus disesuaikan dengan tujuan, tingkat kemampuan, karakteristik materi, serta konteks kelembagaan.
Karena itu, pembicaraan tentang kompetensi bahasa Arab masyarakat Indonesia perlu didasarkan pada data yang jelas mengenai kelompok pembelajar, konteks pendidikan, dan jenis kemampuan yang diukur. Tanpa data yang representatif, tidak tepat menyimpulkan bahwa seluruh masyarakat Indonesia memiliki tingkat kompetensi bahasa Arab yang rendah. Yang lebih produktif adalah mengidentifikasi kebutuhan pada kelompok dan konteks tertentu, kemudian merancang upaya peningkatan kompetensi yang sesuai.
Menata Ulang Orientasi: Menghubungkan Teori, Pembelajaran, dan Kompetensi
Pengembangan Pendidikan Bahasa Arab membutuhkan hubungan yang lebih erat antara teori, desain pembelajaran, pelaksanaan pengajaran, dan evaluasi. Teori memiliki fungsi penting untuk menjelaskan proses belajar dan menjadi landasan dalam memilih strategi pembelajaran. Namun, penggunaan teori perlu disertai pertimbangan terhadap konteks peserta didik dan bukti empiris tentang efektivitas penerapannya.
Richards dan Rodgers (2014) membahas berbagai pendekatan dan metode pengajaran bahasa beserta landasan pemikiran dan karakteristik penerapannya. Perspektif ini membantu pendidik memahami bahwa pilihan metode bukan sekadar persoalan mengikuti tren, melainkan keputusan pedagogis yang perlu disesuaikan dengan tujuan, pandangan tentang bahasa dan pembelajaran, peran guru, aktivitas peserta didik, serta kondisi kelas.
Dalam praktiknya, tidak ada satu metode yang secara otomatis paling tepat untuk seluruh konteks Pendidikan Bahasa Arab. Pembelajaran kaidah, pembacaan teks klasik, pengembangan keterampilan menyimak dan berbicara, serta penulisan akademik dapat memerlukan strategi yang berbeda. Bahkan dalam satu program, beberapa pendekatan dapat dipadukan secara terencana selama pemaduannya memiliki alasan pedagogis dan tetap berorientasi pada capaian pembelajaran.
Pengembangan kurikulum, bahan ajar, kegiatan pembelajaran, dan penilaian juga perlu dirancang sebagai satu kesatuan. Long dan Doughty (2009), melalui The Handbook of Language Teaching, menghimpun kajian tentang berbagai aspek pengajaran bahasa yang dapat digunakan untuk memahami kompleksitas perancangan dan pelaksanaan pembelajaran. Rujukan ini berguna sebagai landasan konseptual yang luas, bukan sebagai bukti bahwa satu model tertentu pasti efektif pada semua konteks bahasa Arab.
Atas dasar itu, pengembangan pembelajaran Bahasa Arab perlu dimulai dengan identifikasi kebutuhan peserta didik, dilanjutkan dengan perumusan capaian yang jelas, pemilihan materi dan aktivitas yang relevan, serta penilaian yang benar-benar mengukur capaian tersebut. Hasil penilaian kemudian digunakan untuk memperbaiki rancangan pembelajaran. Dengan pola demikian, teori tidak berhenti sebagai wacana akademik, tetapi berfungsi sebagai dasar pengambilan keputusan pedagogis yang dapat dievaluasi.
Tantangan Strategis: Guru, Kurikulum, Penelitian, dan Lingkungan Bahasa
Tantangan Pendidikan Bahasa Arab tidak hanya terletak pada pemilihan metode. Kualitas pembelajaran juga dipengaruhi oleh kompetensi guru, kesesuaian kurikulum, mutu bahan ajar, sistem penilaian, ketersediaan lingkungan berbahasa, serta dukungan kelembagaan. Karena itu, perbaikan pembelajaran memerlukan pendekatan yang menyeluruh, bukan hanya pergantian metode mengajar.
Pada aspek guru, penguatan kompetensi perlu mencakup penguasaan bahasa Arab, pemahaman pedagogis, kemampuan merancang pembelajaran, keterampilan menilai hasil belajar, dan kemampuan melakukan refleksi berbasis bukti. Pengembangan profesional guru sebaiknya tidak berhenti pada pelatihan yang bersifat seremonial, tetapi dihubungkan dengan pendampingan, praktik pembelajaran, observasi, dan evaluasi hasil.
