Ironi Hari Buruh: Wartawan Kawal Buruh, Nasib Sendiri Terlupakan

Ironi Hari Buruh: Wartawan Kawal Buruh, Nasib Sendiri Terlupakan
Ketua PWI Malang Raya. (Redaksi)

Peweimalang.com, Kota Malang – Peringatan Hari Buruh pada 1 Mei selalu diperingati oleh ribuan buruh di seluruh Indonesia. Dan sebagian para buruh selalu menggelar aksi damai serta menyuarakan seperti membawa spanduk tuntutan, orasi lantang, dan harapan akan kesejahteraan yang lebih baik. Namun di balik aksi itu, ada sosok yang setia yang selalu mengawal aksi buruh tersebut, yaitu wartawan. Mereka menjadi jembatan antara suara buruh dan publik luas, tapi dibalik peran itu, tersimpan ironi yang jarang tersorot.

Setiap tahun, kata Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Malang Raya Cahyono, isu Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK) menjadi tajuk utama pemberitaan. Wartawan mengangkat keluhan pekerja, mengawal kebijakan pemerintah, hingga memastikan suara buruh tidak tenggelam. Wartawan hadir di garis depan informasi, menyusun narasi yang menggugah empati publik. Tetapi tak banyak yang menyadari bahwa sebagian dari mereka juga bergulat dengan persoalan serupa yakni upah rendah, jam kerja panjang, status kerja tak menentu, hingga minimnya jaminan sosial.

Bacaan Lainnya

“Secara prinsip wartawan juga pekerja. Dan mereka berhak atas upah layak, jaminan sosial, dan perlindungan kerja seperti buruh di sektor lain,” paparnya

Fenomena ini, masih dia katakan, bukan tanpa sebab. Karena dalam kultur profesinya, wartawan dididik sebagai pengamat dan penyampai suara publik, bukan sebagai pelaku gerakan. Advokasi terhadap diri sendiri kerap dianggap berpotensi mengganggu independensi. Sedangkan di sisi lain, struktur industri media terutama di tingkat lokal masih menghadapi keterbatasan finansial. Hal ini mengakibatkan kesejahteraan wartawan sering kali menjadi variabel yang dikorbankan. Dan belum lagi persoalan status kerja yang tidak selalu formal, dan banyak wartawan bekerja sebagai kontributor atau freelance, tanpa kepastian pendapatan dan perlindungan hukum yang memadai.

“Kondisi ini membuat posisi tawar mereka lemah, bahkan untuk sekedar menuntut hak dasar,” ujarnya.

Sementara, Cahyono juga menyampaikan, di tengah tuntutan profesionalisme dan idealisme, wartawan kerap berada dalam dilema. Mereka dituntut independen, tetapi di saat yang sama dihadapkan pada tekanan ekonomi. Situasi ini, berpotensi mempengaruhi kualitas jurnalisme itu sendiri. Wartawan yang tidak sejahtera lebih rentan terhadap tekanan ekonomi, yang pada akhirnya bisa mengganggu independensi dan integritas pemberitaan. Momentum Hari Buruh seharusnya tidak hanya menjadi panggung perjuangan bagi kaum pekerja di sektor industri, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi insan pers.

“Sebab di balik setiap berita tentang perjuangan buruh, ada wartawan yang diam-diam menyimpan cerita serupa. Namun, mereka tetap menulis, meliput, dan tetap menyuarakan kebenaran, meski suara mereka sendiri belum sepenuhnya terdengar,” tegasnya. (*).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *