Peweimalang.com, Kota Malang – Politeknik Negeri Malang (Polinema) terus memperkuat langkah strategis dalam membangun sinergi dengan dunia industri. Sebuah kampus vokasi ternama di Kota Malang ini telah menargetkan setiap program studi, yang kini memiliki 10 mitra industri strategis guna memperkuat konsep link and match antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja.
Direktur Polinema Dr Ir Supriatna Adhisuwignjo, ST, MT, Kamis (21/5), usai Serah Terima Lathe Machine dari Nestle Indonesia Pabrik Kejayan kepada Polinema, di Gedung Prodi Teknik Mesin Polinema, Kota Malang menyebutkan, saat ini Polinema memiliki sebanyak 42 program studi jenjang Diploma 3 (D3) dan Diploma 4 (D4). Dengan jumlah tersebut, kebutuhan kemitraan industri diperkirakan mencapai 120 mitra strategis.
”Jika kita estimasikan, kebutuhan mitra industri Polinema kurang lebih mencapai 120. Targetnya setiap program studi memiliki minimal 10 mitra strategis,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan mitra industri bukan sekadar kerja sama formal, melainkan menjadi bagian penting dalam penguatan kualitas pendidikan vokasi di Polinema. Mitra strategis tersebut nantinya dapat berperan sebagai advisory board yang terlibat langsung dalam penyusunan hingga evaluasi kurikulum. Dan tidak hanya itu, industri juga didorong aktif dalam proses pembelajaran melalui program dosen industri, magang mahasiswa, hingga pengerjaan tugas akhir atau skripsi berbasis kebutuhan nyata di lapangan.

Dunia industri, jelas Supriatna, bisa memberikan perspektif langsung tentang kebutuhan kerja saat ini. Dengan begitu, kurikulum yang disusun Polinema benar-benar relevan dengan kebutuhan industri. Dan pihaknya menilai kolaborasi tersebut menjadi kunci penting dalam menciptakan lulusan yang siap kerja sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi yang bergerak sangat cepat. Beberapa perusahaan besar bahkan telah menjadi mitra strategis lintas program studi di Polinema. Dan Salah satunya adalah Nestlé Indonesia yang dinilai relevan untuk sejumlah program studi teknik, baik D3 maupun D4,” ujarnya.
Bisa saja, lanjut dia, satu industri menjadi mitra strategis bagi beberapa program studi sekaligus, karena kebutuhan kompetensinya saling berkaitan. Sehingga melalui kerja sama ini, Polinema juga membuka ruang besar bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam penyelesaian persoalan di industri. Berbagai proyek dan studi kasus dari perusahaan dapat dibawa ke kampus untuk dijadikan bahan riset maupun tugas akhir mahasiswa. Bahkan, sejumlah mahasiswa Polinema disebut telah berhasil menciptakan inovasi teknologi yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas produksi industri. Salah satunya melalui modifikasi alat dan mesin yang digunakan perusahaan.
Dengan kolaborasi tersebut, Supriatna menegaskan, akan menciptakan hubungan saling menguntungkan antara kampus dan industri. Karena industri mendapatkan solusi dan inovasi baru, sementara mahasiswa memperoleh pengalaman nyata sebelum terjun ke dunia kerja.
Sedangkan, Supriatna menambahkan, ini menjadi bentuk sinergi yang saling menguatkan. Sebab, industri akan berkembang, dan kampus juga berkembang, serta mahasiswa mendapatkan pengalaman yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Saat ini, jumlah lulusan Polinema setiap tahun mencapai sekitar 4.000 mahasiswa.
“Dengan Penguatan kemitraan industri yang terus diperluas, maka Polinema optimistis mampu mencetak lulusan vokasi yang semakin kompetitif dan siap menghadapi kebutuhan industri nasional maupun global,” pungkasnya.(*).