Pada aspek kurikulum madrasah, kebijakan nasional menjadi salah satu acuan penting. Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 183 Tahun 2019 mengatur Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada Madrasah. Kementerian Agama menjelaskan bahwa kurikulum tersebut mulai digunakan pada tahun pelajaran 2020/2021 dan menyempurnakan sejumlah aspek kurikulum sebelumnya (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2019; Kementerian Agama Republik Indonesia, 2020). Kebijakan ini perlu dibaca sebagai kerangka kurikuler yang menjadi acuan penyelenggaraan pembelajaran PAI dan Bahasa Arab di madrasah, bukan sebagai bukti bahwa seluruh persoalan pembelajaran telah terselesaikan.
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kebijakan kurikulum diterjemahkan ke dalam praktik pembelajaran di satuan pendidikan. Kesesuaian antara capaian kurikulum, kemampuan awal peserta didik, kompetensi guru, ketersediaan bahan ajar, alokasi waktu, dan bentuk penilaian perlu dievaluasi secara berkala. Evaluasi tersebut dapat membantu mengidentifikasi kesenjangan antara tuntutan kurikulum dan kondisi nyata pembelajaran, tanpa terlebih dahulu mengasumsikan bahwa kesenjangan yang sama terjadi pada semua madrasah.
Pada aspek penelitian, perguruan tinggi perlu mendorong agenda riset yang tidak hanya berorientasi pada kebaruan teoretis, tetapi juga pada persoalan yang nyata dan dapat diteliti secara sistematis. Penelitian mengenai kebutuhan pembelajar, efektivitas bahan ajar, pengembangan kompetensi guru, asesmen keterampilan bahasa, serta penggunaan teknologi dalam pembelajaran dapat memberikan kontribusi apabila dirancang dengan metodologi yang memadai dan dievaluasi berdasarkan hasil yang terukur.
Lingkungan bahasa juga memerlukan perhatian. Kesempatan menggunakan bahasa Arab di luar kegiatan pembelajaran formal dapat memperkaya pengalaman belajar, terutama apabila kegiatan tersebut disusun sesuai tujuan dan kemampuan peserta didik. Akan tetapi, penciptaan lingkungan berbahasa perlu mempertimbangkan konteks kelembagaan dan kebutuhan pembelajar; intensitas kegiatan semata tidak menjamin peningkatan kompetensi apabila tidak disertai dukungan, umpan balik, dan evaluasi yang memadai.
Peran Strategis UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Sebagai salah satu perguruan tinggi yang mengembangkan Pendidikan Bahasa Arab, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki peluang untuk memperkuat kontribusinya melalui integrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Peran ini dapat diwujudkan dengan menjadikan kebutuhan nyata pembelajaran sebagai salah satu dasar dalam penentuan agenda penelitian dan pengembangan akademik.
Pertama, program studi dapat memperkuat pemetaan kebutuhan bahasa Arab pada berbagai kelompok pembelajar, seperti siswa madrasah, santri, mahasiswa, guru, dan masyarakat umum. Pemetaan tersebut perlu dilakukan dengan metode yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga hasilnya tidak sekadar berupa kesan atau asumsi. Data yang terkumpul dapat digunakan untuk menentukan prioritas penelitian dan pengembangan pembelajaran.
Kedua, hasil penelitian dosen dan mahasiswa doktoral dapat didorong agar lebih mudah dimanfaatkan oleh lembaga pendidikan. Hal ini dapat dilakukan melalui pengembangan bahan ajar, perangkat asesmen, panduan pembelajaran, pelatihan guru, serta model pendampingan yang diuji dan diperbaiki berdasarkan umpan balik pengguna. Produk akademik tersebut perlu disertai penjelasan tentang sasaran pengguna, tujuan, cara penerapan, dan bukti evaluasinya.
Ketiga, kerja sama dengan madrasah, pesantren, sekolah, perguruan tinggi, dan lembaga pengguna bahasa Arab dapat dikembangkan sebagai ruang kolaborasi penelitian dan praktik. Kemitraan semacam ini memungkinkan persoalan pembelajaran diidentifikasi secara lebih akurat sekaligus memberikan kesempatan untuk menguji apakah solusi yang ditawarkan dapat diterapkan dalam kondisi nyata.
Keempat, pendidikan doktoral dapat memperkuat budaya penelitian yang berkesinambungan. Disertasi tidak seharusnya berhenti sebagai dokumen akademik setelah ujian selesai. Jika relevan dan memungkinkan, temuan penelitian dapat ditindaklanjuti melalui publikasi, pengembangan produk, replikasi pada konteks berbeda, atau evaluasi jangka panjang. Tindak lanjut tersebut akan membantu membedakan antara kontribusi yang baru berupa gagasan dan kontribusi yang telah memperoleh bukti penerapan.
