Peweimalang.com, Teheran – Intelijen militer China telah memperingatkan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) yang merupakan cabang angkatan bersenjata Iran yang paling kuat, independen dari militer reguler, dan bertujuan melindungi sistem politik Islam di negara tersebut. Sedangkan peringatan intelijen China tersebut terkait ancaman Amerika Serikat untuk meluncurkan operasi amfibi besar-besaran dalam beberapa hari mendatang. Sehingga situasi keamanan di kawasan Teluk Persia berada dalam status siaga tertinggi.
Laporan strategis ini mengindikasikan bahwa pergerakan armada tempur Amerika bukan sekadar gertakan diplomatik, melainkan bagian dari skenario operasional yang matang untuk mengamankan titik-titik krusial di pesisir Iran. Pihak Iran merespons informasi ini dengan segera melakukan koordinasi diplomatik darurat, mengirimkan nota peringatan kepada Turki, Mesir, dan Pakistan guna menegaskan bahwa Washington sedang berupaya mengulur waktu melalui diplomasi sembari menghimpun kekuatan pemukul di perbatasan laut.
Inti dari ancaman ini berpusat pada pergerakan Unit Ekspedisi Marinir (MEU) Amerika Serikat yang saat ini dilaporkan sedang menuju perairan Teluk. Meskipun kelompok amfibi tersebut belum sepenuhnya tiba di lokasi penempatan akhir, pengerahan kapal induk helikopter dan aset pendaratan darat dan laut di bawah skema Operation Epic Fury menandakan pergeseran strategi AS dari sekadar sanksi ekonomi menuju intervensi militer langsung. Analis militer memperkirakan bahwa target utama dari operasi ini kemungkinan besar adalah infrastruktur ekspor energi di Pulau Kharg atau posisi pertahanan strategis di Pulau Qeshm, yang selama ini menjadi kunci kontrol Iran atas Selat Hormuz.
Di sisi lain, Teheran menuduh Amerika Serikat menggunakan taktik Stalling atau menunda pembicaraan damai untuk memberikan ruang bagi armada lautnya mencapai posisi serang optimal. Melalui saluran diplomatik di Islamabad dan Ankara, perwakilan Iran menyatakan bahwa setiap upaya pendaratan pasukan asing di wilayah kedaulatan mereka akan memicu balasan total, termasuk ancaman penutupan permanen jalur navigasi internasional melalui penebaran ranjau laut secara masif. Langkah ini berpotensi memutus pasokan minyak global dan menyeret kekuatan regional lainnya ke dalam konflik terbuka yang lebih luas.(Kempalanews).(*).