Dengan demikian, posisi strategis UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tidak perlu dibangun melalui klaim sebagai satu-satunya pusat pengembangan Pendidikan Bahasa Arab di Indonesia. Kontribusi yang lebih kuat dapat diwujudkan melalui mutu keilmuan, ketepatan respons terhadap kebutuhan masyarakat, kolaborasi dengan berbagai lembaga, dan kesediaan mengevaluasi dampak secara terbuka.
Agenda Masa Depan: Mengukur Keberhasilan dari Dampaknya
Menata masa depan Pendidikan Bahasa Arab memerlukan ukuran keberhasilan yang lebih lengkap. Jumlah lulusan, publikasi, penelitian, dan kegiatan pengabdian tetap penting sebagai indikator aktivitas dan keluaran akademik. Namun, indikator tersebut perlu dilengkapi dengan bukti tentang pemanfaatan hasil penelitian, perubahan praktik pembelajaran, peningkatan kompetensi peserta didik, serta keberlanjutan kerja sama dengan lembaga pengguna.
Agenda pertama adalah memperjelas hubungan antara kebutuhan, capaian pembelajaran, dan penilaian. Setiap program perlu memastikan bahwa kompetensi yang ditargetkan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan dapat diukur melalui instrumen yang tepat. Jika tujuan program adalah komunikasi, penilaian perlu mengukur kemampuan berkomunikasi. Jika tujuan program adalah membaca teks klasik, penilaian harus mampu menggambarkan kemampuan memahami teks yang relevan. Kerangka deskriptor seperti CEFR dapat membantu perumusan kompetensi tertentu, dengan tetap memperhatikan kebutuhan lokal dan karakteristik pembelajaran bahasa Arab (Council of Europe, 2020).
Agenda kedua adalah memperkuat penelitian yang berbasis kebutuhan dan bukti. Penelitian perlu menjelaskan persoalan yang hendak dipecahkan, dasar teoretis yang digunakan, prosedur pengujian, dan batas keberlakuan temuan. Rekomendasi yang dihasilkan juga perlu dibedakan antara yang telah diuji secara empiris dan yang masih berupa usulan untuk penelitian berikutnya.
Agenda ketiga adalah membangun mekanisme tindak lanjut hasil penelitian. Perguruan tinggi dapat mengembangkan sistem dokumentasi yang memuat hasil penelitian, produk yang dihasilkan, lembaga pengguna, proses implementasi, serta hasil evaluasi. Sistem semacam ini membantu perguruan tinggi melihat bukan hanya apa yang telah diproduksi, tetapi juga apa yang benar-benar dimanfaatkan dan bagian mana yang masih membutuhkan perbaikan.
Agenda keempat adalah memperkuat evaluasi kurikulum dan pengembangan profesional guru. Evaluasi tidak hanya menilai kesesuaian dokumen kurikulum, tetapi juga memeriksa bagaimana kurikulum diterapkan dan bagaimana peserta didik berkembang. Hasil evaluasi tersebut dapat menjadi dasar untuk menyusun pelatihan, memperbaiki bahan ajar, atau menyesuaikan strategi pembelajaran sesuai kebutuhan.
Agenda kelima adalah mengembangkan kolaborasi yang saling menguntungkan. Perguruan tinggi menyediakan dukungan keilmuan dan metodologis, sedangkan lembaga pendidikan dan masyarakat menyampaikan persoalan serta pengalaman nyata. Kolaborasi ini perlu dibangun secara berkelanjutan agar solusi yang dikembangkan tidak berhenti sebagai produk penelitian, melainkan dapat digunakan, dievaluasi, dan diperbaiki.
Ukuran dampak tersebut tidak harus selalu berupa satu angka tunggal. Dampak pendidikan dapat dinilai melalui kombinasi data kuantitatif dan kualitatif, termasuk hasil asesmen kompetensi, observasi pembelajaran, pengalaman guru dan peserta didik, serta bukti pemanfaatan produk penelitian. Yang terpenting, indikator dipilih sesuai tujuan program dan metode pengukurannya dijelaskan secara transparan.
Penutup: Kebanggaan yang Melahirkan Tanggung Jawab
Perjalanan dan capaian Pendidikan Bahasa Arab di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang merupakan bagian penting dari perkembangan keilmuan Pendidikan Bahasa Arab di Indonesia. Capaian tersebut layak diapresiasi, tetapi juga perlu menjadi dasar.





